Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Draft


__ADS_3

POV Rival


"Ada di dalam lagi di periksa polisi," jawab Rafa menatap kesal.


Seketika netra Rival beralih memandangi ruangan yang ada di belakang Rafa, hatinya bergetar membayangkannya ketakutan Revalina di dalam sana.


"Kak, aku akan bawa Revalina keluar dari sini aku janji," ujar janji Rival pada Rafa dengan sungguh-sungguh.


"Buktikan!" seru Rafa.


Rival mengangguk, percaya dengan janjinya akan membuahkan hasil. Dengan cepat ia pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan dengan ditemani Yakub setelah sebelumnya melalui izin polisi yang bertugas di sana.


Tiba di dalam ruangan hati Rival dibuat miris dengan tangisan Revalina disertai dengan gemetar pada seluruh tubuhnya.


'Ya Tuhan, aku sudah lalai menjaga istriku. Ampuni aku Tuhan,' ucap Rival dalam hati.


"Selesaikan, bawa Revalina keluar dari sini bagaimana pun caranya dan untuk Dalsa itu sudah jadi urusanku," bisik Yakub.


Setelah berbisik, Yakub beranjak pergi dari ruangan itu ke ruangan yang lain untuk bisa menjenguk adik bontotnya.


Sementara itu Rival mulai melangkah maju ke arah Revalina tak peduli sorot mata beberapa posisi menyorotnya begitu tajam, ia tetap melangkahkan.


"Permisi Pak, saya suami dari Revalina. Saya di sini adalah korban kesalahpahaman yang disebut oleh Dalsa," ujar Rival sembari mengusap pundak Revalina dengan usapan lembut.


"Oh Pak Rival, silahkan Pak duduk di sini biar saya proses," ucap salah seorang polisi yang ada di samping polisi yang memeriksa Revalina.


Saat itu Revalina terkejut dengan kehadiran Rival, air matanya terhenti secara tiba-tiba ketika Rival datang.


"Mas Rival," sebut Revalina lirih, melongo.


Perlahan Rival duduk di kursi berjarak dua meter dari Revalina, sebelum memulai untuk membuka keterangan terlebih dahulu ia menatap Revalina.


"Tenang sayang, aku sendiri yang akan bawa kamu pulang," ucap Rival lirih.


Dan saat itu juga senyum Revalina mulai terlihat untuk yang pertama kalinya disusul dengan usapan tangannya yang mengusap seluruh air mata.


Kini proses BAP pun di mulai dengan pembahasan perkara yang berbeda dengan sebelumnya, yang lantas Rival katakan sebenar-benarnya dengan olahan kalimat yang sengaja ia buat untuk meringankan Revalina lalu diakhiri dengan kalimat pamungkas.


"Jauh sebelum Revalina meminta maaf, saya sudah maafkan dia dan bagi saya semua sudah selesai. Ini cuma kesalahpahaman akibat adu domba saudara Akram, bisa saya katakan fitnahan Akram ini terstruktur karena bisa membuat tato di punggung saya tanpa saya sadari dan Revalina tak salah jika bermodal melihat tato yang sama dia lantas menuduh saya," jelas Rival sebagai penjelasan penutup.


Tek tek tek tek.


Suara keyboard mengetik, polisi mengetik semua yang Rival jelaskan.


Beberapa jam kemudian akhirnya Rival dan Revalina dipersilahkan untuk mundur dari kursi tersebut bergantian dengan pengacara yang hendak melakukan pembelajaran.


Masih di ruangan yang sama, Rival dan Revalina terduduk di sofa sembari saling merangkul satu sama lain.


"Terimakasih Mas, terimakasih," ucap Revalina secara berulang-ulang.


"Sama-sama," sahut Rival lirih.


"Aku nggak tahu lagi kalau nggak ada kamu Mas," ucap Revalina menunjukkan kembali rasa takutnya.


Ucapan Revalina terdengar seperti tengah menggantungkan harapan padanya, bukan menjadi beban pada Rival akan tetapi keputusan polisi masih tak bisa terbaca oleh pikirannya meski ia sejak tadi optimis akan bawa pulang Revalina hari ini dan memastikan tak akan ada sanksi pidana apapun menimpa Revalina.

__ADS_1


"Kak Rafa masih ada di depan Mas?" tanya Revalina langsung melepaskan rangkulannya, cemas menatap ke arah pintu keluar.


"Ada di luar sama Kak Yakub," jawab Rival.


"Syukurlah," ucap Revalina sembari menghembuskan nafas leganya.


"Sudah kamu tenang ya, jangan terlalu memikirkan apa yang belum terjadi. Aku yakin kau akan selamat," ucap Rival lirih, menatap kedua mata Revalina dengan sangat dalam.


Tak lama setelah Rival berucap demikian, pengacara bernama Levin itu beranjak dari duduknya dan kini mulai mendekat ke arah Rival dan Revalina berada.


"Sudah, semua sudah selesai tinggal kita tunggu penangkapan Akram lalu sidang," ujar Levin pada keduanya.


"Alhamdulillah," ucap Rival dan Revalina serentak.


Revalina langsung memeluk Rival kembali, menangis dalam pelukannya dengan isakan yang cukup keras.


"Terimakasih Mas, terimakasih kamu sudah mau berbesar hati memaafkan aku dan nggak nuntut aku atas kejadian waktu itu," ucap Revalina lirih tertutup oleh Isak tangis yang lebih dominan.


"Sama-sama sayang, bukanya aku sudah lama katakan kalau aku memaafkan kamu. Sudah jangan bahas ini lagi, aku sudah memaafkan sejak lama," sahut Rival kembali tersentuh akan ucapan Revalina padanya.


*********


POV Revalina.


Tepat pukul 19.00 ia dan sang suami dipersilahkan untuk pulang, saat keluar dari ruang pemeriksaan Revalina melihat Rafa masih setia menunggunya.


Tanpa pikir panjang ia langsung berlari ke arahnya, memeluknya dengan erat seraya menumpahkan air mata kebahagiaannya.


"Gimana Reva, gimana hasilnya?" tanya Rafa panik.


"Ohh, syukurlah," ucap Rafa sembari menghembuskan nafas leganya.


Tak lama setelah memeluk dan berbincang sedikit mereka pun pulang ke rumah masing-masing sementara itu Rafa dan Levin terlihat membelokkan mobil ke jalan searah.


'Mungkin memang arah rumah Pak Levin sama dengan rumah Umi,' ucap Revalina dalam hati.


'Tapi bisa juga mereka mau berbincang berdua tentang persidangan nanti, aku harap mereka nggak terlalu menyudutkan keluarga Mas Rival terutama Mama karena kalau sampai itu terjadi Mama bisa kena pasal,' ucap Revalina dalam hati.


Meski Candini juga bersalah karena telah menyembunyikan Dalsa akan tetapi hati Revalina tetap luluh meski Candini tak pernah mencoba meluluhkan hatinya.


Saat berada dalam perjalanan tiba-tiba Revalina baru saja teringat dengan Yakub, Kakak ipar yang katanya ikut ke kantor polisi. Dengan ekspresi terkejut Revalina menoleh ke arah Rival yang tengah fokus menyetir mobil.


"Mas, tadi katamu Kak Yakub ikut ke kantor polisi terus sekarang dia ada di mana?" tanya Revalina kebingungan.


"Masih ada di sana, katanya mau pulang nanti," jawab Rival dengan santainya.


Mendengar jawaban Rival sontak membuatnya terkejut sekaligus bingung dengan Yakub.


"Hah, masih ada di sana ngapain?" tanya Revalina semakin kebingungan.


Perlahan Rival menoleh ke arah Revalina sembari sesekali menatap ke depan.


"Saat tahu kamu dipanggil polisi bahkan ada penjemputan di kantor dan tahu siapa yang buat keterangan lalu berujung pelaporan itu adalah Dalsa, Kak Yakub langsung pergi ke sel buat ketemu sama Dalsa," ujar Rival dengan jelas.


Mendengar hal itu seketika kedua mata Revalina berkaca-kaca, ia kembali terharu namun kali ini lebih terharu ke Kakak iparnya yang selalu membelanya selalu menjadi garda terdepan untuk dirinya sejak awal. 

__ADS_1


"Umm, jadi sedih aku. Nggak kebayang apa yang Kak Yakub katakan sama Dalsa, aku jadi takut hubungan mereka jadi merenggang," ucap Revalina.


Tiba-tiba Rival menoleh ke arah Revalina dengan begitu cepat, membuat Revalina sedikit terkejut.


"Aneh kau ini, satu-satunya keluarga korban yang aneh. Hubungan Kak Yakub dengan Dalsa merenggang itu sudah jadi resiko nggak perlu kamu pikirkan," sahut Rival sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Revalina terdiam merenungkan ucapan Rival, yang memang ada benarnya namun tak bisa dipungkiri memang posisinya sekarang ini sangat sulit. Ia merasa tak enak hati dengan keluarga Dalsa, tapi bukan pada Dalsa.


'Andai Dalsa itu keluarga orang lain, pasti aku bakal gencar sudutkan dia sampai dapat hukuman maksimal,' ucap Revalina dalam hati.


Selama dalam perjalanan, perbincangan keduanya semakin dalam hingga menuju ke persidangan nanti. Saat membahas tentang hal ini lantas Revalina menyingung soal pengacara yang sudah disiapkan Candini.


"Mas, kau tahu kalau Mama sudah sewa lawyer?" tanya Revalina pada Rival.


Rival terdiam beberapa puluh detik "iya, aku tahu."


"Baru kemarin," sambung Rival lirih.


"Kenapa kamu nggak cerita ke aku Mas?" tanya Revalina dengan nada kesal.


"Aku nggak mau buat kamu kepikiran, jadi aku nggak cerita," jawab Rival.


"Justru dengan kamu diam begini aku jadi makin kepikiran Mas, kalaupun Dalsa sewa lawyer pun nggak papa Mas memang itu hak dia," ujar Revalina sedikit kesal.


Rival terdiam.


Hari ini Dalsa tak berhasil membuat Revalina ikut dengannya masuk ke dalam sel tahanan, tapi dia berhasil membuat Akram jadi buronan.


Kabar yang ia dapat dari Rafa sekarang ini Akram kabur ke luar negri dengan menggunakan transportasi laut sesaat setelah mendengat bahwa dirinya terserat dalam masalah ini.


Mendengar kabar tersebut Revalina tak lagi terkejut sebab ia tahu Akram adalah orang yang pintar membaca keadaaan bahkan pelabuhan pun mampu ditaklukkan olehnya.


"Entah, dia pergi ke luar negri dengan cara legal atau ilegal yang pasti dia nggak mungkin tunjukkan identitas dia yang asli," gumam Revalina sembari memandangi benda pipihnya.


Dan untuk perkara yang satu ini tanpa meminta persetujuan dari siapapun polisi langsung menaikkan poster dengan wajah Akram di seluruh media dengan identitas lengkap.


"Aku harap dia secepatnya tertangkap dan segera mempertanggungjawabkan perbuatannya," ucap Revalina dengan geram.


Saat tengah marah dan kesal tiba-tiba ada dua tangan dari belakang melingkar ke pinggangnya, Revalina terkejut namun setelah merasakan hembusan nafas orang yang kini memeluknya dari belakang itu akhirnya tahu siapa orang tersebut.


"Ada apa Reva, aku dengar kau dari tadi marah-marah?" tanya Rival lirih dengan menyandarkan dagunya ke bahu Revalina.


"Ini Mas, aku dapat kabar dari Kak Rafa kalau Akram sekarang sudah jadi buronan," jawab Revalina menunjukkan chat nya dengan Rafa berikut dengan poster yang dibagikan oleh Kakak kandungnya itu.


"Baguslah, nggak lama juga ketangkap kalau sudah sebar poster begini," sahut Rival.


Revalina justru mendelik, merasa janggal dengan kalimat Rival yang tak selaras dengan apa yang ada di hatinya, tak puas dengan perbincangan tanpa saling menatap mata akhirnya Revalina lepaskan tangan Rival yang melingkar di pinggangnya lalu segera berbalik badan.


"Mas, tapi aku itu nggak yakin Akram tertangkap," ujar Revalina dengan kening mengerut tajam.


Ucapan Revalina agaknya membuat Rival kebingungan, terlihat dari perubahan raut wajahnya dan mulut yang tak kunjung menyahut ucapannya.


"Kanapa kamu bisa yakin kalau Akram nggak akan tertangkap?" tanya Rival dengan tatapan bingung.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2