
"Hei!" Chesy kaget, melompat ke samping saking kagetnya. Sudah tidak ada sisa kursi yang dia duduki di bagian samping, membuat tubuhnya terhuyung dan bersiap menghentak lantai. Dia merem menantikan masa sulit itu terjadi, tulang punggungnya pasti retak setelah ini.
Brak!
Eh? Chesy membuka mata.
Kok tidak jatuh? Chesy terkejut melihat wajah Cazim yang hanya berjarak dua centi saja dari hadapannya, bahkan aroma asing menyeruak ke pernapasannya, tak lain aroma badan Cazim.
Ini kenapa badan mereka lengket seperti lem begini? Rupanya Cazim menahan badan Chesy, lelaki itu dengan gerakan cepat menangkap badan Chesy sebelum sempat tubuh mungil itu terhentak ke permukaan lantai.
"Lepasin!" sengit Chesy.
"Kau akan terjatuh jika lepaskan sekarang."
Posisi badan mereka dalam keadaaan miring, Cazim menahan tubuh Chesy dengan posisi yang sulit, dia bahkan menahan tubuhnya sendiri supaya tidak menimpa Chesy dan malah jatuh berdua.
"Ya udah, cepat berdiri. Kamu nggak lihat kita jadi pusat perhatian banyak orang gini?" bisik Chesy kesal.
Dengan satu tangan, Cazim meraih meja untuk berpegangan. Kemudian kakinya berusaha digeser supaya bisa tegak lurus.
Namun belum sempat posisinya benar- benar tegak lurus, kejadian naas itu malah terjadi.
Bruk!
Cazim terjatuh tepat menimpa Chesy.
"Awh! Sakit!" lirih Chesy merasakan kepalanya pusing sesaat setelah kejeduk lantai. Ia membelalak menatap Cazim yang malah diam di tempat. "Hei, bangkit dari situ! Kenapa malah diam aja?" Chesy mendorong dada Cazim kuat- kuat.
Lelaki itu pun bergegas bangkit dari posisinya.
"Akhirnya aku malah jadi jatuh beneran. Kamu nggak perlu tolongin aku, nyatanya aku tetap jatuh gini. Malah tambah sial!" ketus Chesy kemudian kembali duduk ke kursi dan meraih minum.
"Setidaknya bantingan badanmu ke lantai tidak terlalu keras." Cazim melangkah pergi sesaat setelah mengambil botol air mineral. Ia berjalan sambil meneguk minuman itu.
Dih, apa begitu perilaku seorang ustad? Minum sambil jalan. Aneh.
__ADS_1
Chesy melanjutkan makan. Rasa lapar membuatnya tidak ingin meninggalkan meja makan. Isi piring pun ludes.
Setelah kenyang, Chesy pun menuju meja kasir untuk membayar.
"Berapa, Mbak?" tanya Chesy. "Meja nomer 6."
Kasir menatap ke arah meja, kemudian tersenyum dan menjawab, "Sudah dibayar, Kak."
Chesy membelalak kaget. Beraninya Cazim membayar. Pasti dia yang melakukannya. Chesy geram sekali. Seandainya ia dibayarin Sarah, ia pasti merasa senang. Tapi saat dibayarin Cazim, ia malah merasa muak sekali.
"Memangnya berapa semuanya?"
"Empat puluh tujuh ribu termasuk kerupuk dan minumannya," jawab kasir ramah.
"Oh. Makasih." Chesy meninggalkan warung makan.
Sekembalinya ke kamar Yunus, Chesy menemukan Cazim tengah duduk di kursi dengan kepala nyender dan mata terpejam.
Kenapa pria ini masih di sini? Kenapa dia tidak pulang saja? Menyebalkan sekali. Chesy membatin muak menatap wajah di depannya itu. Ingin sekali ia menyambar air panas dan menyiramkannya kepada Cazim. Dadanya panas sekali.
Cazim mengambil uang lima puluh ribuan itu dan menatap dengan alis terangkat. "Apa ini?"
"Aku bayar hutangku ke kamu. Empat puluh tujuh ribu rupiah biaya sarapanku tadi."
"Kelebihan tiga ribu."
"Ambilah sisanya untukmu."
"Aku berhutang tiga ribu."
"Aku heran sama kamu, kenapa masih bertahan di sini? Pulanglah sana! Aku bisa menjaga abi sendiri di sini, tanpa bantuanmu. Kamu yang udah bikin abi seperti ini, jadi jangan berpikir dengan kehadiranmu di sini, maka masalah akan selesai."
"Aku minta maaf. Aku sudah mencelakai abimu, tapi ini murni kecelakaan. Aku tidak sengaja."
"Kalau nggak sengaja, kenapa disaat kejadian, kamu mau kabur?" hardik Chesy.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak berniat mau kabur."
"Halah, ngeles! Aku tahu pikiran busukmu itu!"
Cazim tampak tenang. Sama sekali tidak terpengaruh oleh kemarahan Chesy yang memuncak.
"Ustad gadungan, penipu. Jahat!" geram Chesy.
Cazim bangkit berdiri sambil mengantongi uang lima puluh ribuan itu. Lalu berjalan meninggalkan Chesy.
"Hei, aku belum selesai bicara." Chesy mengikuti Cazim. "Lain kali jangan sok baik sama aku, pakai bayarin makananku segala. aku nggak butuh apa pun darimu."
"Sudah?"
Chesy semakin kesal dengan sikap Cazim yang terlihat santai sekali.
"Pergilah!" pinta Cazim.
"Hei, yang seharusnya pergi itu kamu. Kenapa malah mengusirku?" pekik Chesy semakin marah.
"Aku mau buang air dulu. Tapi kalau kau mau lihat juga tidak apa- apa." Cazim mengangkat alis.
Chesy membelalak saat sadar ia ternyata mengikuti Cazim ke kamar kecil. Ya ampun.
"Iya, aku keluar!" Chesy berteriak saat Cazim menurunkan resleting celananya. Wanita itu menghambur pergi.
"Bisakah kau menutup pintunya saat keluar?" seru Cazim membuat Chesy kembali menghambur ke pintu kamar mandi dan menyentak pintu hingga tertutup.
Suara siulan dari dalam kamar mandi pun terdengar nyaring.
Mengingat tangan Cazim yang menurunkan resleting, Chesy menggelengkan kepala dan mengusap caruk lehernya yang meremang.
Tak lama kemudian, Cazim keluar dari kamar mandi dan meninggalkan kamar.
Semoga dia tidak kembali lagi. Pikir Chesy dalam hati.
__ADS_1
Bersambung