Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Diboncengin Suami


__ADS_3

"Abi memintaku untuk mengantarkanmu ke tempat kerja sekarang. Ayo!" Cazim yang sudah nangkring di atas motor itu pun menyerahkan helm kepada Chesy. Sejak lima menit tadi Cazim sudah menunggu di depan rumah.


Tepat saat Chesy keluar pun Cazim langsung menyapa wanita itu.


Chesy menatap tajam helm yang diserahkan. "Nggak usah. Aku bisa sendiri. Biasanya juga aku sendiri kok ke sekolah," tolak Chesy sambil terus berjalan melewati Cazim. Namun lengannya ditarik oleh Cazim.


"Abi yang menyuruhku, jadi kau harus mau!"


"Kamu takut dianggap nggak mampu menaklukkan aku sampai- sampai begini sikapmu ke aku?" gertak Chesy.


"Kamu bebas membenciku, terserah bagaimana kamu mau memperlakukan aku. Tapi biarkan abimu senang saat melihat apa yang dia inginkan terwujud. Saat dia melihat kau dan aku dekat, dia merasa bahagia. Apa kau tidak mau melihat kebahagiaan abimu?"

__ADS_1


"Jadi ini karena demi penilaian abi kan? Supaya kamu kelihatan bagus sebagai suami di mata abi."


"Aku tidak peduli dengan penilaiannya, setidaknya kau pedulilah sedikit letak kebahagiaannya, yaitu melihatmu patuh pada suami. Meski pun dalam hal lain kau tidak patuh, aku tidak peduli. Yang terpenting kau patuh pada setiap kemauan abi. Kau tidak tau kan kenapa abi menganggapmu sebagai anak nakal? Itu karena kau selalu membangkang dan sulit menuruti kemauannya. Jika saja abi memintamu bangun subuh setiap kali adzan, dan itu kau laksanakan, abi memintamu bekerja dengan tekun, dan itu juga kau laksanakan, pasti abi tidak akan beranggapan bahwa kau itu susah diatur. Tapi ini, semua kemauan abi, kau langgar. Bagaimana abi akan merasa bahagia?"


Chesy tersenyum miring, melipat tangan di dada. "Aku tau kok akal busukmu itu, jangan berkedok demi kebahagiaan abi hanya karena kau ingin dinilai mampu mendidik aku sebagai istri. Otak mafiamu udah kebaca. Apakah mungkin, seorang Cazim memikirkan kebahagiaan lelaki tua seperti abi? Mustahil. Demi mendapat citra bagus di mata semua orang, kamu sampai rela melakukan kegilaan ini. Sumpah aku nggak ngerti sama jalan pikiranmu ini. Ck ck ck..." Chesy geleng kepala.


"Apa kau tau apa yang terjadi pada abi selama ini? Abi sering bercerita dalam keadaan menangis pilu di hadapanku, dia bercerita  tentangmu, tentang rasa sakitnya setiap kali kau tidak mau mematuhinya. Ini bukan perkara kecil, tapi soal hati orang tua yang terluka bila anaknya menolak untuk patuh, dia merasa telah gagal menjadi orang tua."


Ungkapan Cazim begitu ampuh menggiring pikiran Chesy pada sosok abinya, Chesy pun hanyut dalam bayangan itu, ia membayangkan saat abinya menangis menceritakan luka hatinya. 


"Cepat naik!" titah Cazim berbisik.

__ADS_1


Chesy pun tersenyum menatap abinya yang berdiri mengenakan kruk. "Iya, abi."


Wanita itu membonceng. Duduk menyamping.


"Jangan duduk nyamping, aku tidak terbiasa boncengin perempuan duduk nyamping, duduk begitu seperti embah embah jaman dulu." 


"Hadeeh... Banyak omong lu!" Chesy kesal bukan main. "Ini maksudnya nggak terbiasa boncengin perempuan duduk nyamping, berarti sering boncengin perempuan duduk ngangkang nih?" Chesy mengubah duduknya, kini posisinya sama seperti Cazim, duduk menghadap punggung pria itu.


"Lelaki membonceng perempuan itu wajar, banyak ojek boncengin ibu ibu kan? Pegangan!" Cazim menyalakan mesin motor.


Chesy tak sudi menyentuh pinggang lelaki itu. Dia memilih untuk memegang pahanya sendiri.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2