
“Piring kotor langsung dicuci setelah makan. Susunya diminum sampai habis. Kalau pulang nanti, sepatu langsung ditaruh di tempatnya, jangan dibiarkan sembarangan. Baju kotor langsung tarok di keranjang. Itu jaketnya dipakai, ini musim hujan. Cuaca pasti dingin.”
Demikian sederet titah Chesy yang diserukan pagi hari untuk anak- anaknya yang tengah sarapan di meja makan. Meski anak- anak sudah berusia dua puluh satu tahun, namun mereka masih belum bisa memahami tentang arti kata disiplin dan tanggung jawab. Sudah dua belas tahun berlalu.
Setiap hari Chesy harus cerewet, banyak bicara bahkan mengomel untuk mendidik mereka. Kecuali Rajani, gadis pendiam yang selalu disiplin dan bertanggung jawab, baik untuk dirinya mau pun orang lain. Dia kerap membantu pekerjaan Chesy di dapur. Dia juga selalu tidur paling akhir karena ikutan menyetrika dan melipat baju saat Chesy melakukannya sendirian.
Setahun belakangan, sejak Cazim meninggalkan dunia ini, Chesy memilih untuk menyibukkan diri dengan berbagai rutinitas keseharian. Menyibukkan diri dengan kegiatan sehari- hari membuatnya lupa akan sosok Cazim. Chesy juga paham, bahwa manusia pasti akan kembali pada yang menciptakannya, hanya saja ia manusia biasa yang bisa saja merasa sedih saat ingat kebersamaan dengan sang suami. Jadi menyibukkan diri adalah salah satu solusi supaya pikiran tidak terus teringat Cazim.
Terlalu cepat Tuhan mengambil Cazim darinya, namun Chesy juga sadar bahwa suami hanyalah titipan. Semua akan kembali pada yang memiliki.
Mengenai tawaran Diatma tentang hak untuk meneruskan perusahaan, Cazim menyerahkan itu pada Rafa. Dan Rafa berjanji akan meneruskannya jika sudah cukup matang dalam segi pendidikan dan pengalaman.
Diatma sudah pergi meninggalkan dunia, hanya tinggal Rebecca yang menunggu rumah megah sendirian. Sesekali Rebecca meminta Rafa atau pun cucu lainnya untuk menemani.
Setelah selesai sarapan, Revalina membawa piring miliknya ke wastafel dan mencucinya. Rafa meneguk susu. Rajani mencucikan piring miliknya, juga piring dan gelas bekas minum Rafa.
Mereka menghambur menuju ke halaman depan untuk bersiap hendak ke kampus.
__ADS_1
“Uang saku kalian masih ada? Kok, tumben nggak minta?” tanya Chesy yang menyusul keluar memperhatikan ketiga anaknya.
“Masih, Umi,” jawab Rafa kemudian menyalami tangan Chesy dan mencium pipi uminya. Ia mengucap salam kemudian menghambur pergi naik motor gede. Setiap hari, Rafa selalu naik motor. Dia lebih suka mengendarai motor dari pada mobil.
“Kamu juga nggak minta uang saku sama Umi?” tanya chesy pada Rajani.
Gadis itu tersenyum dan menggeleng. “Ambil dari tabungan aja, Umi.”
“Loh, kok ambil dari tabunganmu? Itu kan tabungan untukmu, uang saku kamu ya Umi yang kasih.”
“Nggak apa- apa, Umi. Dari pada ditabung dan nggak ada nilai manfaatnya, mendingan dimanfaatkan aja.” Senyum Rajani mengembang polos. Dia menyalami Chesy kemudian mencium singkat pipi uminya. “Rajani berangkat kuliah dulu, ya Umi.”
“Uang saku Revalina mana?” Revalina menjulurkan telapak tangan ke arah Chesy.
Chesy mengambil uang cash dari dompet dan menyerahkannya kepada Revalina.
“Tiga ratus ribu aja?” tanya Revalina sambil menatap uang beberapa lembar di tangannya.
__ADS_1
Chesy menambah selembar lagi.
“Tambah dua lagi, Umi!” Revalina nyengir.
Sudah dikasih empat ratus ribu, masih minta tambah dua lembar lagi. Revalina memang paling boros. Satu hari bisa menghabiskan uang banyak. Jika tidak direm, maka ia bisa berfoya- foya. Dia menjadi idola di kampus, memiliki banyak teman karena royal dan sering mentraktir. Sering berbelanja dan membeli barang- barang untuk memenuhi koleksi di kamar, baik sepatu, tas ata apa saja.
Tak heran jika Revalina tidak memiliki uang tabungan. Dia selalu memakai habis uang di tangannya, berbeda dengan Rajani yang lebih suka menabung.
Chesy tidak protes atas permintaan Revalina yang meminta uang sebanyak itu untuk uang saku sehari. chesy memiliki segalanya. Uang pun banyak, lalu untuk apa ia kikir? Yang terpenting Revalina tidak membelanjakan hartanya untuk sesuatu yang buruk.
“Makasih, Umi.” Revalina menyalami tangan Uminya kemudian bergegas memasuki mobil, bersisian dengan Rajani.
Klakson mobil disambut dengan senyuman oleh Chesy. Melepas anak- anaknya pergi meninggalkan rumah.
Jika anak- anak sudah pergi, maka Chesy pun mulai menyibukkan diri dengan berolah raga di dalam rumah. Ada peralatan olah raga lengkap seperti di Gym.
Chesy bisa menghabiskan waktu dnegan berolah raga sehingga tubuhnya bugar dan tetap sehat di usia yang sudah matang. Ia pun tetap tampil awet muda, seperti masih berusia dua puluh lima tahun. Bahkan jika orang tidak kenal bertemu Chesy, maka akan beranggapan bahwa Chesy adalah kakaknya Revalina saat mereka berdua jalan bersama.
__ADS_1
***
Bersambung