Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Berbeda


__ADS_3

Setelah melewati perdebatan cukup panjang, akhirnya Rival luluh dengan sendirinya, justru kini menggerakkan kakinya dengan cepat menuju ke lobi rumah sakit.


Di saat yang bersamaan, Yakub datang tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah sakit, langkahnya terhenti ketika melihat Revalina dan Rival berjalan ke arah berlawanan.


"Reva," panggil Yakub sembari memberi kode melalui matanya.


Dengan cepat Revalina memberi kode balik, meminta Yakub untuk diam dan bergegas pulang bersama mereka.


"Mama gimana Kak?" tanya Rival khawatir namun terlihat tenang.


Kini justru Yakub terlihat gugup, tak kunjung menjawab pertanyaan Rival.


"Mama shock, sekarang lagi sama Sarah di rumah ku," jawab Yakub.


"Ya sudah, besok pagi saja aku kesana nunggu Mama tenang dulu," ujar Rival.


Malam itu mereka bergegas pulang. Sesampainya di rumah semua masuk ke dalam kamar masing-masing tanpa melakukan sesi perbincangan seperti biasanya.


'Mungkin mereka sedang lelah, semoga besok semua kembali seperti semula,' ucap Revalina dalam hati.


Semenjak pulang dari rumah sakit, Revalina tak bisa tidur memikirkan ucapan Dalsa yang terus terngiang-ngiang di kepalanya. 


Semalaman ia hanya membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, merasa bosan dengan waktu malam yang tak kunjung usai. Di lain sisi ia juga kesal dengan matanya yang enggan terpejam seperti Rival sekarang yang agaknya sudah masuk ke dalam mimpi terindahnya.


'Ya Tuhan aku mau tidur, besok aku harus beberes rumah sendirian mana aku harus kerja,' ucap Revalina dalam hati berdoa.


****


Keesokan harinya, tak sadar Revalina terbangun dari tidur yang entah di mulai sejak kapan, karena seingatnya semalam ia masih mengukuhkan dirinya yang tak kunjung tertidur juga.


Muaachhh.


Satu kecupan secara mengejutkan mendarat tepat di kening Revalina.


"Selamat pagi," ucap Rival dengan posisi terbaring miring menatap Revalina.


Dengan satu tangan menyangga kepala, wajah Rival tepat di atasnya sembari terus menatap tanpa henti. Di tatak dengan sedekat ini membuat Revalina jadi malu dan salah tingkah.


"Selamat pagi," sahut Revalina sembari tersenyum-senyum.


"Pagi ini nggak usah kerjain kerjaan rumah karena aku sudah panggil asisten rumah tangga harian, kalau perlu aku minta dia buat jadi asisten rumah tangga tetap," ujar Rival.


Mendengar hal itu sontak kedua mata Revalina terbelalak, terkejut dengan ucapan Rival yang tak ia sangka-sangka akan dia ucapkan.


"Mas, kamu serius?" tanya Revalina dengan kedua mata membesar.


"Serius," jawab Rival mengangguk tipis.


Seketika senyum bahagia terpancar dari kedua sudut bibirnya, sungguh perhatian Rival kali ini membuatnya sangat bahagia.


"Terimakasih ya Mas," ucap Revalina langsung memeluk erat pinggang Rival.


"Sama-sama," sahut Rival membalas pelukan Revalina.


Tak lama pelukan itu pun berakhir, namun keduanya masih terlibat saling pandang.


"Tapi kamu nggak perlu buat cari asisten rumah tangga buat jangka waktu lama, aku senang dengan pekerjaan rumah kalau lagi repot saja panggil jasa mereka," ujar Revalina.


"Terserah kamu, apapun yang membuatmu senang aku juga senang," sahut Rival.


Setelah melaksanakan solat subuh dan siap dengan baju kantor dan tas jinjingnya keluar dari kamar.


Keluarnya ia dari kamar langsung disambut dengan hidangan makan pagi yang sudah tersedia di atas meja.


"Selamat sarapan Non," ucap Bibi.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Revalina tersenyum lebar memandangi seluruh makanan yang ada di atas meja.


"Sama-sama Non," sahut Bibi.


Grekkkkk.


Perlahan Revalina memundurkan kursinya, terduduk di sana dengan bersamaan Rival dan Yakub datang.


"Wah pagi-pagi sudah ada makanan di meja," puji Yakub.


"Memang sebelumnya enggak Kak?" tanya Rival dengan senyum meledek.


"Husttt," desis Yakub dengan kode satu jari telunjuk menutupi mulutnya.


"Aku adukan juga nih sama Mbak Sarah," celetuk Revalina dengan nada mengancam.


Seketika raut wajah Yakub Mendadak berubah pucat pasi mendengar celetukan Revalina.


"Wah istrimu nantang," ucap Yakub pada Rival.


Beberapa saat kemudian setelah selesai menyantap sarapan pagi bersama mereka bertiga bergegas pergi ke masing-masing tempat, Yakub pergi ke kantornya sementara Rival dan Revalina yang berada dalam satu mobil juga bergegas ke kantor peninggalan almarhum Ayahnya.


Dalam perjalanan menuju ke kantor menembus embun pagi yang ditemani sinar matahari yang mulai menyapa, Revalina dan Rival menghabiskan waktu dengan santai dengan melibatkan perbincangan ringan.


"Kamu nggak keberatan kan kalau aku antar jemput?" tanya Rival sembari melirik Revalina.


Mendengar hal itu tanpa sadar kedua bola matanya berputar seakan telah malas dengan pertanyaan yang sejak tadi terus di ulang-ulang.


"Enggak Mas," jawab Revalina dengan senyum terpaksa 


Bukan tanpa sebab dan bukan karena benar-benar terpaksa namun ia sudah lelah menjawab kalimat yang sama sejak tadi.


"Nanti 15 menit sebelum pulang kamu hubungi aku dulu ya," ucap Rival.


Pagi itu setelah Revalina diturunkan tepat di depan kantor, Rival bergegas pergi memutar arahnya menuju ke rumah Yakub yang jadi tempat tinggal Candini.


"Aku bersyukur punya suami yang nggak lupa dengan kewajiban dan baktinya dengan orang tua terlepas dari apapun itu," ucap Revalina lirih.


"Heh," panggil Rafa tiba-tiba sudah ada di hadapannya dengan jarak beberapa meter saja tengah menaiki anak tangga depan.


"Tumben kamu berangkat sepagi ini," singgung Rafa dengan nada meledek.


"Kan biasanya aku juga berangkat pagi, kenapa pakai bilang tumben sih," sahut Revalina kesal.


Ia langsung membalikkan tubuhnya, bergegas berjalan masuk ke dalam kantor lalu tak lama diikuti Rafa dari belakang.


"Di bilang tumben bisa nggak terima begitu padahal memang kenyataannya baru sekali ini saja kau bisa berangkat pagi," ledek Rafa secara terang-terangan.


"Enak saja, orang meeting beberapa hari yang lalu aku berangkat pagi," elak Revalina tak terima namanya di jelekan.


Setibanya di lantai 5, tak di sangka-sangka ia akan mendapatkan kalimat ledekan kembali dari mulut pimpinannya.


"Revalina, ya Tuhan kaget aku ternyata yang keluar dari lift itu kamu," ucap Joseph berjalan mendekati Revalina.


Langkah terburu-buru Revalina demi menghindar dari Rafa kini terpaksa terhenti lemas saat mendengar kalimat Joseph yang menjurus ke hal yang sama seperti yang Rafa katakan padanya.


"Jangan bilang kalau Pak Joseph terkejut saya berangkat pagi," ucap Revalina menunjuk Joseph dengan jarinya yang di bawah dada.


"Iya, aku terkejut karena kamu berangkat pagi," sahut Joseph pelan sembari melirik kesana kemari.


Mendengar hal itu sontak membuat Revalina terperangah, meski kenyataannya benar begitu namun kalimat itu terlalu menyakiti hari-harinya kemarin.


"Kenapa pada bilang begitu ih," Revalina bertanya-tanya dengan nada kesal.


Kesal dengan hal itu, Revalina bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya membiarkan Joseph dan Rafa di sana berdua.

__ADS_1


"Sepetinya mereka sudah sekongkol niat mengerjai aku," ucap Revalina mosi menduga-duga yang tidak-tidak.


****


POV Candini


Di pagi hari yang cerah namun tak secerah senyum di kedua sudut bibir Candini yang hilang ditelan bumi, tubuhnya masih lemes tak mampu tergerak meski banyak kalimat positif.


"Mama, aku sudah masakan sup buat Mama pasti Mama suk," ucap Sarah  dengan pembawaan diri yang cerianya masuk ke dalam kamar Candini.


Nampak satu nampan berisi mangkuk dan dua gelas berjejer di atas sana dengan entah apa isinya.


"Repot-repot sekali kamu masak, Mama lagi nggak mau makan," ucap Candini lirih lemas.


"Tuh Mama, sudah tahu begini jangan buat aku jadi semakin khawatir kalau Mama kenapa-kenapa gimana," gerutu Sarah sedikit kesal.


"Makan ya, sedikit-sedikit bagus makan supaya bisa sehat dan bisa besuk Dalsa lagi," ujar Sarah membujuk Candini dengan cara apapun.


"Ini juga Mama masih fit, sudahlah aku bisa makan nanti, sekarang aku benar-benar masih belum selera," jelas Candini dengan jelas


Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika pada setiap ia membuka matanya untuk yang pertama kali dengan berbagai kabar baru yang begitu pun dengan Candini yang memilih bungkam dan berbicara tak sepenuhnya.


"Biarkan Mama istirahat ya, nanti aku kabari lagi," ujar Candini menatap Sarah dengan tatapan yang cukup tajam.


Perlahan Candini mulai menarik selimutnya kembali, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Namun seakan masih begitu terpukul dengan dengan kabar Dalsa semalam, akhirnya Candini bertekad untuk mendatanginya hari ini.


Berbagai usaha ia berusaha untuk mendapatkan izin dari Sarah yang dengan telaten dan sabar mengurus dia yang di Landa shock berat  semalaman. Pikiran Candini hanya tertuju oada Dalsa. Hatinya hancur mengenang kondisi anak kesayangannya.


"Mama mohon Sarah, Mama ingin ketemu Dalsa, izinkan mama pergi. Jangan dilarang ya," ucap Candini dengan tatapan sedih.


"Aku nggak bisa kasih izin Ma, aku takut Yakub sama Rival marah kalau tiba-tiba dia kesini tapi Mama nggak ada dan ada di jalan itu," ujar Sarah meluapkan semua ketakutannya. 


"Bayangkan saja jadi seorang Ibu dengan salah satu anaknya yang tertimpa musibah, masa buat kasih izin saja harus minta persetujuan seorang, Ibu yang mengharap secercah harapan kebebasan untuk sang putri tercinta."


Brummmm


Terdengar suara mobil itu  terhenti di depan rumah, seketika suasana dalam kamar langsung hening.


"Siapa Sarah?" tanya Candini penasaran.


"Mungkin Yakub Ma, tapi ini jam berapa kok belum berangkat kerja," jawab Sarah dengan ragu.


"Aku ke depan dulu Ma," pamit Sarah bergegas keluar dari kamar Candini menuju ke depan untuk menyambut orang yang datang pagi ini.


Sendiri lagi di dalam kamar, Candini hanya memandangi langit-langit kamar sembari membayangkan masa-masa indah dengan keluarga kecilnya dulu sebelum Revalina hadir merusak semuanya.


"Andai dulu aku nggak jodohkan Rival dengan Revalina apa mungkin kejadian hari ini nggak akan pernah ada, atau malah justru sebaiknya lebih parah lagi," gumam Candini.


Tak lama sosok yang datang itu mulai digiring Sarah menuju ke kamar, tak disangka Rival yang datang membawa satu paper bag cantik meletakkannya di atas ranjang tepat di dekat Candini.


"Aku bawakan hadiah untuk Mama," ujar Rival dengan cerianya.


"Terimakasih," sahut Candini tersenyum tipis memandangi papar bag itu.


"Cepat pulih lagi Ma, jangan sering-sering drop begini aku jadi khawatir," ucap Rival sembari membelai lembut punggung tangan Candini.


"Kamu khawatir?" tanya Candini sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Iya Ma," jawab Rival.


"Kalau khawatir harusnya tahu apa yang harus kamu lakukan," singgung Candini dengan nada ketus.


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2