Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Di Toilet


__ADS_3

Meski demikian, Chesy tidak menyadarinya, dia masih terus bicara dengan suara keras karena terbawa perasaan.


“Aku udah banyak mengorbankan perasaan dalam masalah ini.  Jangan lagi kamu suruh aku mengorbankan banyak hal lain lagi,” jerit Chesy kemudian ia berlalu pergi sambil mengusap air matanya.  Saat itulah ia baru sadar bahwa ia menjadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya.  Ia menuju ke toilet.


Lagi, Cazim mengedarkan pandangan.  Ia menyadari sudah menjadi pusat perhatian banyak orang.  Ia meninggalkan taman menuju ke arah yang berlawanan dengan Chesy, namun ia berputar dan mengambil jalan menuju ke toilet wanita.  tujuannya adalah menemui Chesy.  Pembicaraannya belum selesai.  Dan ia harus menyelesaikan pembicaraan saat itu juga.


Toilet sepi.  


Semua orang sedang fokus di aula.  


Terdengar isak tangis dari salah satu bilik kamar kecil.


Itu pasti Chesy.


Cazim mengenal jelas bahwa itu adalah suara istrinya.


Klek.


Cazim mendorong salah satu pintu tertutup yang di dalamnya terdengar suara isakan tangis.


Benar dugaannya, Chesy sedang menangis di dalam wc.  Menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, bersandar di dinding.


Chesy sedang meratapi diri, kenapa masih mencintai Cazim padahal dia membenci pria itu?  sakit sekali merasakan kebencian yang dibalut dengan rasa cinta.  Semuanya mengaduk jadi satu.


Cazim menatap dalam diam.  Beberapa detik ia terus mengawasi tangisan istrinya.


Dan saat Chesy menurunkan tangan, ia terkejut melihat Cazim sudah ada di hadapannya.


“Aku siap menerima resiko.  Sebelum aku menyerahkan diri, aku harus bertemu denganmu terlebih dahulu,” ucap Cazim dengan tatapan mata yang lekat.  Dia menarik pundak Chesy dan memeluk wanita itu erat.  

__ADS_1


Lagi-lagi Chesy merasakan pelukan yang sama seperti yang dia rasakan ketika berada di rumah sakit waktu itu.  Sama hangatnya ketika pria itu memeluknya erat di malam hari.


“Aku mencintaimu.”  Cazim melepas pelukan.  Mendaratkan ciuman ke bibir Chesy.


Tak ada yang dilakukan Chesy kecuali diam. dia juga mendamba situasi ini. Dia bahagia dalam.keadaan seperti ini.


Cazim memundurkan wajah. Menatap mata indah istrinya, kemudian melangkah keluar dadi wc.


“Wuaaaaa….”  Sarah yang berada di luar itu pun menjerit hebat dan langsung menutup blazer yang tadinya dalam keadaan terbuka saat ia membersihkan dadanya dari siraman jus. Jus tersebut mengenai blazer dan merembes sampai ke kulit dadanya.  “Kenapa kamu ada di toilet wanita?  Waaaa…. Kamu barusan melihat yang menunuk kan?  Aduuuh… ternoda ini.”  Sarah kalang kabut sendiri, menjerit hebat sambil melompat-lompat di tempat.


“Coba jawab, kamu tadi lihat ya?”  Sarah frustasi.


“Aku tidak tertarik.” Cazim melengos keluar toilet.  Sudah terlanjur melihat.  Mau bagaimana lagi?


“Hah?  Tidak tertarik?”  Sarah menunduk menatap dadanya sendiri.  memang itu kecil.  


“Oh pantesan, rupanya ada sarang walet di sini.  Hei, kalian tadi abis ngapain?  Kenapa di wc?  Kenapa nggak pilih tempat lain?” Sarah nyerocos.


“Aku sedang kacau, Sarah.  Jangan memancing emosiku!” kesal Chesy.


“Lah, kenapa? Kalian berduaan di wc?  Kayak lagi kepingin banget dan nggak bisa ditunda gitu sampai-sampai mesti nyeruduk di wc kayak tadi?”


“Sar, Cazim mengaku kalau dia cinta sama aku.  Dia bilang kalau dia ingin memulai hidup sama aku.  Tapi pada akhirnya dia pun mengaku kalau dia itu mau menyerahkan diri untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya,” jelas Chesy.


“Lalu?  Letak permasalahannya di mana?  Baguslah kalau Cazim mau mengakui semuanya.  Artinya dia bakalan dipenjara dan menanggung semua perbuatannya itu.”


Chesy tampak gundah.


“Sebenarnya yang bikin kamu resah itu apa?  Kamu takut aib ini akan tercium oleh banyak orang, kamu malu kalau sampai orang-orang tahu bahwa suamimu adalah pembunuh dan akhirnya masuk penjara, atau kamu malu kalau nama besar ayahmu tercoreng atas kasus ini, atau apa?” tanya Sarah.

__ADS_1


Chesy menggeleng bingung.


“Atau kamu cinta sama Cazim?  Kamu nggak mau kehilangan dia di sisi lain kamu merasa terzalimi atas perilakunya di masa lalu?” tanya Sarah.


“Aku nggak tahu, Sarah.”


“Satu hal yang perlu kamu pertimbangkan adalah, masa depanmu.  Jika Cazim menyesali perbuatannya dan berniat menjadi lebih baik, maka kamu perlu pertimbangkan ini.  Setiap orang pasti berdosa, hanya jalannya saja yang berbeda-beda.  Masa lalu itu bisa jahat dan bisa baik. Kamu bisa membuka pintu maaf selebar-lebarnya, anggap kematian umi kamu sudah menjadi jalannya.  Tapi kamu juga bisa memaafkan dan proses hukum tetap berlanjut.”


Chesy memejamkan mata sebentar.  “Aku sakit banget waktu tau Mas Cazim menikahiku sebenarnya hanya memperalat aku dan abi sebagai barang untuk mendapatkan jalan kebebesannya.  Ditambah lagi, selama ini aku pun tahu kalau Mas Cazim itu cintanya sama Senja, bukan aku.  Sakit, Sar.”


“Apa sampai sekarang semua itu nggak berubah?  Maksudku, apakah Cazim masih cinta sama Senja dan niatnya hidup bersamamu hanya untuk mencari keuntungannya itu juga tidak berubah?  Bukankah kamu sendiri tadi barusan bilang kalau Cazim udah cinta sama kamu dan bahkan niatnya juga udah berubah kan?  lalu kenapa lagi?  Kamu ini mau menerima dia kembali atau mau melepaskannya?” tanya Sarah.


“Aku mencintai Mas Cazim, Sar.”


Sarah pun tersenyum.  “Kamu tenangkan dirimu.  Jangan gegabah.  Kamu harus ambil keputusan dengan kepala dingin.”


“Aku udah beberapa minggu memikirkan ini dan nggak dapet jawaban apa-apa.”


“Kamu nggak shalat sih.  Minta petunjuk.”


Chesy terdiam.


“Kalau hati panas, mana mungkin akan dapat jawaban yang tepat,” ucap Sarah.


“Sudahlah.  Aku sudah punya keputusan sekarang.”  Chesy berlalu pergi.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2