Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Akibat Jujur


__ADS_3

Tdak bisa dipungkiri, ada sesuatu yang bergelenyar dalam diri Cazim.  Dan itu sangat mengganggu.  Sial sekali!  Disaat genting begini pun sesuatu itu berani- beraninya muncul dengan entengnya. 


Bagaimna tidak?  Posisi Cazim saat ini sangat mendukung.  bibir lembut Chesy yang dingin bertaut dengannya.  Tak peduli ada mertuanya yang menyaksikan, ini demi memberikan sebuah pertolongan.


“Uhuk uhuk…!”  Chesy terbatuk sembari memuntahkan air cukup banyak.  


Yunus tampak lega.


Cazim menopang caruk leher Chesy dengan lengan kekarnya.  


Sejenak Chesy menatap wajah yang ada di dekatnya itu.  apa yang sudah dilakukan pria ini terhadapnya?


Cazim mengangkat alisnya menatap Chesy yang seperti orang ling lung.  “Kau sudah selamat.  Kau meminum banyak air tadi.”


Cazim membantu Chesy duduk.    “Sebaiknya kau cepat tukar baju dan beristirahatlah di kamar!”


“Ayo ayo, bantu Chesy!” pinta Yunus cemas.


Cazim pun meraih lengan Chesy dan membantu wanita itu bangkit berdiri.  Entah kenapa tubuh Chesy terasa lema dan kepalanya pusing sekali, ia terhuyung ke samping, membuat Yunus berteriak bersamaan dengan tangan Cazim yang cekatan menyambar lengan Chesy supaya tidak tumbang.


“Ayo, kubantu!”  Cazim terus memegangi lengan itu sambil berjalan.


“Aku bisa sendiri!”  Chesy menyentak lengannya hingga terlepas dari pegangan Cazim.  Namun baru tiga langkah saja, tubuhnya kembali terhuyung hendak jatuh ke arah kolam renang.  Sudah condong ke arah kolam dan tiba- tiba tubuhnya kembali ditarik oleh Cazim, menubruk badan keras lelaki itu.  Dan ia pasrah ketika tubuhnya digendong oleh Cazim, lengannya pun berpegangan pada pundak pria itu.


“Lebih baik kau menurut saja dari pada terus- terusan membuatku repot!” ucap Cazim datar.

__ADS_1


Chesy tidak membalas.  Kepalanya pusing sekali hingga ia tidak mood untuk menjawabnya.


Sesampainya di kamar, Cazim menurunkan badan Chesy ke kasur.


“Apa perlu kubantu ganti baju?”  Cazim menyentuh baju Chesy di bagian pundak.


Chesy menampik tangan pria itu.  “Panggilin Bik Parti!”


Cazim menyambar handuk, memelorotkan celananya dan mengganti dengan celana pendek lain.  Lalu menyambar sehelai kaos dan mengenakannya sambil berjalan keluar.


Tak lama kemudian Bik Parti menyembul masuk kamar.


“Ada apa, Non?  Kata Den Cazim, saya dipanggil sama Non.”


“Siap, Non.”  Bik Parti mengeluarkan baju gamis untuk Chesy.  “Tumbenan mau berenang segala, Non?”


“Nggak apa- apa.  Biar sehat.  Sekali- kalilah.  Handuknya sini, Bik!”  Chesy menjulurkan tangan, meminta handuk.


“Ini Non.”  Bi Parti menyerahkan handuk.


Chesy masuk ke akmar mandi, tak lama kemudian keluar sudah dalam keadaan tubuh yang dililit handuk.  Ia lalu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Bi Parti.


“Non kenapa tadi bisa sampai pingsan di kolam renang?  Bukannya sudah lihai berenang, Non?” tanya Bik Parti sambil mengelap rambut Chesy yang basah dengan cara menguyek- uyek kepala itu menggunakan handuk.


“Bibik lihat?”

__ADS_1


“Iya, saya ngintip dari dapur.”


“Nggak tau tuh si Cazim sembarangan aja narik- narik celanaku.”  Chesy ingat pria itu menarik celananya hingga melorot, membuat pinggulnya kelihatan sampai agak ke bawah.  Ia marah sekali waktu itu.


Bik Parti malah terkekeh.


“Bik, jangan ngeledek ya!” kesal Chesy sambil menyikut Bi Parti kuat- kuat. 


Yang disikut langsung membungkam mulut dengan tangan. “Namanya juga suami, pengantin baru lagi.  Dimana aja kalau bisa narik- narik celana istri, Non.”


“Bik, jangan mulai deh.”


“Memang kenyataannya begitu.  Suami bibik juga dulu juga begitu pas jadi pengantin baru.  Dimana- mana demen.”


“Suami Chesy yang ini beda dari suami- suami yang lainnya, Bik.”


“Jadi gara- gara ditarik- tarik celananya, Non pingsan gitu?”  Bik parti kepo.


“Ya aku marahlah.  Terus aku tendang dia, eh malah kami berkelahi.  Terus enggak tau gimana, soalnya aku pingsan.”


“Uwaalaaah… sayang sekali Non nggak merasakan pas adegan Den Cazim tadi mencium Non di kolam renang, di depan Ndoro Yunus lagi.”


Chesy membelalak kaget.  Ia menoleh dan menatap Bi Parti.  “Dicium?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2