Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Santai Dulu


__ADS_3

Hari itu semua berada di rumah menghabiskan waktu bersama setelah terjadinya huru-hara yang luar biasa terjadi bertubi-tubi dalam sehari, mereka meluangkan waktu dengan bermain game Playstation di ruang tengah secara bergantian duduk di bawah dekat dengan televisi sementara Revalina dan Sarah duduk di sofa tepat belakang mereka.


 Ketika Revalina dan Sarah bermain suara kericuhan Yakub dan Rival yang sudah seperti penonton bayaran mendadak hilang, seakan memiliki satu frekuensi Revalina dan Sarah menoleh secara bersamaan.


“Mbak, kok nggak ada lagi suara mereka,” ucap Revalina kebingungan.


“Iya, jangan-jangan mereka pergi,” sahut Sarah.


Karena sama-sama penasaran, keduanya langsung menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya mereka melihat Rival dan Yakub tertidur dengan posisi duduk.


“Ya Tuhan, baru saja gantian mereka sudah tidur saja,” gerutu Revalina dengan nada kesal.


“Memang dasar *****, asal nempel langsung molor,” ledek Sarah ikut kesal.


Alhasil pada hari itu Revalina dan Sarah lah yang bermain hingga petang tak peduli dengan para lelaki yang kompak tertidur.


“Aduh lelah juga seharian main Playstation,” keluh Sarah sembari meletakkan stik ps.


“Masa sudah lelah Mbak padahal aku mau ajak main sekali lagi,” ucap Revalina sedikit kecewa.


“Sudah ah besok lagi,” tolak Sarah dengan halus.


“Ayolah,” bujuk Revalina merengek pada Kakak iparnya ini.


Sarah mulai menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, saat itu juga Revalina merasa mencium bau-bau keberhasilan atas bujuk rayunya.


“Iya deh, sekali lagi tapi. Awas kalau lebih,” ucap Sarah dengan terpaksa.


“Yes,” Revalina kegirangan mendengar ucapan Sarah yang mau bermain dengannya untuk satu kali lagi.


Ting ting ting ting.


Dering telfon berbunyi, seketika menghentikan pergerakan Revalina dan Sarah yang hendak meraih stik ps dan kembali bermain.


Reflek mereka cepat-cepat mencari ponsel masing-masing, namun setelah menemukan ponsel masing-masing mereka sama-sama tak mendapati ponsel yang ada di genggamannya kini tengah berdering.


“Punya Kak Yakub mungkin Mbak,” ucap Revalina mulai mengungkapkan dugaannya.


“Iya mungkin, duh takutnya penting,” sahut Sarah segera beranjak dari duduknya menghampiri Yakub yang masih tertidur pulas.


Sarah mulai naik ke atas sofa, menggoyang-goyangkan lengan Yakub seraya memangil namanya.


“Sayang, yang. Yakub ponsel mu berdering,” panggil Sarah sembari terus menggoyangkan lengan suaminya.


Tak lama sebelum ponsel itu berhenti berdering akhirnya Yakub bangun dari tidurnya, begitupun Rival.


“Ada apa sih?” tanya Yakub kesal.


“Itu ponsel mu berdering, cepat angkat siapa tau penting,” jawab Sarah dengan nada kesal pula.


Mendengar hal itu Yakub pun langsung merogoh sakunya, mengambil ponsel yang ternyata menyala terdapat panggilan masuk.


“Tuh kan, mana dari Tante Cindy pula untung aku bangunkan,” ucap Sarah melirik layar benda pipih itu. 


Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya Yakub Nampak terkejut, gelagapan menerima telfon tersebut.


“Halo Tan, assalamualaikum,” ucap Yakub sembari mengucek matanya.


“Iya Tan, kenapa?” tanya Yakub dengan santai.


Tiba-tiba kedua mata yakub terbelalak membuat semuanya panik, apalagi Rival yang duduk tepat di samping Yakub agaknya mendengar perbincangan Yakub dengan Cindy.

__ADS_1


“Astagfirullahalazim, terus sekarang Mama di mana?” tanya Yakub cemas.


Perasaan Revalina mulai tak enak dan makin tak enak ketika melihat ekspresi Yakub setelah menutup telfon, dia langsung tertunduk lesu sembari mengusap wajahnya.


“Ada apa sama Mama?” tanya Sarah khawatir.


“Jawab Kak,” pinta Rival ikut khawatir.


Perlahan Yakub mulai mengangkat dagunya, melirik ke arah Rival cukup lama.


"Mama kenapa?" tanya Rival sembari mengerutkan keningnya.


"Mama pergi dari rumah Tante Cindy, dan Tante Cindy nggak tahu Mama kemana," jawab Yakub lirih lemas.


Seketika Rival langsung menyenderkan tubuh lemasnya ke senderan sofa, menatap langit-langit rumah tanpa titik tuju.


Melihat suaminya yang seperti ini dengan cepat Revalina mendekatinya, berusaha memberi kekuatan padanya melalui usapan lembut tangannya ini.


"Gimana bisa Mama pergi dari rumah Tante Cindy?" tanya Rival mulai tersulut amarah dengan sendirinya.


"Kata Tante Cindy, pagi ini Mama baru cerita kenapa numpang tinggal di rumahnya terus pas tahu semua ceritanya Tante Cindy menegur sikap Mama dan akhirnya Mama kesal, pergi dari sana," jawab Yakub dengan jelas.


Rival mulai memejamkan matanya sembari mengusap dengan posisi kepalanya miring ke arah Revalina, terlihat Rival sekarang terpukul sekali mendengar kabar buruk itu.


"Kenapa Tante Cindy pakai tegur Mama segala, jadi begini kan akhirnya," gerutu Rival lirih, lemas dan kesal.


Tiba-tiba kedua netra Yakub mendelik, terkejut dengan gerutuan Rival dan seketika sorotan matanya menusuk ke arah Rival.


"Kamu nggak bisa salahkan Tante Cindy, niat dia baik tegur Mama kalau respon Mama kayak gitu ya nggak fair kalau kau salahkan Tante Cindy," amuk Yakub dengan wajah memerah padam.


Suasana tiba-tiba mendadak panas, menghadapi situasi saat itu Revalina dan Sarah sigap memegangi suami masing-masing yang sama-sama keras dan tengah tersulut amarah.


"Sudah-sudah, jadi berantem begini. Dari pada berantem nggak jelas lebih baik kita cari cara buat nemuin Mama," ucap Revalina berusaha menjadi peredam amarah suami dan Kakak iparnya.


Akhirnya mereka berembuk memikirkan cara untuk bisa menemukan Candini, langkah pertama tentu dilakukan dengan cara paling ringan yaitu menghubunginya lewat telfon.


Satu-satunya orang yang memungkinkan panggilan teleponnya diangkat hanya Sarah, tak tunggu lama lagi Sarah langsung meraih ponselnya dan mulai menghubungi Candini.


"Semoga diangkat," doa Revalina lirih.


Netra Sarah melirik kesana kemari tanpa henti, hingga pada akhirnya tangannya langsung menurunkan benda pipih itu dari dekat telinganya.


"Gimana Mbak?" tanya Revalina tetap penasaran.


Sarah menggeleng "nggak ada jawaban."


Mendengar jawaban Sarah, semuanya mendadak resah bahkan tanpa pikir panjang Yakub bergegas pergi menuju ke kantor polisi untuk membuat laporan sementara Sarah tak menahan suaminya pergi justru kini terus berusaha menghubungi Candini.


"Aku coba hubungi Kak Rafa, biar dia bisa suruh orang buat cari Mama," ucap Revalina mulai inisatif, jari jemarinya mulai aktif menari di atas layar ponsel.


"Jangan," larang Rival, langsung menyahut ponsel milik Revalina.


Sontak Revalina mendelik mendapati sikap Rival yang terkesan tak sopan sama sekali, ia juga terkejut dengan larangan Rival padahal dirinya berniat baik mencari cara untuk mencari keberadaan Candini. 


"Mas, kenapa?" tanya Revalina masih berusaha memendam amarahnya.


"Jangan merepotkan keluargamu di permasalahan keluarga ku, biarkan ini jadi tanggung jawabku sama Kak Yakub," tegur Rival sembari menatap kedua mata Revalina tanpa berkedip sekalipun.


Ia mulai menelan salivanya, terdiam kaku mendengar teguran itu. Sama sekali tak menyangka inisiatif positifnya akan memicu kemarahan Rival.


Beberapa jam kemudian Revalina baru sadar akan inisiatifnya tadi yang ingin meminta bantuan Rafa, ia sadar jika Rival tak ingin merepotkan Rafa apalagi Chesy untuk urusan orang yang mereka tak senangi. 

__ADS_1


Sejak saat itu Revalina merasa bersalah pada Rival dan juga kini tak lagi berani menyebut nama Kakak dan Uminya, enggan berseteru dengan Rival untuk yang kesekian kalinya.


Tepat jam 10 malam, Yakub tak kunjung pulang juga sementara Sarah sudah gusar berjalan mondar-mandir kesana kemari tanpa henti.


"Mbak, duduklah sini denganku lelah kalau terus mondar-mandir begitu," ucap Revalina sembari menepuk sofa sisi kirinya yang masih kosong.


"Aku lagi cemas Reva, dari sore sampai malam begini Yakub belum pulang juga mana dihubungi nggak diangkat," jelas keresahan Sarah.


Tak bisa dipungkiri Kakak iparnya yang satu itu memang jagonya dalam mengelola emosi berbeda dengan Rival apalagi Dalsa, dengan pandangan Revalina terhadap Yakub yang seperti itu membuatnya tak terlalu khawatir seperti Sarah sekarang.


"Tenang Mbak, pasti sekarang Kak Yakub lagi cari Mama mungkin beberapa teman atau saudara-saudaranya di sini," ujar Revalina dengan nada bicaranya yang tenang.


Tak berselang lama terdengar mobil Yakub terhenti tepat di depan rumah, seketika Sarah langsung berlari keluar.


"Ada-ada saja," ucap Revalina lirih sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Di saat yang bersamaan ketika Yakub mulai masuk ke dalam rumah, Rival pun keluar dari kamar dengan wajah lesunya.


"Mas, mau aku buatkan teh?" tanya Revalina sembari tersenyum tipis ke arahnya.


"Enggak," jawab Rival singkat.


Tiba Yakub di ruang tengah, mereka semua berkumpul membahas kembali permasalahan Candini.


"Jadi gimana Kak, sudah ada kabar keberadaan Mama?" tanya Rival sembari mengerutkan keningnya.


"Sudah," jawab Yakub dengan nada bicaranya yang terdengar berat ditelinga.


"Alhamdulillah," ucap semua serentak.


Semua mengucap syukur namun tidak dengan Revalina yang dibingungkan dengan Yakub yang berat menjawab pertanyaan Rival padahal kabar itu baik.


Revalina mulai gusar, ia merasakan ada kejanggalan di sini.


"Sudah ketemu, lah memangnya polisi nggak minta buat nunggu 1x24 jam dulu baru bisa lapor tentang orang hilang?" tanya Revalina kebingungan.


Sarah menyimak baik-baik ucapan Revalina lalu tak lama Kembali menatap paras tampan Yakub.


"Iya, memangnya aturannya sudah berubah atau kamu ketemu sendiri tanpa ada polisi?" tanya Sarah sembari menatap Yakub dengan cukup dekat.


"Ketemu di mana Kak, di rumah teman Mama?" tanya Rival sambil menebak.


Ketiganya menyerang Yakub dengan pertanyaan masing-masing, sementara Yakub hanya punya satu mulut untuk menjawab satu-satu pertanyaan mereka bertiga.


"Tunggu satu-satunya jangan gerudukan tangannya," ucap Yakub sembari menatap semuanya satu-persatu.


Terlihat dari kedua mata Rival nampak menunjukkan rona bahagianya mendengar kabar baik ini yang seketika menepis wajah kusutnya sejak sore tadi.


"Bukan," jawab Yakub atas pertanyaan Rival.


Dengan sabar Revalina dan Sarah menunggu giliran untuk di jawab pertanyaan mereka.


"Terus di mana?" tanya Sarah ikut penasaran.


Semua mulai menaikkan atensinya, menyimak baik-baik jawaban yang akan keluar dari mulut Yakub. Masing-masing tentu punya bayangan tersendiri tentang di mana tempat yang dituju Candini setelah pergi dari 


"Di kantor polisi," jawab Yakub sembari menghembuskan nafas beratnya.


"Hah," semua terkejut mendengar jawaban Yakub.


"Gimana bisa ada di kantor polisi, aku nggak yakin kalau aturan lapor berubah. Masa bisa begitu," ucap Rival kebingungan.

__ADS_1


Posisi duduk yang saling berhadapan, Rival duduk bersanding dengan Revalina kini mendapatkan sorotan mata dari Yakub jadi bingung antara siap la yang sedang ditatap Kakak iparnya ini.


"Aku jelaskan," ucap Yakub dengan nada serius.


__ADS_2