
Di koridor panjang itu, dari jauh Chesy melihat Senja tengah menenangkan Fatih. Senja jongkok di hadapan Fatih, sedangkan lelaki tua itu duduk di kursi.
Setelah harapan Fatih yang patah karena ternyata tidak mendapatkan menantu idamannya, bahkan ia merasa tidak dianggap karena Cazim diam-diam menikah, sekarang muncul kesedihan baru, Cazim sebagai anak yang dia besarkan telah menjadi mafia. Ini pasti menjadi masalah paling besar yang membuatnya terpukul.
Berbagai kata-kata diucapkan oleh Senja untuk menjelaskan masalah yang ada, namun Fatih tampak tak peduli. Ia hanya peduli pada kesediahnnya. Hingga akhirnya pria itu pergi meninggalkan Senja dengan raut sedih.
Chesy setengah berlari menghampiri Senja yang tengah mengawasi kepergian Fatih dengan tatapan iba.
“Senja, ayah nggak mau mendengar penjelasanmu ya?” tanya Chesy.
“Om Fatih juga marah sama aku. Katanya, aku ikut-ikutan menyembunyikan masalah ini darinya. Ya bagaimana mungkin aku mengatakan ke Om Fatih kalau Cazim itu terlibat skandal besar? Aku nggak tegalah. Ini udah terlanjur makanya aku juga ikutan ngomong.” Senja melepas napas berat.
“Kasian ayah. Pasti terpukul bertubi-tubi msalah datang di satu waktu, jadinya dia syok.”
“Nah, itu dia masalahnya. Kalau aja masalahnya datangnya tuh satu- satu kan nggak bikin Om Fatih stres.”
Lah, ini kenapa Chesy jadi berbagi curhatan begini dengan Senja? Sebenarnya Senja itu orangnya baik, tapi kadang-kadang nyebelin.
“Chesy, kamu mau kemana?” tanya Senja yang melihat Chesy melangkah hendak pergi.
“Aku mau menemui papanya Mas Cazim, Pak Diatma.”
“Kemana menemuinya? Pak Diatma itu kan orang besar, akan sulit menemuinya.”
“Mas Cazim menyuruhku pergi ke kantornya. Dia menyebutkan nama perusahaan itu tadi.”
“Emangnya kamu tahu dimana kantornya?” tanya Senja.
__ADS_1
“Gampanglah nyarinya. Tinggal naik taksi dan suruh supir taksinya menuju ke kantor itu.”
“Mendingan aku antar aja. Aku tahu persis alamat kantornya. Pasti akan lebih cepat sampai ke sana. Aku udah beberapa kali ke kantor itu,” ajak Senja.
Chesy menatap Senja penuh tanya. Apakah Senja bisa dipercaya? Mendadak dia kelihatan baik dan bersedia berteman dengannya. Eh, bukankah sejak awal Senja itu memang bukan orang jahat? Hanya saja dia menyimpan rasa pada Cazim, dan wanita itu memiliki harapan pada suaminya. Itu saja yang membuat Senja jadi kelihatan menyebalkan.
“Kamu yakin mau antarin aku ke kantornya Pak Diatma?” Chesy menegaskan.
“Aku kan nawarin tadi. Ini serius. Aku kan bawa mobil.”
“Jangan nurunin aku di tengah jalan, atau malah menyerahkan aku ke pria hidung belang ya! Aku nggak tau situasi di kota ini dan aku bakalan kebingungan kalau diapa-apain.”
“Ck ck ck… negatif thinking banget ya? Ayo!” Senja melangkah duluan menuju ke parkiran.
Chesy benar-benar diantar oleh Senja ke sebuah kantor yang namanya sama seperti yang disebutkan oleh Cazim. Semoga saja misinya kali ini berhasil.
Sebenarnya Chesy turun sendirian dari mobil, tapi Senja mengikutinya. Tidak mengapa, ia pun merasa terbantu atas keberadaan Senja.
“Permisi! Apakah Pak diatma ada?” tanya Chesy.
“Ada, Kak. Ada perlu apa? Apakah ingin bertemu?”
“Ya.”
“Sudah membuat janji?” tanya resepsionis.
“Belum. Bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengannya? Ada pesan penting yang harus aku sampaikan kepadanya, dari putra kandungnya.”
__ADS_1
“Silakan bikin catatan di note ini, Kak. Nanti akan saya sampaikan kepada beliau melalui sekretarisnya. Jangan lupa tinggalkan nomer hp ya, kak!” resepsionis menyerahkan selembar kertas kecil.
“Kalau aku bikin catatatn gini, kira-kira berapa lama aku bisa bertemu dengannya?”
“Tergantung situasinya, Kak. Bisa dua hari, tiga hari atau seminggu. Bahkan kalau beliau tidak bisa menemui, maka kakak bisa bikin jadwal ualng. Atau mungkin kalau pesan yang kakak tinggalkan tidak begitu penting, maka beliau pun akan menolak untuk bertemu.”
Ya ampun, sesulit ini menemui orang penting. Andai saja Diatma tahu bahwa orang yang akan menemuinya adalah Cazim, pasti pria itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Sepertinya percuma kita nemuin Pak Diatma di kantornya. Ini akan sulit sekali. Peraturannya ketat banget,” bisik Senja.
“Ya, aku juga berpikir begitu. Apa aku perlu menyusup aja ya untuk masuk dan menemui Pak diatma?”
“Kita juga nggak tahu posisi persis ruangannya dimana. Jangan sampai malah ketangkap dan gagal.”
“Atau… kita bikin keributan aja di sini. Pasti keributan akan sampai ke telinga Pak Diatma, kita curi perhatian darinya.”
“Keributan nggak akan bisa mengambil perhatian bos besar. Palingan malah Cuma ditangani satpam dan manager di sini. Setelah itu, habis kita.”
“Jadi apa idemu?” Chesy mulai kehilangan akal. Rupanya Senja bisa juga diajak berteman.
Senja tampak berpikir. “Mmm… kita tunggu di sini aja sampai Pak Diatma keluar. Barulah kita samperin dia.”
“Kamu pikir Pak Diatma bakalan menanggapi kita ketika kita nyamperin dia? Dia pasti punya pengawal kan? Atau dia pasti akan meminta supaya pengawalnya mengurus kita.”
“Jadi bagaimana? Kamu punya ide brilian?”
“Ahaaa… Ikut aku!” Chesy menarik lengan Senja keluar gedung.
__ADS_1
Bersambung