
Hari ini Revalina sudah diijinkan pulang. Ia sedang istirahat di kamar.
Cazim sedang mencuci mobil di depan rumah, mengenakan celana pendek. Ia mengisi waktu luang dengan kegiatan ini.
Chesy mengawasi di dekat suaminya yang sedang mengusap mobil dengan kain bersabun.
“Basok kita pulang, ya. Soalnya dua hari lagi anak- anak masuk sekolah!” ucap Chesy. “Restoran juga butuh aku.”
“Ya. Aku ikut saja.”
Betapa senangnya punya suami yang selalu menyenangkan istri dengan mengikuti semua kemauan istri.
Pandangan Chesy tertarik pada sosok lelaki dan wanita yang tengah berlari-lari kecil melintas di depan rumah, olah raga pagi. Wanita itu mengenakan hijab panjang dan training lengkap.
Tidak pangling, Chesy mengenal wajah itu dengan jelas. Sarah. Iya, itu adalah Sarah, sahabatnya dulu. Ya ampun, setelah sekian lama, akhirnya Chesy bertemu kembali dengan sahabatnya itu. Tidak ada yang berubah dari dalam diri Sarah. Semuanya tampak sama, hanya tambah gemuk saja. postur tubuh Sarah yang dulu langsing dan kurus, kini tampak lebih gemuk dan berisi.
“Sarah!” seru Chesy histeris, bertemu teman lama seperti kejatuhan duria runtuh.
Sarah langsung berhenti, ia pun tak klah kaget melihat keberadaan Chesy. Tanpa pikir panjang, Sarah langsung berlari melewati pagar dan masuk ke halaman rumah. Dia peluk tubuh Chesy erat, mereka menjerit bersama. Histeris bersama. Tertawa dan terbahak pun bersama.
“Ya Allah, aku nggak nyangka banget kita bisa ketemu lagi. Ini sungguh di luar dugaan.” Chesy takjub.
“Kapan kamu datang ke sini? Kenapa nggak ngabarin?” Sarah menatap haru.
“Sory, hp ku kan udah lama ganti nomer. Semua kontak hilang.”
“Duh, aku mau nangis ini. Beneran mau nangis. Baper banget sumpah.” Sarah mengibas- ngibaskan jari di depan wajahnya.”
“Apa kabar kamu?” tanya Chesy.
“Baik. Alhamdulillah baik.”
Mereka heboh menanyai satu sama lain, sudah punya anak berapa, tinggal dimana, kerja apa, suaminya siapa dan banyak lagi.
__ADS_1
Cazim tertegun menyaksikan uforia para wanita yang begitu heboh saat temu kangen. Ternyata begini momen para wanita untuk mengekspresikan kebahagiaan bertemu teman lama.
“Selang airnya nyala, airnya menggenang!” tegur seseorang membuat Cazim tersadar selang terjatuh dari pegangannya.
Cazim segera memungut selang dan kembali menyiram mobil. Ia menoleh pada pria yang menghampirinya, tak lain sosok yang tadi jogging bersama dengan Sarah.
“Yakub?” Cazim mengernyit menatap sosok yang kini berdiri di sisinya itu.
“Assalamualaikum, Cazim. Kau sudah bebas dari tahanan ya?” tanya Yakub enteng saja.
“Kupikir tidak sepantasnya kau membahas itu di sini. Aku tidak ingin mengupas masa lalu yang menurutku tidak pantas untuk dibuka, apa lagi sekarang aku sudah punya anak. Hargai mereka!” tegas Cazim.
“Maaf. aku tidak bermaksud begitu.”
“Dari mana kau tau kalau aku ditahan?”
“Jejak digital tidak akan pernah hilang. Meski waktu terus berputar, tapi jejak digital akan tetap ada,” jelas Yakub.
“Ya, tentu,” jawab Cazim enteng saja.
“Ini suamiku, Yakub,” sahut Sarah menunjuk Yakub dengan raut gembira.
Alis Cazim terangkat. Oh, rupanya Yakub memperistri Sarah. Selera Yakub sebenarnya bagus, yaitu para wanita dari keturunan baik- baik, yang dekat dengan ajaran agama.
Cazim mematikan keran air. Ia lalu menjabat tangan Yakub dengan sentakan kuat dan berkata, “Selamat! Aku senang kau akhirnya mendapatkan jodoh.”
“Inilah yang aku tunggu- tunggu. Ucapan selamat darimu.” Yakub tersenyum lebar.
“Oh, jadi maksudnya ini kau mau mengajakku berteman? Sudah move on dengan masa lalu kan?” tanya Cazim enteng saja.
“Aku bangga bisa punya teman sepertimu. Berantem, marah dan salah paham itu lumrah. Yang penting kita bisa memperbaiki ke depannya,” sahut Yakub.
“Aku suka caramu. Ini baru temanku.” Cazim menyikut perut keras Yakub, membuat Yakub terbatuk kecil.
__ADS_1
Melihat reaksi Yakub dan Cazim, kedua wanita tu bertukar pandang dan tertawa bersama.
“Bagaimana kabar Rival?” tanya Chesy.
“Dia aku sekolahkan di pondok pesantren. Aku belum sempat menjenguknya. Entahlah, bagaimaa kabarny kini. Aku juga belum sempat menjenguknya karena terlalu sibuk mengurus perusahaan yang baru aku rintis. Aku bekerja sama dengan perusahaan raksasa di Jakarta pusat,” sahut Yakub.
“Loh, jadi sekarang kamu tinggal di Jakarta pusat?” tanya Chesy.
“Iya.”
“Berarti kita berdekatan. Alamat rumahmu dimana?”
Sarah menyahuti dengan menyebutkan alamat rumahnya, tak lain alamat rumah yang tak jauh dari kediamannya Chesy.
“Ya ampun, kita bakalan bisa bertemu kapan pun. Perjalanan lima belas menit saja itu dari rumahku,” sahut Chesy senang sekali.
“Kami ke sini hanya untuk menjenguk orang tua,” ucap Sarah.
“Cieeee… sekarang sudah bisa mengurus perusahaan nih yeee…” Chesy menggoda Yakub yang dulu hanya bekerja sebagai penjaga perpustakaan kota.
Yakub tertawa. “Rencananya, kalau Rival lulus sekolah nanti, maka aku akan bimbing dia untuk bekerja di perusahaan ini. Sayangnya, sejak dulu Rival berniat ingin menjadi dosen. Pemikirannya denganku selalu berseberangan.”
“Lama-lama juga dia bisa paham dan memilih mana yang baik dan yang buruk,” sahut Chesy. “Aku yakin dia akan menjadi anak yang baik. Pa lagi dia sudah mengenal dan mendekat dengan ajaran agama. Seseorang yang mengenal ajaran agama lebih dalam, pasti akan mencintai penciptanya. Dan seseorang yang sudah mencintai penciptanya, pasti akan melibatkan Tuhan dalam segala hal. Aku punya anak perempuan, nanti kalau dia besar. Kita jodohin aja.”
Yakub tertawa. “Seperti jaman kuno saja, mesti pakai acara jodoh- jodohan segala.”
“Loh, ini niat baik. Nggak ada salahnya kan? Tugas orang tua kan memang mencarikan jodoh yang baik untuk anaknya. Dan setelah itu, kita akan merasa tenang saat melihat anak- anak kita memiliki rumah tangga seperti surga. Suami yang salih, istri solehah, lalu punya keturunan baik.”
“Oke. Aku setuju saja.” Sarah mengacungkan jempol.
***
Bersambung
__ADS_1