
Di atas mobil yang melaju membelah keramaian kota, Chesy melirik suaminya yang sejak tadi diam saja. sepanjang perjalanan, keduanya membisu. Cazim fokus menyetir mobil milik Chesy. sedangkan Chesy sesekali mencuri pandang ke arah suaminya.
Hanya suara musik slow yang mengisi kesunyian.
“Jangan ngebut-ngebut! Aku trauma,” ucap Chesy.
Cazim langsung menginjak rem, memperlambat tingkat kelajuan mobilnya.
Masih juga pria itu membisu. Tidak sedikit pun mengeluarkan suara.
Sebenarnya Chesy rindu mendengar suara suaminya. Padahal baru beberapa jam saja ia tidak mendengar suara itu, tapi rasanya seperti sudah lama sekali.
“Kau terlihat lesu, masih agak pucat. Apakah kita berhenti di apotik untuk membeli obat?” tanya Cazim.
Akhirnya Cazim bersuara juga. Chesy menggeleng. “Aku sudah bawa vitamin.”
“Siapa tahu ada sakit yang kau tidak ketahui, maka kau harus periksakan ke dokter supaya tahu apa penyakitmu.”
“Aku nggak apa-apa. Ini biasa terjadi kalau demam. Nanti juga sembuh.”
“Kalau ternyata terkena virus rabies atau apa gitu, bagaimana?”
Sontak tatapan tajam mata Chesy tertuju ke Cazim, membuat pria itu mengulum senyum kecil.
“Nggak lucu!” ketus Chesy.
“Aku juga tidak sedang melawak. Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Jawab jujur ya!”
“Tergantung. Aku akan jujur kalau itu perlu.”
“Apa yang membuatmu berubah pikiran untuk tetap mempertahankan aku. Bukankah tidak ada satu hal pun yang tepat untuk dijadikan alasan mempertahankan rumah tangga kita? Aku ini penjahat, aku terlibat skandal besar yang sewaktu-waktu bisa saja membuatku diseret ke hukum atas kasusku, aku juga pembunuh umimu.”
Chesy menghela napas berat. ia merapikan baju di bagian perutnya, ada calon bayi di sana. “Demi aku dan abi. Abi adalah seorang ustad. Warga pasti akan memandang sebelah mata saat tahu anak seorang ustad bercerai. Demi nama baik aku dan abi.”
“Hanya itu?” Cazim menggerakkan defogger di kaca depan saat rintik hujan mulai turun.
“Jadi kamu mintanya bagaimana?” kesal Chesy yang merasa diinterogasi.
“Aku merasa seperti ada alasan lain yang lebih kuat. Entah apa.”
__ADS_1
“Menurutmu apa?”
“Kau minta aku menebaknya? Baiklah…” Cazim pura-pura mikir sambil mengetuk-ngetukkan jari di dagu. “Mungkin karena kau mencintaiku. Seorang Cazim memang berbeda. Dia selalu memberikan karisma tersendiri hingga para wanita merasa terpesona. Eh, tidak begitu maksudku.” Cazim meralat ucapannya ketika melihat wajah Chesy mulai tidak enak dipandang mata. “Ya… Mungkin karena kau mencintaiku.”
Belum sempat Chesy menanggapi, di depan sana tampak pemandangan seorang wanita terjatuh dari motor, kecepatan terlalu tinggi hingga kehilangan kendali. Motor pun tersungkur. Tubuh si pengendara tertimpa motor.
“Ya ampun, orang itu jatuh!” jerit Chesy sampai punggungnya tegak lurus, terkejut melihat sosok di depan terbanting jatuh. “Kasian sekali dia. Ayo kita bantu!”
Cazim menuruti. Ia menepikan mobil setelah menyalakan lampu sein.
“Kau tunggu di sini.” Cazim turun dari mobil dengan berlari- lari kecil. Ia menghampiri wanita yang tengah merintih dan menangis dengan tubuh penuh luka babak belur.
Cazim mengangkat motor yang menimpa tubuh gadis itu. Sekilas ia mengernyit melihat motor yang dia pegangi. Sepertinya ia mengenal motor itu.
Benar saja, saat ia menoleh ke arah korban kecelakaan, ia menatap wajah yang tidak asing. Senja.
Apa boleh buat, ia tetap menolong Senja sesuai permintaan Chesy. Di sini bukan tentang siapa yang mesti ditolong, tapi tentang kemanusiaan.
“Ayo, kubantu!” Cazim meraih pundak Senja.
“Cazim?” Senja terkejut melihat sosok di depannya. Ia langsung mengalungkan lengannya ke leher Cazim. Matanya mengerjap-ngerjap akibat rintik hujan yang berjatuhan menimpa wajahnya. “Aku tidak bisa berjalan.”
“Kakiku sakit.” Senja memegangi kakinya yang berdarah. Luka di kaki cukup serius.
Cazim menggendong tubuh Senja dan membawanya masuk ke kursi belakang.
Chesy menoleh dengan wajah kaku, sejak Cazim menggendong Senja di luar tadi, Chesy sudah melihat wajah korban laka lantas tersebut adalah Senja.
“Sakit, Cazim. Sakit!” Senja mempererat rangkulannya di leher Cazim.
“Ya. Duduklah tenang disitu. Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
“Tapi bagaimana ini? Kakiku sakit sekali.” Senja menangis.
“Kau lepaskan tanganmu dulu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau begini. Sakitmu akan semakin parah jika tidak cepat ditangani.”
“Duduklah di sampingku. Bantu aku menekan kakiku ini. Rasanya sakit sekali. Biar Chesy yang setir mobilnya,” rengek Senja.
“Mas Cazim, biar aku yang duduk di sisi Senja,” ucap Chesy langsung keluar dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Lepaskan!” Cazim melepas lengan Senja dari lehernya.
Seorang lelaki berlari kecil menghampiri. “Ada kecelakaan ya, Mas?”
“Ya, kecelakaan tunggal, “ jawab Cazim.
“Kebetulan saya pemilik bengkel yang itu!” pria itu menunjuk bengkel tak jauh dari sana. “Saya bantu bawa motornya ke bengkel ya, Mas. Silakan diambil kapan pun Mas bisa.”
“Ide bagus. Sekalian diperbaiki ya, temanku akan jemput saat motor sudah baik.”
“Ini kartu nama saya. Bisa hubungi saya nanti.”
Cazim meraih kartu nama yang diberikan. Ia kemudian berputar menuju ke bagian kemudi.
Chesy sudah duduk di sisi Senja.
“Kakiku sakit sekali, Chesy. Kamu pegangi bagian atas yang sakit itu! Aku tidak tahan.” Senja terus merengek dan merintih. Ia di posisi berbaring dengan satu kaki bertengger di atas paha Chesy. Darah segar meleleh di kaki itu hingga mengenai pakaian Chesy.
Chesy memencet betis Senja tepat di dekat luka supaya rasa sakit berkurang.
“Aduuuh… Kamu pencet pakai apa? Kenapa tajam sekali? Kukumu panjag itu.” Lagi-lagi Senja mengeluh. Dia rame sekali.
“Kukuku nggak panjang. Diamlah! Lebih baik banyak- banyak istighfar dari pada terus-terusan merengek begitu,” celetuk Chesy sebel mendengar rengekan Senja yang tidak putus.
“Ini sakit, Chesy. Aku sungguh-sungguh merasa sakit.” Senja masih merengek lagi. “Kalau saja kamu yang merasakannya, pasti juga akan melakukan hal yang sama.”
“Ah, aku tidak secengeng kamu.”
Plak!
Chesy meukul kaki Senja.
“Awh… Aduuuh… Sakit!” Senja kesal bukan main.
Cazim hanya melirik ke arah spion, sama sekali tidak mengomentari.
Sebenarnya Chesy merasa terganggu atas keberadaan Senja, tapi mau bagaimaa lagi. Dialah yang meminta Cazim menolong korban laka lantas yang ternyata itu adalah Senja.
Posisi mereka terkesan sama seperti saat kecelakaan maut beberapa waktu lalu, mereka bertiga berada di satu mobil. Dan kini posisi itu kembali terulang, beda posisi duduk saja.
__ADS_1
Bersambung