Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Malam Pertama


__ADS_3

Panik mendengar suara Rival dari balik pintu cepat-cepat Revalina menyembunyikan ponsel ke dalam kantung baju tidurnya. 


"Nggak papa," jawab Revalina dengan lantang.


"Serius nggak papa?" tanya Rival kembali.


"Iya serius, ini juga mau keluar," jawab Revalina sambil menahan kekesalannya.


Terpaksa ia harus menyudahi semua, tak mungkin nekat untuk teruskan menonton rekaman video Dalsa yang masih berlanjut.


'Dari pada Pak Dosen itu jadi curiga lebih baik aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi ini,' ucap Revalina dalam hati.


Terpaksa ia keluar dari kamar namun masih mengenakkan earphone, masih berusaha mencari bukti terlebih satu pelaku yang masih belum jelas meski rasanya satu tanda pamungkas tertuju pada Rival.


Klekkkk.


Revalina membuka pintu kamar mandi. "Kenapa sih Pak?"


Terlihat Rival sudah duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya, namun ketikan Revalina datang dia sigap menyingkirkan benda ketergantungan semua umat itu.


"Pak lagi?" tanya balik Rival dengan raut wajah keheranan.


"Terus gimana, aku harus panggil apa?" tanya Revalina hampir frustasi dibuatnya.


"Mas, atau apa kek. Panggilan kesayangan begitu seperti orang-orang pada umumnya," jawab Rival berujung membanding-bandingkan.


'Masalahnya kita itu bukan orang pada umumnya. Jangan mimpi aku akan memanggilmu dengan panggilan kesayangan,' ucap Revalina dalam hati.


"Iya-iya," Revalina pasrah, enggan berdebat lebih lama dengan seseorang yang ia anggap musuh saat ini.


Masih dengan posisi berdiri, Revalina berusaha coba cari cara untuk tidak naik ke atas ranjang sekarang. Melihat kue-kue basah di atas meja, ia pun langsung bergegas menghampiri meski perut sudah terasa penuh.


"Wah enak-enak nih," ucap Revalina mengambil satu kue dari piring putih itu.


"Kalau makan itu duduk, sini duduk sini," tegur Rival berujung perintah.


Mendengar hal itu Revalina melirik sebentar, lalu kembali menatap kue basah yang diambilnya. Memacu otaknya berpikir sejenak.

__ADS_1


'Aku nggak mungkin makan kue ini sambil berdiri, tapi kalau duduk di atas ranjang aku nggak mau juga,' ucap Revalina dalam hati cemas.


Tak lama ia berhasil menemukan solusi tanpa membuat Rival tersinggung, ia memilih duduk di sofa kecil tepat di ujung ranjang big size itu.


"Lah, aku suruh duduk di sini kamu malah kesana," protes Rival.


Revalina seperti manusia tak berdosa menyantap lahap kuenya tanpa peduli kalimat protes dari Rival.


"Kata Umi nggak boleh makan di ranjang, nggak baik katanya jadi aku makan di sini saja," jawab Revalina dengan pembawaan yang santai.


Tiba-tiba suasana kamar jadi hening, Rival tak lagi bersuara lagi entah karena sudah tak mampu mendebat, lelah atau sedang membenarkan kalimat Revalina.


Tapi tak disangka tiba-tiba Rival perlahan dari belakang menyelinap duduk disamping Revalina, ada yang lebih menyebalkan lagi yaitu ketika melihat senyumnya yang membuat Revalina geli setengah mati.


'Kenapa dia pakai ikut-ikutan duduk di sini rasanya pengen aku tampol juga nih,' gerutu Revalina dalam hatinya.


Meski fokus Revalina berada di kue yang sudah seperempat ludes dilahapnya tapi tetap saja kehadiran Rival begitu mengganggu, suaranya terus beradu dengan suara Dalsa dari earphone.


"Kamu masih dengerin lagu yang disebut Akram tadi?" tanya Rival salah fokus dengan earphone yang masih terpasang di satu sisi telinga Revalina.


Sontak mulut Revalina berhenti mengunyah saat itu juga, membuang pandangannya ke sudut lantai, mencari-cari jawaban disana. 


"Iya," jawab Revalina singkat sambil mengunyah kembali kuenya.


"Coba aku pengen dengar juga," pinta Rival mulai meraih earphone ditelinga Revalina.


Panik setengah mati reflek Revalina menepis tangan Rival dengan cukup kasar, ia sangat panik ketika Rival hendak mengambil earphonenya dan kini keduanya terlihat adu pandang yang satu kebingungan sementara yang satu terkena serangan panik.


"Em, aku masih pengen mendengar lagunya," ucap Revalina sambil tersenyum.


Dalam dada yang terus bergemuruh antara degup jantung setengah copot dengan doa berharap Rival tak mencurigainya, sementara alasan yang ia gunakan tak sepenuhnya mencengkram kuat akar-akar di tepi jurang ini.


'Aku nggak mungkin terus-menerus pakai earphone bisa-bisa Pak Dosen ini tanpa aba-aba langsung ambil, auto kebongkar semua,' gumam Revalina dalam hati.


Beruntung saat itu Rival bisa mengerti kemauan Revalina saat itu juga. Sikap rendah hati dan selalu mementingkan perasaaan orang membuat segala ketakutan Revalina perlahan tertepiskan.


Makin lama kue yang ada ditangannya habis yang berarti sudah tak ada lagi alasan untuk ia ambil untuk menghindari Rival dalam berbagai hal apapun meskipun hanya untuk berbincang.

__ADS_1


Perlahan laki-laki berkaos abu-abu itu perlahan menggeser pantatnya mengarahkan posisi duduknya beberapa  puluh cm mendekat ke arah Revalina.


'Ya Tuhan tolong selamatkan aku, aku masih ingin hidup dengan tubuh yang masih suci," ucap doa Rival di dalam hati.


Melihat sikap dan timing seperti ini wanita mana tak curiga dengan apa yang akan dia lakukan, andai saling cinta mungkin ia tak akan menghindar seperti ini.


"Makan mu sudah, mau nambah lagi nggak?" tanya Rival sambil melirik antara Revalina dan Kue-kue yang ada di meja sebrang.


Revalina menggeleng cepat. "Enggak."


Mendengar jawaban Revalina, Dosen muda itu lantas semakin girang terlihat dari senyum di kedua sudut bibirnya.


'Sikapnya makin aneh saja, gimana aku nggak geli coba,' gerutu Revalina dalam hati.


"Re, kamu tahu kan ini malam apa?" tanya Rival mulai mengajak Revalina bermain tebak-tebakan arau entah bagaimana.


"Malam apa, malam Rabu Kliwon?" tanya balik Revalina sambil menaikkan satu alisnya.


"Ya Tuhan, bukan itu," jawab Rival memicing sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Benar deh, Umi kemarin bilang kalo hari ini itu hari Rabu Kliwon," gumam Revalina lirih bingung, jawaban Rival barusan membuatnya berpikir keras untuk yang kesekian kali.


"Malam ini itu malam pertama kita," ujar Rival enggan bermain tebak-tebakan kembali.


Agaknya kesabarannya tak setebal kanebo tua sehingga memilih untuk mengungkap semua.


Sementara itu Revalina ternganga mendengar apa yang dikatakan Rival, tak sedikitpun ia berfikir ke arah sana dan tak menyangka juga Rival akan menyinggung hal ini.


'Gila, baru sehari jadi suami istri dia sudah begini. Menakutkan sekali, sungguh rasanya aku ingin menghilang dari bumi saat ini juga,' ucap Revalina dalam hati.


Nampak jelas kesunyian dalam perbincangan mereka akibat tidak adanya respon dari Revalina. Merasa akan hal itu ia tak mungkin tinggal diam, dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya perlahan mulut berani bersuara.


"Ke-kenapa memangnya kalau malam pertama?" tanya Revalina dengan terbata-bata.


Rival semakin semangat, posisi duduknya langsung berubah kini menghadap ke arah Revalina dengan menebarkan senyum termanisnya.


"Karena malam ini adalah malam pertama kita, aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu," ujar Rival menatap kedua mata Revalina dengan dalam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2