
Malam ini adalah malam dimana Revalina disuruh berkemas untuk acara dinner di rumah Rival. Iya, Chesy baru saja mengabarkan kepada Sarah bahwa Revalina sudah menerima Rival sebagai calon suaminya. Lalu Sarah mengundang Chesy dan anak- anaknya untuk makan malam bersama. Mereka sekalian akan membicarakan topik hangat itu di pertemuan nanti.
"Revalina, cepetan! Umi udah nungguin tuh sejak tadi. Ngapain sih lama banget di kamar?" Rafa mengetuk pintu kamar Rvealina.
"Iya, bentar." Revalina tengah memakai jilbab pasmina, ujung jilbab diputar sana putar sini, jadinya lambat.
"Udah, jangan kelamaan dandan. Nanti Pak Rival pangling lagi. Mentang- mentang mau ketemu calon suami trus dandannya lama banget. Pasti lipstiknya menor tuh."
Dih, mulai deh. Rafa mulai jahil. Ngeledek seenak udelnya saja.
Padahal Revalina tidak berdandan. Ia membiarkan wajahnya tetap natural tanpa make up. Bahkan ia hanya mengusapkan bedak bayi ke wajah, juga pakai lipglos sedikit di bibir, tanpa lipstik. Sudah, begitu saja. Memangnya kenapa.ia harus tampil menarik di depan Rival? Hei, dia tidak sedang mencuri perhatian pria itu. Lagi pula, ia tahu persis bahwa Rival ingin menjadikannya sebagai calon istri juga bukan karena hati atau simpati, tapi soal perluasan bisnis. Emang dasar otaknya jahat.
Revalina keluar dari kamar dan menghampiri Chesy yang sudah menunggu sejak tadi.
"Ya ampun, Revalina! Kamu mau tiduran di rumah atau bertamu ke rumah calon mertua sih? Kok bentukannya begini?" Chesy kaget melihat tampilan Revalina. Setelan baju dan celana simpel yang lebih pantas dipakai untuk bersantai di rumah.
"Memangnya kenapa, Umi?" Revalina seperti tidak punya dosa.
"Hilih, udah dandan lama banget, eeh rupanya cuma begini bentukannya." Rafa geleng- geleng kepala.
"Rafa, mendingan diem aja deh. Dari pada nih hp meluncur nimpuk pala Rafa!" Revalina mengangkat ponselnya tinggi- tinggi, mengancam.
Rafa malah terkekeh. "Hebat banget kalau sampai berani lempar hp, yang ada sayang sama hp nya."
"Umi, Rafa tuh!" Revalina mengadu.
"Sekarang pokoknya kamu ganti baju dulu sana. Jangan pakai baju begitu." Chesy menarik lengan Revalina dan membawanya masuk ke kamar. Chesy mencarikan pakaian milik Revalina di lemari.
"Ini bajumu sebanyak ini loh, semuanya bagus- bagus, tinggal pilih aja. Kok ya malah milih baju jelek." Chesy memilih diantara deretan banyaknya baju yang menggantung di lemari. Ia lalu mengambil salah satu. "Nah, ini bagus. Itu stelan sama jilbab. Pakai yang itu aja."
Revalina tidak mau membantah. Ia ingat harus menjadi anak penurut supaya Chesy bahagia memiliki anak sepertinya.
__ADS_1
Revalina menukar bajunya mengikuti perintah Chesy,lalu ia menyambar sendal warna senada dengan bajunya. Ia menghambur mengikuti Chesy keluar. Duduk di kursi belakang, Chesy di sisi kemudi, sedangkan Rafa mengambil tugas di bagian kemudi.
"Asiiiik... Udah cakep nih sekarang. Mau ketemu jodoh. Yuhuuui...." Rafa meledek lagi.
"Iiiiih... Diem deh. Rempong banget mulut Rafa tuh." Revalina kesal.
Rafa hanya cekikikan.
Sarah sudah menunggu di teras ketika mobil Chesy memasuki halaman rumahnya.
Begitu Chesy turun dari mobil dan menghampiri ke teras, Sarah langsung menyambut dengan suka cita. Berpelukan dan cipika cipiki, pokoknya mereka tampak sangat bahagia dan akrab sekali.
Chesy dan anak- anak langsung diajak ke ruang makan setelah melewati beberapa ruangan luas.
Meja panjang sudah diisi dengan berbagai menu makanan lezat. Beraneka ragam. Komplit. Mulai dari buah pencuci mulut, sampai minuman sudah tersedia di meja. Kesannya mewah sekali.
"Ayo, sini duduk, cantik!" Sarah menarik kursi untuk Revalina. Betapa Revina merasa terhormat atas sikap itu.
"Bik, tolong panggil anak- anak ya. Bilang keluarganya Revalina sudah datang!" titah Yakub pada asisten rumah tangganya yang langsung dipatuhi dan dilaksanakan.
Tak lama kemudian, sosok pria berkemeja hitam muncul, fokus matanya asik tertuju pada ponsel. Dia tampak sangat tampan mengenakan kemeja hitam.
Dan sialnya, pria itu duduk tepat di sisi Revalina. Siapa lagi kalau bukan Rival. Padahal situasi seperti inilah yang sejak tadi diwaspadai oleh Revalina, jangan sampai duduk berdekatan dengan Rival, pria itu membawa bencana bagi Revalina. Bisa saja Revalina kehilangan mood makan dan malah muntah melihat wajah Rival. Baginya, Rival sama saja seperti kotoran.
Rival kemudian mengantongi hp nya, tersenyum sopan saat pandangannya bertemu dengan Chesy.
"Umi!" sapanya ramah.
Hah? Umi? Rival memanggil Chesy dengan panggilan itu? Sudah sinting tuh orang. Geram Revalina dalam hati.
Sapaan Rival dibalas dengan senyuman pula oleh Chesy.
__ADS_1
"Kalau nggak salah, Pak Rival punya adik kan? Apa dia nggak ikutan dinner juga?" tanya Revalina.
"Maksudmu Dalsa?" Rival balik tanya.
"Dia itu adiknya bapak kan?"
"Sedang dipanggil sama ART," jawab Rival berusaha rileks meski uratnya sebenarnya tegang menahan ketidak nyamanan. Jika ia tidak membutuhkan Revalina, mana mungkin ia mau dinner begini dengan wanita itu.
"Revalina, tante senang sekali kamu akhirnya bersedia jadi bagian keluarga kami. Ini kabar besar dan mengejutkan kami," ucap Sarah dengan raut gembira. "Tadi Rival juga udah bahas soal ini, katanya kamu itu sudah berubah pikiran berkat usahanya. Dia berhasil meluluhkan hatimu secepat ini."
Hah? Jadi begitu cara Rival menyampaikan situasi ini kepada kakak iparnya? Dih, aneh.
Revalina menoleh, menatap wajah tampan di sisinya. Alis pria itu terangkat dengan ringannya.
Tatapan Revalina kembali pada Sarah. "Tante, ayah dan ibunya Pak Rival mana ya? Apakah hanya tante dan om saja yang hadir di sini?"
"Nah, soal itu belum tante jelasin ke kamu. Jadi begini, Rival ini sudah nggak punya papa, sama seperti kamu. Mamanya sekarang ada di luar kota. Mamanya Rival itu kan tinggalnya memang di luar kota. Sedangkan Rival dan adiknya ikut sama tante dan om, soalnya Rival kerjanya di sini, adiknya juga kuliahnya di kota ini. Lagi pula, nanti Rival mau sekalian menjalankan bisnisnya Om Yakub, sambilan ngajar jadi dosen," jelas Sarah panjang lebar.
"Anak tante mana?" Revalina kepo.
"Ada. Masih kelas enam SD. Udah tidur. Lagi nggak enak badan soalnya."
"Perempuan atau laki- laki?" tanya Revalina lagi.
"Perempuan. Anak tante satu- satunya. Tante nggak bisa hamil lagi, rahim tante diangkat karena sakit. Oleh sebab itu Rival lah yang mesti melanjutkan bisnis Om Yakub, dia akan laki- laki," jelas Sarah.
Suara langkah kaki memasuki ruangan luas itu membuat sejurus pandangan tertuju ke sumber suara, pada Dalsa yang melangkah gontai menuju meja makan.
Tatapan Dalsa mengedar pada wajah- wajah yang hadir. Dan tatapan itu berhenti di wajah Revalina.
Bersambung
__ADS_1