
Joseph langsung menghentikan langkah kakinya, berbalik badan ke arah Revalina sembari mendengus kesal.
"Kenapa lagi?" tanya Joseph.
"Apa nggak lebih baik kita ambil saja dari pada nanti malam kita terlambat meeting gara-gara kejauhan," ujar Revalina memberi saran.
"Supaya nggak terlambat itu bisa diatur, tapi kalau connecting room itu nggak bisa diatur lagi," jelas Joseph.
"Aku nggak akan masuk ke kamar Bapak, nggak akan aku sentuh itu pintu connecting," ucap Revalina sembari meringis kesal.
"Aku pun sama, tapi orang lain apa percaya itu. Bisa-bisa aku digebuk Pak Rafa kalau tahu kita pesan kamar seperti itu," sahut Joseph.
Perdebatan mereka seperti tiada akhir, Revalina makin malu di lihat banyak karyawan di hotel itu. Alhasil ia hanya bisa mengikuti kemana Joseph pergi mencari hotel baru.
Selama dalam perjalanan Joseph tak berhenti scroll pada salah satu aplikasi booking hotel, saat itu juga Revalina berbalik kesal padanya.
'Dia yang pesan tiket pesawat, dia yang lupa booking hotel. Coba dari kemarin booking pasti sekarang nggak akan begini," gerutu Revalina dalam hati.
"Nah, aku sudah berhasil booking hotel dua kamar tanpa ada connecting," ujar Joseph perlahan menurunkan ponsel dari kedua matanya.
"Jauh nggak Pak?" Tanya Revalina khawatir.
"Enggak, cuma beberapa menit dari sini," jawab Joseph dengan santai.
Joseph langsung memberi petunjuk pada drivernya, mengarahkan ke arah hotel yang jadi tujuannya.
"Tapi nggak sebagus hotel yang tadi, gimana Reva?" tanya Joseph batu menanyakan hal ini pada Revalina.
"Nggak papa Pak yang terpenting cepat dapat dan nggak jauh tengah kota," jawab Revalina.
Tak lama mereka tiba di hotel yang sudah di booking Rival, terlihat bangunan hotel tersebut masih baru namun beda kelas dengan hotel tadi. Tak masalah bagi Revalina, baginya ini sudah lebih dari cukup.
Hari pertama meeting berjalan lancar teman bisnis Joseph mau menandatanganinya kontrak kerja sama antar dua perusahaan. Lalu esok harinya mereka diajak melihat proyek pembangunan mall dan perumahan elit milik perusahaan tersebut.
Pagi itu di mulai dari pembangunan perumahan elit, Revalina masih bersemangat mencatat hal-hal penting yang Joseph dan seorang ajudan teman bisnisnya tengah berbicara.
"Pak, jangan masuk-masuk ke dalam ya aku takut," ucap Revalina lirih pada Joseph.
"Kenapa takut, kita sudah pakai topi pengaman?" tanya balik Joseph.
"Cuma topi, badan enggak ada pengaman," jawab Revalina dengan nada kesal.
"Ah payah," ledek Joseph melenggang masuk ke dalam perumahan tersebut.
"Ya Tuhan," keluh Revalina terpaksa ikut masuk ke dalam.
Banyak yang Joseph tanyakan pada seorang ajudan dan mandor pembangunan perumahan elit itu, dengan cepat Revalina mencatat semua jawaban dari mereka.
Dua hati menjalankan tugas di luar kota akhirnya Revalina pulang dengan membawa keberhasilan, membawa kabat baik untuk Rafa yang sudah menunggu-nunggu hasil baik ini.
__ADS_1
Ketika sudah kembali, Revalina tak langsung kembali ke rumah mertuanya melainkan kembali ke rumah Uminya. Sejak keberangkatannya keluar kota Rival jadi kembali bersikap dingin dengannya meski sesekali menanyakan kabar dan tak lupa menanyakan keberadaan Joseph.
Bertepatan hari libur, Rafa berada di rumah namun masih sibuk dengan pekerjaan kantor yang tiada habisnya sementara itu Chesy tengah mengambilkan kue dan es sirup untuknya.
"Jadi kalian pas cek ke lapangan nggak sama CEO dari perusahaan itu?" tanya Rafa pada Revalina namun kedua matanya terus tertuju pada layar laptop.
"Enggak Kak, tapi sama ajudannya," jawab Revalina dengan sejujur-jujurnya.
"Ya sudahlah, yang terbentuk Joseph sudah setuju ya berarti itu yang terbaik aku percaya dengannya," ucap Rafa pasrah.
Seketika tatapan Revalina mendadak berubah pada Rafa, ia tak suka dengan kalimat tersebut yang hanya tertuju pada Joseph saja.
"Yee, padahal aku juga ikut kerja," singgung Revalina dengan nada kesal.
"Hey ada apa ini, kenapa marah begitu?" tanya Chesy datang membawakan kue cookies dan es sirup untuk Revalina.
Revalina pun langsung menerima kue dan es itu dengan senyum bahagia, ia sangat merindukan kue ini sejak lama beruntung hari ini langsung ke rumah Chesy.
"Itu Mi, Kak Rafa selalu puji Pak Joseph padahal aku juga bekerja bukan cuma Pak Joseph saja," ucap Revalina mulai mengadu pada Chesy.
"Rafaaaaa," panggil Chesy menatap dengan kedua bola matanya yang perlahan membesar.
"Iya-iya, anak kesayangan Umi juga hebat top mantap ia the best," ucap Rafa dengan terpaksa.
Terpaksa atau tidak tak jadi masalah bagi Revalina, ia tetap senang mendengar pujian itu keluar dari mulut Kakaknya sendiri.
"Nah begitu kek dari tadi," ucap Revalina sembari tersenyum-senyum.
"Kamu kalau di rumah seperti Kakak mu atau enggak Re?" tanya Chesy menatap Revalina.
"Enggak Mi, mana bisa aku bawa pulang kerjaan ku. Tapi kemarin-kemarin aku itu lembur sampai malam untuk ada Pak Joseph kalau nggak ada pasti aku sudah pingsan," jawab Revalina berujung curhat.
"Haaaa," Chesy menarik nafas secara mendadak, Ahok mendengar ucapan putri bungsunya.
"Kenapa begitu, ada yang yang jahat di kantor?" tanya Chesy mulai panik.
Tak hanya Chesy yang panik, Rafa pun ikut panik langsung meletakkan semua yang ada di tangannya, menaikkan atensinya sembari terus memandangi Revalina dengan seksama.
"Setan Mi, ada setan di kantor," jawab Revalina kembali ketakutan mengingat kejadian malam itu.
Seketika raut wajah Chesy dan Rafa berubah dari yang semula panik kini jadi malas, parahnya Rafa langsung pergi membawa laptop dan berkas-berkas milihnya.
"Hah, aku sudah serius-serius kau malah bercanda," gerutu Rafa kesal.
Pandangan mata Revalina langsung tertuju pada Rafa yang kini menuju kamar, memandangi punggung lebar Rafa.
"Aku juga serius ini malah ditinggal pergi," gerutu Revalina balik.
"Kamu duluan sih, lagian mana ada setan Reva kamu ini ada-ada saja," ucap Chesy sembari mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Kali ini Revalina cukup terkejut mendengar ucapan Chesy yang seakan sekubu dengan Rafa karena biasanya selalu berada di pihaknya.
"Ih, tumben Umi bela Kak Rafa. Biasanya juga bela aku," gerutu Revalina kesal.
"Hihihihi," kikih Chesy.
"Kalau untuk urusan setan, Umi nggak mau bela kamu," ujar Chesy dengan nada meledek.
"Hihh," Revalina mendengus kesal.
Hari itu Revalina sangat lama sekali mengunjungi rumah Chesy, sampai lagi-lagi ketika matahari perlahan tenggelam Chesy mulai memintanya untuk segera pulang.
"Sudah petang Reva, cepat pulang kasihan suamimu pasti sudah menunggu sejak tadi," perintah Chesy.
"Istri macam apa main terus, harusnya kalau sudah jadi istri itu di rumah jagain suami," ucap Rafa ikut-ikutan menegur Revalina.
Revalina masih menatap keduanya, dengan bibir maju lima centimeter menunjukkan kekesalan pada mereka yang selalu menegurnya ketika terlalu lama di sini.
"Santai saja, Mas Rival saja belum mengunjungi ku," sahut Revalina masih dengan bibir cemberut.
"Santai katanya Mi," ucap Rafa mengadu pada Chesy sembari menunjuk muka Revalina.
Seketika sorot mata elang Revalina tertuju pada Rafa yang begitu menyebalkan hari ini, sepetinya bukan hari ini saja melainkan setiap hari.
"Nggak boleh begitu Reva, jangan cuek jadi istri. Kalau istri terus-menerus cuek yang ada suami nanti cari lagi di luar yang lebih cantik dan penurut," tegur Chesy menatap serius.
Mendengar teguran Chesy kali ini terasa mengena di hati, apa yang dikatakan ada benarnya dan sudah terbukti sebagian besar pemicu keretakan rumah tangga adalah ekonomi dan sikap pasangan.
Kali ini rumah tangganya tengah diuji dengan sikap pasangan tak terkecuali dirinya sendiri belum bisa bersikap baik terhadap suami.
Ucapan Chesy terus Revalina pikirkan tanpa henti, hingga pada akhirnya setelah melaksanakan sholat Maghrib bersama Revalina langsung pulang ke rumah membawa mobilnya yang sudah diambil Rafa dari kantor.
Selama dalam perjalanan Revalina masih terus memikirkan ucapan Chesy, rasanya malam ini ia tak akan bisa tidur nyenyak hanya karena terngiang-ngiang teguran itu.
"Gimana kalau apa yang dikatakan Umi itu sudah terjadi, secara Mas Rival akhir-akhir ini memang sangat jarang menghubungi ku," ucap Revalina mulai gusar.
Tiba di rumah terlihat tak ada seseorang pun di luar maupun dalam rumah, Revalina terus melenggang masuk sembari menarik kopernya.
"Assalamualaikum," ucap salam Revalina sembari terus melangkah masuk ke dalam rumah.
Tak ada sahutan, rumah begitu sunyi, tak ada orang tapi herannya pintu rumah tak dikunci.
"Kalau nggak ada orang di rumah kenapa pintu nggak dikunci, ceroboh sekali," gumam Revalina kebingungan.
Gubrakkkkk.
Tiba-tiba terdengar suara seperti benda jatuh begitu keras dari arah belakang.
Seketika netra Revalina tertuju ke arah belakang, memandangi area dapur dari tempat berdirinya sekarang.
__ADS_1
Bersambung