
Chesy tengah menyisir rambut di depan cermin. Ia baru saja mencuci muka. Setiap kali mau tidur, dia memang tidak pernah absen gosok gigi dan cuci muka.
Klek
Chesy terkejut melihat Cazim masuk ke kamarnya. Melalui pantulan cermin di depannya, ia melihat Cazim menutup pintu kamar sesaat setelah membukanya.
"Heh, siapa suruh masuk?" Chesy gelagapan, berdiri meninggalkan kursi sambil meraih jilbab dan memasangnya asal asalan.
Cazim mendekati Chesy, berdiri dengan tenang berhadapan dengan wanita yang tampak tegang itu.
"Aku juga tidak mau berada di kamar ini, tapi kau pikirkan saja apa pendapat ayahmu saat aku menolak untuk tidur di sini." Cazim tenang sekali.
"Enggak enggak. Kamu nggak bisa tidur di sini. Aku nggak mau tidur sama kamu!" kesal Chesy.
"Apa yang kau takutkan dariku, hm?" Cazim melangkah maju, membuat Chesy memundurkan langkah.
__ADS_1
"Jangan macam- macam kamu ya!" Chesy meraih botol parfum yang bila digetokin ke kepala Cazim pasti bisa benjol sampai seminggu.
Cazim meraih botol parfum, memegangnya erat, membuat tangan kecil Chesy ikut tergenggam.
"Lepasin!" Chesy menyentak tangannya, tidak berhasil lepas dari pegangan Cazim. "Kamu mau apa?" Chesy gugup dan takut melihat Cazim yang terus mendekat ke arahnya. Punggungnya membentur meja hingga ia tidak bisa melangkah mundur lagi. Ia hanya bisa memundurkan separuh badannya saja.
"Menjauh dariku! Menjauh!" hardik Chesy tanpa berani berteriak, sebab kalau ia berteriak, ia takut ayahnya malah akan datang dan mengira teriakannya karena alasan lain.
"Takut?" Cazim tersenyum simpul dan melepas tangan Chesy, lalu meninggalkan wanita itu. Ia naik ke ranjang dan tidur dalam posisi menelungkup.
"Heh, jangan tidur di kasurku!" Chesy meraih bantal guling dan memukulkannya ke tubuh Cazim.
Pria itu diam di tempat, sama sekali tidak terganggu.
"Aku bilang jangan tidur di kasurku. Kamu tidur di bawah sana!" Chesy terus memukuli Cazim dengan bantal guling.
__ADS_1
"Aku tidak akan pindah dari sini dan aku tidak akan tidur di bawah. Lebih baik kau cepat tidur di sana!" Cazim menunjuk kasur di sebelahnya, ia menangkap bantal guling dengan satu tangannya.
"Kamu pikir aku mau tidur sekasur sama kamu? Ingat ya, kamu bukan suami sungguhan bagiku!"
"Aku tidak akan mengganggumu, tidak akan menyentuhmu. Jadi jangan cemaskan itu!" Cazim meletakkan bantal guling ke tengah- tengah. "Tidurlah di sana. Kau akan aman sampai pagi."
"Jangan modus ya!" ancam Chesy.
"Aku lelaki berotak, kalau pun kau istriku, aku tidak akan memaksa apa lagi sampai memperkosamu hanya untuk mendapatkan satu pengalaman, bagiku hubungan itu adalah tingkat atas dari sekedar nikah. Jadi jangan cemas. Tidurlah!" Cazim kembali tidur menelungkup.
Dengan ragu, Chesy akhirnya berbaring di kasur yang tersisa. Ia kesulitan tidur. Berbagai pikiran aneh menyerang benaknya. Ini adalah pengalaman pertama baginya, tidur dengan seorang lelaki. Rasanya aneh. Pikirannya membayang entah kemana- mana. Sesekali ia mengusap kulitnya yang meremang.
"Cepetan tidur, plis." Chesy memjamkan mata erat erat. Berharap bisa secepatnya lari ke alam mimpi dan terbangun saat pagi hari. Malam ini seperti netaka bagi Chesy. Tidur seranjang dengan lelaki memuakkan itu. Benak Chesy rasanya panas tak karuan.
Mereka tidur saling memunggungi.
__ADS_1
Bersambung...