
"Chesy, wake up! You can't die. I want to see you angry! Common!" Cazim bicara sendiri dengan suara serak, setengah berteriak. Besar harapannya inginkan Chesy bangun. Ia mengusap wajah kasar, mengusap rambut kasar pula.
"Oh ya ampun! Apa yang kau lakukan padaku? Kau akan membuatku gila jika sampai kau meninggalkan aku!" Cazim menundukkan kepala, mendekat ke wajah Chesy. Napasnya hangat menampar pipi Chesy.
Tahan, Chesy. Tahan! Jangan sampai buka mata.
Chesy dapat merasakan betapa dekat wajah Cazim ke wajahnya. Sangat dekat. Tamparan napas hangat itu membuatnya dapat merasakan jarak wajah mereka hanya dua centi saja.
Chesy kemudian merasakan tangannya digenggam. Genggaman itu dingin sekali. Iya, telapak tangan Cazim terasa sangat dingin seperti es. Cazim pasti kedinginan, sehabis kehujanan tidak ada penghangat.
Chesy merasakan tangannya diangkat, punggung tangan dicium erat oleh bibir yang terasa dingin sekali.
Srrr....
Sesuatu yang hangat mendesir di hati Chesy. Apa itu? Rasanya menggelora. Chesy ingin sekali membuka mata, namun ia menahan diri. Biarkan saja begini. Jika memang dengan memejamkan mata akan membuat situasi menjadi hangat, kenapa harus berlalu cepat? Lebih baik terpejam saja. Begini lebih baik.
"Aarrrkh..." Cazim mengerang kesal pada keadaan, ia melepas tangan Chesy dan kembali mengusap rambut kasar.
__ADS_1
Dokter masuk dan Cazim langsung fokus menatap kedatangan dokter yang datang bersama dengan seorang suster.
"Dok, istri saya bisa sembuh kan? Ini bagaimana kondisi istri saya?" Cazim panik sekali.
Andai saja Chesy melihat kepanikan di wajah Cazim, dia pasti akan merasa bangga. Tapi sayangnya ia mesti harus pura- pura terpejam.
"Tenang, Pak! Istri bapak masih dalam penanganan kami. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak ada luka serius yang membuat cacat. Hanya bagian leher belakang saja yang butuh gips seperti yang dipasang sekarang karena ada pergeseran tulang, juga bagian paha yang memar. Setelah masa perawatan, saya yakin istri bapak akan kembali pulih," jawab dokter berusaha menenangkan.
"Tapi sejak tadi istri saya belum juga siuman. Dia masih bisa bangun kan? Kenapa dia tidak sadar juga sejak tadi?" Cazim masih tampak panik.
"Pasien sudah siuman saat saya tinggalkan tadi. Justru saya kemari mau cek dan suruh suster memindahkan pasien ke ruang rawat. Coba saya periksa lagi." Dokter mendekati Chesy dan melakukan pemeriksaan dengan stetoskop.
"Chesy!" lirih Cazim dengan ekspresi berbeda.
Chesy tak tahan lagi, akhirnya matanya terbuka.
Alis Cazim terangkat sempurna dengan mata membulat. Wajah itu merah padam.
__ADS_1
"Sus, pindahkan pasien ke ruang rawat!" Dokter melangkah pergi.
Suster mengarahkan kursi roda ke arah Chesy dan membantu Chesy bangkit duduk.
"Sudah, Sus! Tidak perlu Anda bantu untuk memindahkannya. Anda keluarlah sekarang!" titah Cazim.
"Tidak bisa, Pak. Pasien harus dipindahkan sesuai anjuran dokter saya hanya menjalankan tugas," jawab suster.
"Tidak perlu!" tegas Cazim. "Sebutkan saja kamar mana yang akan ditempati pasien ini. Aku akan mengantarnya ke sana sendiri."
"Kamar Melati nomer 56."
"Hm. Pergilah!"
"Apa bapak mengetahui posisi kamarnya?" tanya Suster.
"Mataku masih normal dan bisa mencari." Cazim berbicara dengan pandangan mata tertuju ke wajah Chesy.
__ADS_1
Tatapan tajam itu membuat Chesy terpaku di tempat. Cazim marah?
Bersambung