
"Kamu nggak salah minta aku kerjakan skripsimu?" tanya Rival masih terkejut sekaligus tak mengangka.
"Enggak," jawab Revalina dengan entengnya.
"Huh," Rival menghembuskan nafas berat sembari menyingkirkan laptop dari hadapannya.
"Re, skripsi itu adalah tanggung jawabmu sebagai seorang mahasiswa," jelas Rival.
Seketika bibir Revalina manyun 5 cm, kesal dengan ekspektasi yang enggan berjalan mulus justru harus menghadapi penolakan seperti ini.
"Ayolah Pak, kali ini saja bantu aku lanjutkan skripsi ini," bujuk Revalina sambil menarik-narik lengan baju Rival.
"Aku bilangin Umi nih," Rival menunjuk tangan Revalina yang masih menarik-narik lengan nya.
Mendengar nama Uminya, Revalina langsung menurunkan tangannya dan terdiam.
'Bisa-bisanya dia mau mengadu ke Umi,' gerutu Revalina dalam hati.
"Aku juga bisa bilangin ke Umi kalau kamu nggak mau bantu aku buat skripsi," serang Revalina dengan percaya diri.
Namun Rival justru lebih percaya diri lagi membusungkan dada serta mendongakkan kepala, seolah lebih yakin dengan anggapan nya.
"Aku percaya Umi pasti nggak suka kalau kamu suruh aku kerjain skripsi," ucap Rival.
"Justru Umi suka, kalau skripsiku cepat selesai," Revalina terus mengelak ucapan Rival.
"Terserahlah, yang jelas aku nggak mau kerjain skripsimu," Rival kekeh dengan pendiriannya.
"Yah, kalau skiripsi ku nggak selesai aku bisa nggak lulus dan kalau aku nggak lulus sudah pasti pernikahan batal," singgung Revalina ke arah sana, masih berharap Rival mau membantunya.
Raut wajah Rival langsung berubah, yang semula tegap dan tegas kini terdiam murung tanpa kata. Sepertinya kini pikirannya mulai berkecamuk.
"Aku cuma kasihan sama Umi, dia effort sekali mengurus pernikahan kita. Aku pikir hari ini kamu bisa bantu aku kerjakan skripsi setelah itu lanjut pilih-pilih desain kartu undangan," singgung Revalina memasang wajah sedih.
Tak cukup hanya sekali menghantam mental Rival, Revalina kembali menghantamnya lagi. Semua ini demi kelangsungan skripsi.
"Ya sudah, sini mana yang harus aku kerjakan?" tanya Rival menarik kembali laptop milih Revalina ke hadapannya.
Terkejut, tak disangka akan semudah itu membujuk sang Dosen Idola banyak mahasiswa. Dengan cepat Revalina menunjukkan bagian pada ujung kesalahan dalam penulisan skripsinya tak hanya itu ia bergegas meraih lembar demi lembar skripsi yang ada di atas meja.
__ADS_1
Tak menyangka setelah berdebat cukup panjang, ternyata pernikahan jadi satu-satunya yang membuat pendirian Rival goyah sebagai seorang Dosen.
"Ini ada yang salah dan ini juga salah lebih parah, satu lagi paling ujung itu perlu dijelaskan secara rinci," ujar Revalina menunjuk lembar-lembar revisian yang habis kena coret.
"Ini dalam satu bab saja kesalahan hampir 80% ya, sebenernya kamu Iki niat menyusun skripsi atau enggak," singgung Rival balik sambil memperhatikan lembar demi lembar revisian.
Mendengar singgungan Rival, rasanya ingin menimpuk nya dengan vas bunga yang ada di hadapannya sekarang.
Singgungan itu serasa seperti menuduhnya malas-malasan dalam mengerjakan skripsi, padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga bahkan hampir gila.
"Untung aku bukan Dosen pembimbing mu, pasti aku akan menyerah punya anak mahasiswa sepertimu," gerutu Rival kesal.
"Untung aku bukan mahasiswa bimbinganmu, pasti aku akan menyerah punya Dosen pembimbing sepertimu," Revalina menimpal balik gerutuan Rival.
Rival terperangah. "Benar-benar kau ya."
Meski begitu Rival dengan baik hati mau mengerjakan skripsi Revalina. Dengan wajah tegangnya menatap layar laptop perlahan netranya beralih ke lembar-lembar revisian skripsi, jarinya mulai mengolak-alik lembar itu.
Sementara itu Revalina mulai jenuh menunggu skripsinya selesai, akhirnya ia mencari kesibukan dengan membuka snack dan minuman.
"Kres kres kres," suara snack tergirling di dalam mulut.
"Kalau begini ceritanya, namaku harus ada di kata pengantar mu," ucap Rival yang kini mulai membenahi skripsi.
Revalina menatap nanar, tak habis pikir dengan permintaan anehnya. Tapi jika di pikir-pikir kembali Rival memang mendukung dalam penyusunan skripsi, tapi apa iya namanya perlu di masukkan di kata pengantar.
"Selesaikan saja dulu," sahut Revalina dengan santainya.
Rival kembali fokus menatap layar, mengolak-alik lembar skripsi sambil terus menggerutu. Biasa hobi seorang Dosen memanglah seperti itu, Revalina tak sekalipun terkejut akan hal itu. Ia justru santai menyantap snack sambil menonton video-video lucu di aplikasi ponselnya seperti orang yang tak berdosa.
"Re, bisa nggak volume video mu dikecilkan?" tanya Rival dengan nada rendah, namun sorot matanya begitu menusuk tajam.
"Oh iya-iya," jawab Revalina segera mengecilkan volume pada video yang ditontonnya saat ini.
Untuk hal-hal kecil seperti ini Revalina berusaha menuruti agar moodnya tidak berantakan, sekali berantakan sudah dapat dipastikan skripsinya juga ikut berantakan.
Sekarang ini tahan-tahan saja dulu sampai skripsinya selesai, ia bisa menonton video dengan volume tanpa batas.
"Assalamualaikum," ucap salam Rafa, masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab salam Revalina dan Rival bersamaan.
Tiba-tiba langkah Rafa terhenti tepat di hadapan Revalina, menatap Rival dengan tatapan kebingungan.
"Lagi mengerjakan apa?" tanya Rafa pada Rival.
"Lagi kerjain skripsi nya Reva," jawab Rival apa adanya.
Sontak sorot mata Rafa beralih ke arah Revalina, menyorot dengan begitu menusuk.
"Kamu yang suruh Reva?" tanya Rafa dengan nada bicara tinggi.
Rasanya Rafa akan kesal ketika mendengar jawabannya, namun tak ada lagi jawaban selain iya. Keadaan telah mencekiknya untuk berkata jujur.
"Iya," jawab Revalina singkat.
"Huhhh," Rafa menghembuskan nafas beratnya, menatap kecewa pada sang adik.
"Tugas siapa tapi yang kerjain siapa, memang dasar kau ya. Aku adukan Umi biar tahu rasa," ucap Rafa kesal.
"Aduin saja, ini juga demi kebaikan bersama. Memangnya kalau skripsi ku nggak selesai dan aku nggak lulus Kakak mau tanggung jawab," sahut Revalina dengan beraninya membantah ucapan Rafa.
"Uhh berani ya sekarang sama Kakaknya," Rafa menggeleng tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sudah tak apa, biar aku kerjakan. Lagi pula cuma sedikit yang perlu direvisi," Rival menyela pembicaraan Revalina dan Rafa.
Kedua mata Revalina seketika memunculkan binar-binar bahagia, meski Rival berkata jujur awalnya tapi pada akhirnya dia mau menutupi juga.
"Kalau sudah lelah tinggalkan saja Val, biar Reva sendiri yang kerjakan jangan memanjakan anak itu," ucap Rafa sambil menggerakkan tungkai nya menuju ke belakang.
"Siap," sahut Rival dengan cepat.
"Huhh," Revalina menghembuskan nafas leganya, lega akhirnya Rafa pergi juga.
Diliriknya, Rival kembali sibuk menyelesaikan revisian skripsi dan sepertinya kini mulai menambah materi pada skripsinya.
"Semangat Pak, aku yakin kau pasti bisa!" seru Revalina sambil mengangkat genggaman tangannya.
Rival hanya melempar senyuman tipis berdurasi 2 detik, lalu kembali fokus menatap layar dengan jari tak berhenti mengetik.
__ADS_1
Bersambung