Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Es Krim


__ADS_3

Bagaimana kalau si kecil yang sudah lama kedinginan itu semakin kedinginan?  


Cazim menatap bocah kecil yang memegangi kerupuk es krim warna pink.  Bocah kecil dengan jilbab putih itu mendongak.  


Cazim hampir saja menarik hidung dan menjewer telinga anak itu, namun melihat mata bocah yang bulat, pipinya yang gemil, dan tatapannya yang polos membuat kekesalannya tertahan.  Bocah itu terlalu menggemaskan untuk disakiti.


“Lain kali hati-hati kalau jalan!” tegur Cazim menahan kesal.  Bagaimana caranya ia akan membersihkan es krim yang membasahi pangkal pahanya itu.  dasar anak kecil!  Merepotkan saja.


“Om, mau es krim?” bujuk bocah itu, berharap rayuannya tidak akan membuat lelaki yang dia tabrak itu bersahabat.  Jangan sampai marah.


Cazim menatap kerupuk es krim yang sudah peot dengan sisa es krim yang hanya sedikit di ujungnya. Ia kembali menatap gigi bocah itu yang dua bagian depannya menghitam.  Pasti kebanyakan makan permen dan manisan.    Bagaimana orang tuanya menjaga gigi bocah itu hingga sampai jadi seperti gatot begini?


“Tidak,” jawab Cazim.  “Siapa namamu?”


“Rajani.”


“Celana Om kotor, apa yang bisa kamu lakukan untuk mempertanggung jawabkan semua ini?”  Alis Cazim terangkat. Ia ingin tahu seberapa besar usaha anak kecil untuk menunjukkan sikap tanggung jawab.


Muka bocah itu ketakutan mendengar nada bicara Cazim. Sebenarnya Cazim tidak menunjukkan sikap marah, hanya saja, bocah itu terkesan takut karena sadar sudah melakukan kesalahan.


Tiba-tiba bocah itu kabur.


“Hei!”  Cazim menatap kepergian bocah yang langsung membaur dengan anak- anak seragam biru kotak-kotak hingga ia tidak lagi bisa memastikan keberadaan Rajani diantara anak-anak lain yang memakai seragam yang sama.


Cazim melanjutkan langkah di teras, niatnya hendak ke kamar kecil untuk membersihkan celana.  

__ADS_1


Tapi…


Bruk!


Ini untuk kedua kalinya Cazim tertabrak.  Es krim cokelat mengenai celana bagian pahanya.  Dan ia melihat bocah cilik dengan tatapan membulat sempurna.


Anak ini lagi?  Bagaimana mungkin dalam waktu singkat, anak kecil itu bisa dua kali menabraknya membawa es krim yang berbeda?


“Kau?”  Cazim menatap heran pada bocah itu.


“Aha haaaa… Celana Om polisi kotor. Weeek…”  Anak itu langsung lari secepat kilat.  


Dan lihatlah, bocah itu malah meledek.  Benar-benar keterlaluan.  Cazim ingin marah, namun tidak mungkin ia memarahi anak kecil.  Sudahlah, ia hanya bisa berharap semoga gigi hitam anak itu akan segera copot.


Cazim memasuki kamar kecil.


“Revalina, Rajani, ayo sini!”  Wanita berhijab putih itu melambaikan tangan pada anak- anak yang tengah bermain di taman.  Dua bocah berseragam biru kotak- kotak berlari mendekati ibunya.  


“Umi!” Rajani dan Revalina serentak memanggil ibunya.  Mereka memiliki wajah yang serupa alias kembar.


“Rafa mana?” tanya wanita cantik itu dengan senyum, tak lain Chesy Caliana.


“Rafa tadi jemput tas katanya,” jawab Revalina yang cenderung ceria dan banyak bicara. Sedangkan Rajani tampak lebih banyak diam.


Sejurus pandangan kemudian menoleh ke arah anak lain yang berlari mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


“Itu Rafa!” tunjuk Revalina pada anak yang memiliki paras wajah sangat mirip dengan dua bocah kembar itu.


“Rafa, Revalina dan Rajani, kita pulang sekarang ya!  Maaf umi telat menjemput kalian,” ucap Chesy menatap tiga anak-anaknya.  


“Iya, Umi.”  


Tiga bocah kembar itu mengikuti Chesy.  Saling sikut saat tidak sengaja bersenggolan.  Revalina dan Rafa memang selalu berantem.  Apa lagi Revalina tidak mau mengalah, selalu bar-bar.  Mau menang sendiri.  Padahal mereka terlahir dari ibu yang sama di waktu yang hanya berjarak beberapa menit saja, tapi tetap saja sering berantem.


Sedangkan Rajani lebih suka menyendiri.  Ia juga akan mengalah dan diam saat terkena tonjok atau kakinya tanpa sengaja tersandung kaki yang lainnya.  Sedangkan Revalina, pasti akan mengamuk saat hal yang sama menimpanya.


“Masuk ke mobil!” pinta Chesy menunjuk pintu mobil yang sudah dibuka.


“Revalina duluan!”  Revalina menarik tas punggung Rafa yang sudah duluan menginjak lantai mobil.


“Lepasin!  Jangan tarik!”  Rafa tidak mau kalah.


“Rafa, minggir!”


“Lepas!”  Rafa menyentah lengan Revalina hingga bocah itu tersungkur ke belakang.


“Subhanallah…”  Chesy hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan anak- anaknya.  Ia tidak mau merepet seperti kain sobek setiap kali melihat anak- anaknya berantem begini.  paling ia hanya diam dan membiarkan saja.  Sebab ia sudah terlalu sering mengomel dan tidak digubris oleh mereka semua.  


Chesy membantu Revalina bangun dan menyruhnya masuk ke mobil.  Disusul oleh Rajani.  Setelah memastikan tiga anaknya duduk di dalam mobil, barulah Chesy masuk dan mengemudikannya.


Tidak sampai di situ saja pertengkaran antara Revalina dan Rafa, mereka yang duduk bersisian itu masih saja ribut mempersoalkan kejadian tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2