
"Jangannnnn," teriak Revalina sambil menutup dada dengan kedua tangannya.
Sontak Rival dan perias itu terkejut mendengar teriakkan Revalina.
Sementara itu Revalina mendadak sadar jika ia menjadi aneh dengan berteriak seperti tadi.
"Maaf, sepertinya aku bisa buka gaun sendiri. Permisi," pamit Revalina bergegas menuju ke kamar mandi.
Tak menghiraukan panjangnya gaun, ia terus masuk ke dalam kamar mandi menarik gaunnya masuk ke dalam.
"Emhh susah sekali, menyesal aku pakai gaun seribet ini," gerutu Revalina sembari menarik sisa pada ujung gaun.
Brakkkk.
Ia menutup pintu tak bermaksud membanting namun suara pintu tertutup itu seakan seperti suara pintu terbanting.
Beruntung di dalam kamar mandi sudah ada baju tidur, entah siapa yang menyiapkan. Kini ia mulai melepas gaunnya seorang diri, melalui kesulitan meraih resleting di punggungnya seorang diri lalu melepas pun seorang diri.
"Kak Reva, gimana bisa?" tanya perias tepat di balik pintu kamar mandi.
"Bisa Kak," jawab Revalina.
Tak ingin meninggalkan perias itu lama-lama berdua di kamar dengan Rival, ia pun bergegas keluar sambil mengangkat gaun yang sudah ia lipat.
"Klekk," pintu terbuka, Revalina keluar dengan tubuh miring mengangkat gaun yang dipakainya tadi.
"Ya ampun Kak, nggak perlu diangkat begitu aku bisa ambil sendiri," ucap perias itu langsung mengambil alih gaun.
"Nggak papa," sahut Revalina.
Di pandanginya dari ujung ke ujung ia tak lagi melihat batang hidung Rival, hal ini tentu memantik perasaannya yang merasa Rival telah tersinggung dengan teriakannya tadi lalu memilih pergi.
"Ya sudah, mari aku bantu lepas jilbab sama make up nya," ucap perias.
Tak menjawab sepatah katapun Revalina memasang mode pasrah, selama perias itu menghapus make up, melepas lilitan jilbab ia hanya melamun memikirkan Rival.
"Kasihan dia sampai keluar dari kamar, ini semua karena kesalahan ku. Bodoh sekali sudah tahu habis menikah malah teriak, harusnya tadi aku nggak usah teriak langsung saja masuk kamar mandi," gerutu Revalina lirih.
__ADS_1
"Kenapa Kak?" tanya Perias dengan santainya masih sibuk melepas satu persatu jarum pentul di jilbab Revalina.
Dua bola mata terbelalak, terkejut tak sadar jika di belakangnya ada orang sedangkan mulut dengan mudahnya menggerutu tentang tabu seperti ini.
"Hehe.. nggak papa Kak, masih kaget tadi nggak sadar kalo ternyata sudah nikah jadi ngerasa bersalah saja sudah teriak-teriak tadi," jawab Revalina sambil terkekeh.
"Sudah biasa drama pengantin baru seperti itu, aku sudah mengalami hal seperti ini berkali-kali. Tapi ya baru kali ini saja lihat pengantin baru sampai teriak," sahut perias sambil menatap mata Revalina lewat kaca rias.
Mendengar hal itu Revalina semakin malu, malu akan kebodohannya yang sudah melampaui batas. Tapi jika dipikir-pikir ulang dirinya tak sepenuhnya salah, selain tak pernah melakukan sesuatu di luar batas aturan agama ia juga tak mencintai Rival.
Setelah selesai bersih-bersih, perias itu berpamitan pulang padanya menenteng satu kotak rias dan satu tas keramat berundur pergi dari kamarnya.
Tak lama Rival datang dengan mengenakan kaos dan celana joger berwarna abu-abu, entah kapan dan dimana dia berganti baju.
"Sudah selesai?" tanya Rival sambil menyenderkan tubuhnya ke ujung pintu.
"Sudah," jawab Revalina.
"Boleh aku masuk?" tanya Rival kembali sambi menaikkan sebelah alisnya.
Revalina reflek menelan salivanya. "Boleh, ini kan kamarmu juga."
Setelah mendengar persetujuan darinya lantas Rival melenggang masuk, menggerakkan tungkainya dengan perlahan mendekatinya yang tengah berdiri di ujung ranjang.
"Pak," panggil Revalina dengan nada ketakutan, takut dirinya akan disergap sekarang.
"Aishh, masih saja kau memanggilku dengan sebutan Pak," gerutu Rival mendadak kesal.
Kekesalan Rival lantas membuat Revalina kebingungan. "Lah biasanya juga begitu kamu tidak pernah protes."
"Beda lah, sekarang kita sudah menikah. Mana ada istri manggil suaminya dengan seformal itu, lagi pula aku kan tidak tua-tua juga," jelas Rival.
"Terus, mau mu aku harus panggil apa?" tanya Revalina dengan nada malas.
"Terserah, yang penting bukan Pak," jawab Rival melenggang pergi menuju ke sisi kiri ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana.
"Kenapa dia jadi yang pms, bilang terserah. Harusnya kasih kejelasan bukannya terserah-terserah, lama-lama aku panggil Mang Rival biar tahu rasa," gerutu Revalina lirih.
__ADS_1
Sepanjang hari itu Revalina memilih menonton televisi sembari sesekali memainkan ponselnya, ia tengah menunggu aba-aba dari Akram.
Kedua matanya kini memang tengah menyaksikan acara televisi namun pikirannya melayang jauh memikirkan perasaan Akram yang pastinya sedih menghadiri pernikahannya, pasti dia terus terbayang-bayang Rajani sampai-sampai tak menghampirinya hanya untuk sekedar memberi ucapan selamat dan doa.
"Reva," panggil Rival dari ranjang yang ada tepat dibelakang sofa kecil itu.
Revalina langsung menoleh ke belakang.
"Kamu nggak tidur?" tanya Rival terkejut melihat Revalina masih duduk di sofa.
"Aku nggak ngantuk," jawab Revalina.
"Paksa merem nanti juga tidur-tidur sendiri, acara pesta nanti itu berakhir tengah malam jangan sampai kau ketiduran pas acara," tegur Rival masih dengan ekspresi wajah yang sama.
"Tenang saja, aku sudah biasa begadang," sahut Revalina dengan santainya.
Padahal ia sudah mengantuk sejak tadi hanya saja tertahan karena menunggu aba-aba dari Akram ditambah enggan tertidur di sofa, ia takut membuat Rival tersinggung.
Tiba saatnya sholat ashar, nampak Rival sudah menggelar sajadahnya di depan Revalina. Sedetik netranya terpaku melihat ketampanan Rival ketika memakai kemeja putih dan untuk pertama kalinya Revalina sembahyang di imami oleh suami. Rasa canggung, deg degan, bingung jadi satu namun ketika berlangsung hatinya mendadak tenang dan tentram. Tak pernah dalam hidup ia merasakan sedamai ini dalam hatinya. Tak terasa kedua sudut bibir mulai melukis senyum indah di taqiyat akhir.
"Assalamualaikum warahmatullaah, assalamualaikum warahmatullaah," ucap salam Rival menoleh ke kanan dan ke kiri diikuti Revalina.
Tiba-tiba Rival menyodorkan punggung tangannya ke arah Revalina, kali ini hanya sedetik Revalina menarik nafas mengumpulkan keberaniannya lalu tanpa menunjukkan rasa ragu ia langsung mencium punggung tangan Rival.
Terasa belaian lembut tangan Rival menyentuh kepalanya. Berapa detik ia terbuai akan indahnya pernikahan, menepikan semua masalah yang ada di kepalanya tentang berbagai dugaan kuat menjurus pada Rival.
Sembahyang sore itu di akhiri dengan doa yang dipimpin Rival, lalu di amini dengan sepenuh hati oleh Revalina.
"Amin-amin ya rabbal Alaamin," ucap Revalina sambil mengusap wajahnya.
Tiba usapan itu turun dari mata, betapa terkejutnya ia melihat posisi Rival berubah duduk menghadapnya sembari tersenyum.
"Kenapa kaget begitu?" tanya Rival terkekeh.
"Gimana nggak kaget, kamu tiba-tiba menghadap ku," jawab Revalina.
Rival kembali terkekeh.
__ADS_1
"Kamu bahagia hari ini?" tanya Rival menatap Revalina dengan tatapan sangat dalam.
Bersambung