Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Melihat Tato


__ADS_3

“Abi, tato di badan Mas Cazim itu bisa dibuktikan dengan melihatnya secara langsung, jadi abi bisa buktikan apakah aku berbohong atau enggak.” Chesy meyakinkan.


“Baiklah, abi mengerti keresahanmu.  Kita akan lihat nanti.”  Yunus menghela napas.  Kemudian ia berteriak memanggil,   “Bik Parti!”


Wanita paruh baya tergopoh mendatangi majikannya.


“Panggil Cazim kemari!”


“Baik, Ndoro!”  Bik Parti berlalu pergi.


Tak lama kemudian Cazim muncul. Pria itu mengenakan celana panjang dan kemeja warna cokelat. Rambutnya sangat rapi mengenakan minyak. Sungguh tampan. Sayangnya Chesy tidak melihat ketampanan itu.


"Loh, sudah rapi? Mau kemana?" tanya Yunus.


"Mau ketemu sama teman. Ada teman yang mau ajak kerja sama."


"Kerja sama dalam bidang apa?" tanya Yunus.


"Buka website dan chanel untuk tausiah, keuntungannya kan bisa untuk banyak manfaat."


"Oh.. bagus itu! Bagus sekali! Apa harus sekarang?"


"Ya, orangnya sudah menunggu."

__ADS_1


"Suruh saja orangnya kemari. Ketemu di sini. Abi juga senang kalau bisa mengenal orang- orang yang kamu kenal. Kita ini kan satu keluarga. Chesy juga pastinya senang kalau mengenal orang- orang terdekatmu."


Cazim memutar mata. "Baiklah. Akan aku coba hubungi dia dan memintanya kemari."


Chesy dapat membaca wajah Cazim, sepertinya pria itu sedang menyembunyikan sesuatu.


Cazim sedikit menjauh untuk menelepon, dia entah berbicara apa via telepon. Kemudian dia menyudahi telepon dan kembali pada Yunus. 


"Ternyata orangnya tidak bisa kemari. Dia harus mengurus kerjaan lain dulu," ucap Cazim.


"Oh, ya sudah. Tidak masalah. Kalau begitu kamu ajak Chesy berenang sana! Chesy mau berenang sama kamu. Abi mau lihat kalian bersenang- senang." Yunus menatap kolam renang yang hanya berjarak lima meter dari tempat duduknya.


Chesy langsung mengerti maksud ayahnya. Yunus sedang ingin menguji Cazim, tentunya untuk melihat tato di tubuh Cazim. 


Cazim menatap Chesy. "Kau mau berenang denganku?"


Chesy menatap Cazim tajam, ia masih ingat perlakuan Cazim pagi tadi saat menghardiknya. "Aku mau ganti baju dulu."


Chesy berlari masuk ke dalam rumah. Ia mengganti pakaiannya menjadi pakaian renang yang tentunya semuanya tetap tertutup dan mengenakan hijab, hanya saja agak ketat, warnanya hitam.


"Kamu mau kemana?" tanya Yunus melihat Cazim hendak pergi. "Itu Chesy sudah datang."


"Aku mau ganti baju dulu, abi."

__ADS_1


"Tidak usah. Pakai celana dalaman kan? Ya sudah pakai itu saja."


Cazim tidak bisa menolak. Ia menoleh ke arah Chesy yang berdiri di sisi kolam renang mengenakan pakaian renang warna serba hitam. Ia dapat melihat postur dan lekukan tubuh istrinya. 


"Istrimu seperti bidadari kan?" ucap Cazim sambil tersenyum saat menyadari Cazim menatap Chesy beberapa detik tanpa mengalihkan pandangan.


"Ya sudah, aku berenang sekarang." Cazim melepas celananya, menyisakan celana pendek selutut. Kemudian ia melepas kemeja. 


Chesy menunggu momen dimana tato itu terlihat. Namun ternyata Cazim mengenakan lapisan kaos di dalamnya. Ya ampun.


"Cazim, lepaskan kaosmu itu! Jangan berenang pakai kaos. Kamu tidak akan leluasa berenang pakai kaos."


"Tidak apa apa, abi. Aku pakai kaos saja."


"Abi kan mau lihat kalian berenang, masak pakai kaos. Kan bukan aurat yang diperlihatkan saat kau melepas kaos. Tidak apa- apa, lepas saja. Chesy pasti akan semakin senang saat lihat kamu berenang tanpa kaos. Ini supaya menimbulkan keromantisan dan keharmonisan. Abi ingin lihat kemistri itu. Ayo, lepas!"


Mendengar perintah yang kedengarannya tidak bisa dielak lagi, Cazim pun terpaksa melepas kaos putih yang tersisa.


Chesy menunggu momen abinya akan mihat tato di badan Cazim. 


Satu dua tiga...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2