Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Jangan Mati


__ADS_3

Senja diam di posisi yang masih berpaling.


"Tidak perlu marah. Situasi yang terjadi benar- benar membuat siapa pun bila di situasi aku maka akan melakukan hal yang sama," celetuk Cazim.


"Kamu baru aja bilang cinta sama aku," lirih Senja tanpa membalikkan badan.


"Ada yang salah dengan itu?"


"Tentu salah. Kamu bilang cinta sama aku dan kamu malah marah- marah terus sama aku. Kamu bentak aku." Senja balik badan, kemudian bangkit duduk. Wajahnya sembab, basah oleh genangan air mata yang terus merembes.


Cazim mengusap wajah kasar. Ia jadi bingung sekarang. Bahkan sampai Senja menangis begini, pikiran Cazim malah terpecah belah. Ia sednag mencemaskan kondisi Chesy sekarang. Apa kabar istrinya itu?


"Lupakan!" Cazim menuruni bed hendak pergi.


"Apanya yang nesti dilupakan."


"Bukan saatnya membahas itu," tegas Caizm datar. Entah kemana tatapan hangat seperti yang tadi ditunjukkan oleh Cazim. Kini tatapan itu dingin.


"Lalu? Apa yang harus dibahas? Chesy? Kamu mengkhawatirkan keselamatannya bukan?"


"Dia istriku."


"Kemana saja kamu selama ini? Bukankah itu yang aku katakan padamu tapi kamu nggak gubris. Kamu malah terus mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Kamu bikin aku hanyut. Dan tiba- tiba kamu sibuk mengurus Chesy, membentak aku, memarahiku seolah aku ini sampah. Kamu sama sekali nggak peduli sama perasaanku." Senja menangis sesenggukan.


Kenapa serumit ini berurusan dengan wanita?

__ADS_1


Melihat Senja yang terbawa perasaan begitu, Cazim jadi pusing sekali. Kepalanya makin berdenyut. Ia mendekati Senja, berdiri menghadap gadis itu. Dia menapakkan kedua telapak tangannya ke sisi kiri dan kanan bed di paha Senja, kepalanya maju dan setengah menunduk hingga membuat Senja memundurkan kepala.


Senja terpaku menatap wajah tampan di dekatnya. Dia benar- benar berkharisma. Sosok lelaki yang sudah sejak dulu dia kagumi dan dia cintai secara diam- diam, lalu kini berada sangat dekat dengannya. Cazim sangat memikat.


Tadinya Senja canggung dan merasa segan pada Chesy saat Cazim mengungkapkan perasaan di depan Chesy, tapi perasaan canggung itu kini memudar. berganti dengan harapan baru.


"Lalu aku harus bagaimana?" Cazim menatap tajam. Intonasi Suaranya tegas dan menggigit.


"Cazim, kamu seharusnya jaga perasaanku. Jangan marah- marah."


"Baik, aku tidak marah. Sudah?" Cazim datar sekali. Sejak dulu Cazim merasa terpesona pada Senja, gadis yang telah lama menjadi teman dan terus mendampinginya dalam segala hal. Sudah banyak hal yang mereka lalui bersama, termasuk bersembunyi di hutan saat dikejar musuh.


Cazim mengagumi Senja sebagai wanita yang setia dan tulus. selalu menemai Cazim meski dalam keadaan bahaya sekalipun.


Dan kini, saat ia kembali bertemu dengan Senja, ia tak mau menyia- nyiakan kesempatan itu. Memilih untuk cepat mengungkapkan perasaannya pada Senja, yang sayangnya bertepatan dengan kejadian tragis yang membuat situasi berubah.


"Aku harus menemui Chesy." Cazim balik badan.


"Bahkan kamu terus- terusan malah perhatikan Chesy yang katamu nggak kamu cintai. Jika begini, lebih baik sejak awal kamu tidak perlu bilang kalau kamu itu cinta sama aku," kesal Senja.


Cazim berhenti dan menoleh dengan ekspresi merah padam. "Berhentilah bicara tentang kebodohan di situasi genting begini! Chesy sedang menentang maut lalu apakah kau masih bisa memikirkan hal lain?" Cazim berlalu pergi meninggalkan Senja yang terdiam mematung.


Dengan langkah lebar, Cazim menuju ke UGD. Entah kenapa pikirannya kini hanya tertuju pada Chesy, bahkan ia sampai tidak mempedulikan Senja yang awalnya menjadi prioritas baginya, tapi kini diabaikan begitu saja. Isi pikirannya hanya tertuju pada Chesy.


Ia masih ingat dengan jelas bagaimana tangan Chesy melambai untuk menggapai udara ketika mobil terjatuh ke jurang. Ia juga ingat Chesy berjuang merayap naik di tebing itu. Juga saat kepala Chesy lemas berada di pangkuan Cazim dengan wajah memucat. Wanita itu tak bergerak nyaris seperti mayat. Disitulah rasa takut menjerat benak Cazim. Bagaimana bila ia memangku mayat Chesy? Semua itu membekas di ingatannya seperti karat yang tak mau lepas. Bagaimana kalau Chesy sampai mati?

__ADS_1


Dan tidak. Hatinya tidak rela Chesy meninggalkannya begitu saja. Ada apa ini?


"Dok, istri saya bagaimana?" tanya Cazim pada dokter yang baru saja keluar dari UGD.


Dokter menjelaskan tentang kondisi Chesy yang butuh penanganan lebih lanjut. Ada luka serius di kaki dan lehernya yang sempat membentur benda dengan keras.


Cazim langsung frustasi mendadak. Berharap ada kabar baik dari dokter, malah begini penjelasan yang dia dengar.


Cazim bergegas memasuki kamar.


Chesy yang baru saja membuka mata itu dan baru sadar kalau ia berada di rumah sakit itu pun cepat- cepat menutup mata ketika melihat Cazim datang.


Lihat saja bagaimana lelaki itu menanggapi kondisi Chesy sekarang? Chesy ingin tahu seberapa peduli Cazim terhadapnya setelah kejadian itu.


Bersambung


Terima kasih untuk nama akun :


Ravaniezka


Relove


Zahra Tanjung


Kalian sudah mendapat titel fans silver di cerita ini karena udah setia memberikan hadiah untuk cerita ini. Luar biasah. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2