Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Yunus mengajak Cazim duduk di sebuah pendopo di belakang rumah, agak jauh dari kolam renang. Tempat itu dikelilingi dengan bunga, sebuah tempat duduk lesehan terbuat dari kayu jati warna cokelat dengan ukuran tiga kali dua meter, atapnya melindungi bagian bawah.


Yunus membuka kitab tafsir dan mengupas kitab tersebut bersama dengan Cazim. Keduanya terlihat asik sekali.


Bi Parti menyuguhkan minuman hangat dan makanan ringan.


Sedangkan Chesy langsung keluar rumah begitu matahari mulai menunjukkan cahayanya. Ia mengenakan celana aladin dan hijab sepanjang siku serta sepatu sport.


"Non, mau kemana?" tanya Bi Parti yang melihat Chesy mengikat tali sepatu di teras.


"Joging, Bik."


"Udah pamitan belum sama suami tersayang? Mamas ganteng yang soleh dan menggemaskan itu?" Bi Parti mencubit pipinya sendiri sambil senyam senyum.


"Bibik jangan ngaco deh, Cazim itu jelek. Jangan lihat manusia dari casingnya, luarnya baik, belum tentu dalemnya baik. Penjahat pun bisa berbuat begitu."


"Eleh enon jangan begitu, Non. Nggak baik marah marah sama suami, dosa."


Darel yang baru muncul membawa sapu lidi itu pun tersenyum menatap Chesy. "Biasalah pengantin baru mah sukanya gengsi, malamnya udah mantap mantap, tapi paginya jauh- jauhan biar nggak kelihatan betul."

__ADS_1


"His! Apaan mantap mantap? Mang Darel kayaknya minta dipecat nih?" Chesy menatap kesal.


"Eh, jangan Non. Nganggur dong saya kalau dipecat." Darel menampilkan muka memelasnya.


"Lagian Non kok bisa benci banget sih sama Mas ganteng? Bukannya Mas Ganteng itu soleh ya?" Bi Parti menimpali.


"Ambil deh kalau bibik mau!" Chesy berlari kecil meninggalkan teras. Ia menuju ke rumah Sarah, menghampiri sahabatnya yang sudah janjian mau joging bersama. Sarah sudah menunggu, mengenakan satu set training warna pink, jilbab pun warna senada.


"Dih, kayak ulat keket aja pakai kostum pink semua. Bibir pun pink begitu," komentar Chesy membuat Sarah terkekeh.


Mereka kemudian berlari kecil bersama- sama di pinggir jalan. Menghirup udara segar. Mereka melintasi rumah kontrakan Cazim.


"Eh, lihat deh, itu siapa?" Sarah menunjuk seorang gadis yang berdiri celingukan di depan rumah kontrakan Cazim.


"Itu maling kali ya?" bisik Sarah.


"Ngawur! Maling kok necis begitu penampilannya?"


"Yeee... Maling jaman sekarang mah modern semua. Tampilannya modis. Tapi kalau bukan maling terus siapa itu?"

__ADS_1


"Tauk."


"Janda pastinya tuh."


"Tau dari mana? Body nya aja singset begitu, muka juga baby face, kok dikatain janda?"


"Rambut pirang tuh."


"Hmm... Korban status nih kayaknya." Chesy geleng- geleng kepala.


"Atau jangan- jangan ada kaitannya sama Cazim."


"Aku nggak peduli, urusan Cazim bukan urusanku. Sekalian dimaling aja isi rumahnya, gak masalah." Chesy hendak pergi, namun Sarah menahannya.


"Hei, bukankah kamu mau selidiki siapa Cazim yang sebenarnya? Kenapa malah nggak mau tau tentang dia sih?"


"Duh, palaku agak nge bleng nih makanya buyar kalau ngomongin Cazim, bawaannya tuh nggak mau membahas dia. Eneg perutku. Tapi ya udah, aku mau cari tau, siapa tau gadis itu akan menjawab rasa penasaranku selama ini." Chesy berjalan mendekati gadis itu.


"Eh, selamat pagi!" sapa gadis itu saat menoleh dan mendapati keberadaan Chesy.

__ADS_1


"Pagi! Kamu siapa? Dan cari siapa ya?" tanya Chesy.


Bersambung


__ADS_2