Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Kejujuran


__ADS_3

Cazim mengangkat foto yang terpajang di meja.  Foto Chesy bersama dengan tiga anak-anaknya.


Mana mungkin Cazim salah lihat.  Apa lagi ia mengenal postur tubuh Chesy.  Jelas itu adalah istrinya.


Cazim menyambar cadar di wajah Chesy, wajah cantik itu pun langsung terlihat jelas.


Tangan CAzim yang memegangi cadar pun tampak gemetar.  Lalu cadar terjatuh ke lantai.


Chesy melihat dengan jelas tangan pria itu bergetar.


Setelah sekian lama Cazim tidak menemukan istrinya, kini ia menemukan istrinya kembali.  Sulit menjelaskan dengan kata-kata bagaimana perasaannya saat ini.  Antara haru, marah, juga bingung.  Kenapa Chesy tidak mau menemuinya? Kenapa Chesy malah bersembunyi darinya dengan menyembunyikan wajah menggunakan cadar?  Masih banyak pertanyaan lain yang membuatnya bingung.


“Kau keluarlah!  Tunggu aku di mobil!” titah cazim pada anak buahnya.


“Siap, Ndan!” Polisi itu melangkah keluar.


Cazim masih menatap mata Chesy.  “Katakan padaku, kenapa kau menghindariku?”

__ADS_1


Tis!


Air mata Chesy menetes.  Bukan jawaban yang dia sampaikan, malah deraian air mata.  


“Tujuh tahun luka yang aku simpan udah tertutup.  Tujuh tahun aku berusaha bangkit.  Tujuh tahun aku terseok sendirian.  Kenapa kamu datang kembali untuk membuka luka yang udah tertutup?” lirih Chesy.


“Jadi, kau menganggap aku ini sebagai pembuka lama?”  Wajah Cazim langsung kecewa.  “Apa kau sudah punya suami?”


Chesy menggeleng.  “Sejak terakhir kali kita bertemu, sejak itu pula ku hidup sendirian.”


“Karena itu yang kamu mau kan?  kamu meminta supaya aku menyerah dengan keadaan ini.  Kamu meminta supaya aku pergi dari kehidupanmu, kamu yang anggap bahwa kamu nggak pantas untukku.  Lalu kenapa aku harus bertahan jika kamu yang aku pertahankan aja menyerah?  Haruskah aku bertahan sendirian?” kesal Chesy.


Cazim melepas napa.  Kini ia mengerti, memang ia tidak pantas untuk Chesy.  Bahkan ia juga yang meminta Chesy supaya meninggalkannya.  Lalu kenapa ia malah mempertanyakan hal itu?  ia merasa sangat bodoh sekali.  Sadar bahwa ia tidak pantas dan selalu membuat masalah di hidup Chesy, tapi kenapa masih berharap Chesy akan kembali menerimanya?  Bukankah dulu ia sudah mengatakan supaya Chesy meninggalkannya saja bila merasa tidak kuat?  Mungkin Chesy benar-benar sudah tidak kuat.


“Ya, aku mengerti.  Seharusnya aku tidak tanyakan itu padamu,” jawab Cazim.  Menyesal sudah menaruh harapan.  Ia merasa begok sekali.


“Asal kamu tahu, di sini aku merasa seperti berharap sendirian.  Jika harapan untuk hidup bersama hanya sebelah saja, lalu untuk apa aku terus mengharap padamu?  Kamu aja menyerah, bagaimana denganku?  Aku nggak mau menghabiskan waktu sia- sia hanya berharap pada sesuatu yang nggak tau endingnya.  Sementara aku udah tahu di awal bahwa kamu menyerah.”

__ADS_1


Cazim menatap wajah cantik itu masih sama seperti yang dulu, tetap cantik.  Menawan.    Tapi tatapannya berbeda.  ada setumpuk rasa lelah.


“Aku takut, saat aku memiliki harapan tinggi terhadapmu, saat aku sudah jungkir balik di tengah kesendirianku, ujung- ujungnya malah harapanku ini nggak terwujud.  Baiklah, aku udah tahu bahwa kamu menyerah, maka aku lebih baik mengalah pada keadaan.  Aku terima hidup sendiri.”  Chesy mengusap air matanya dengan punggung tangan.


“Katakanlah aku bodoh.  Aku pesimis.  Aku mundur sebelum bertarung.  Aku beranggapan bahwa aku sangat, sangat dan sangat tidak pantas untukmu.  Aku ingin kau bahagia tanpa lelaki sepertiku.”


“Tahukah kamu?  Justru perkataan itu yang melukaiku.  Justru itu yang menyakitkan bagiku.  Satu-satunya orang yang aku harapkan, malah menyerah dan memintaku pergi jauh.  Tapi nggak apa- apa.  Aku berusaha tegar kalau memang itu maumu.  Aku akan hidup sendiri.”


Cazim mengusap wajahnya, bingung.  Hatinya sangat ingin kembali hidup bersama dengan anak istrinya.  Tapi apakah ia masih pantas?  


Baiklah, lupakan perasaan bodoh itu.  singkirkan rasa bersalah pada diri sendiri.  ia harus membangun keyakinan dan kekuatan bahwa kasih sayang Tuhan jauh lebih kuat dari segalanya.  Untuk apa ia merasa kejam pada istrinya jika sang istri justru mengharapkan dirinya?


“Chesy, aku mungkin tidak pantas mengatakan ini, tapi aku harus mengatakannya.  Apakah kau mau memulai semuanya dari awal bersamaku?  Apakah kau masih mau hidup bersamaku?  Kita bangun keluarga ini bersama- sama lagi.”  Cazim menatap intens mata Chesy.


Bersambung


Agak bingunh sama NT, review nya luamaaaa banget. Update beberapa bab, tapi yg lolos review cuma 1 bab. 😂😂 Ada unsur hot juga enggak, unsur kekerazan pun enggak. So, kenapa cuma 1 bab yg lolos? 😪😪

__ADS_1


__ADS_2