
Rival mengenggam botol minyak urut sementara satu tangannya perlahan mulai meraih kaki Revalina, sontak Revalina terkejut cepat-cepat menghadang tangan Rival.
"Eh, jangan di sini. Apa bapak tidak malu mengurut kaki mahasiswa mu di parkiran minimarket," Revalina melotot ke arah Rival.
Tubuh Rival seketika kaku, terdiam beberapa detik lalu melenggang pergi tanpa sahutan sedikitpun.
"Brkkk," pintu mobil dari sisi kanan tertutup, Rival sudah duduk di kursi kemudi.
"Kita langsung ke rumahku saja," ucap Rival langsung melajukan mobil.
Sepanjang perjalanan ke rumah Rival terus terdiam begitupun Revalina, ia sibuk memakan snack yang dibeli Rival.
Setibanya di rumah Rival mempersilahkan Revalina untuk duduk di sofa ruang tengah. Revalina menatap bingung kenapa dirinya di bawa ke ruang tengah yang harus melewati ruang tamu.
'Bukankah aku ini tamu di sini? ucap Revalina bertanya-tanya dalam hatinya.
"Duduk jangan banyak gerak, biar aku panggilkan tukang pijit," ucap Rival sambil meletakkan tasnya ke atas meja.
Revalina pun duduk dengan tenang, mendapati tas itu tergeletak di atas meja. Perlahan Rival pergi ke arah belakang. Rival membiarkannya seorang diri di dalam rumah, termenung menatap sunyinya rumah besar ini.
"Assalamualaikum," salam seseorang dari balik pintu utama.
Di dalam rumah tak ada seorang pun, terpaksa Revalina beranjak dari duduknya menerima tamu yang datang.
"Klekk," suara pintu terbuka.
Revalina terkejut mendapati Sarah adalah sosok wanita di balik pintu itu.
"Eh Tante," Revalina tersenyum canggung.
"Revalina, lagi main?" tanya Sarah tersenyum ramah ke arah Revalina.
"Iya Tan," jawab Revalina mengangguk tipis.
"Kamu sama Rival ke sini?" tanya Sarah kembali.
"Iya. tapi dia tadi ke belakang, tak lama lagi juga dia balik," jawab Revalina dengan tutur sopan.
Sarah pun mulai menggerakkan tungkainya, melangkah masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruang tamu yang tak jauh dari pintu utama. Begitu pun Revalina segera menyusul duduk di ruang tamu bersamanya.
"Gimana Revalina, kuliahnya lancar?" tanya Sarah.
"Alhamdulillah lancar Tante," jawab Revalina mengangguk sambil tersenyum ke arahnya.
"Syukurlah, kalau kuliah lancar dan cepat lulus pasti Chesy bangga," ucap Sarah tersenyum bangga.
__ADS_1
Tatapan Sarah begitu teduh, membuat setiap didekatnya Revalina selalu merasakan sosok ibu kedua ada di diri Sarah.
"Chesy apa kabar sekarang?" tanya Sarah.
Revalina tersenyum, sedikit memundurkan posisi tegap kepalanya sekarang.
"Umi baik Tan," jawab Revalina dengan raut wajah keheranan.
"Bukannya tak lama ini Tante sama Umi baru pergi berdua?" tanya Revalina sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Hihihi," Sarah terkekeh mengingat hal itu.
"Hihi, masa Tante sudah jadi pelupa," ledek Revalina terkikih lirih.
Sarah tetap tersenyum.
"Eh, enak saja. Tante masih muda ya, cuma tadi kepingin tanya saja kan satu detik bisa terjadi apa saja. Syukur kalau Umi mu baik, sehat," jelas Sarah menahan kikihannya sekuat tenaga.
Beberapa lama kemudian Rival muncul bersama dengan ponsel di genggaman tangannya, bercengkrama dengan Sarah lalu masuk ke dalam inti pembahasan penting. Tatapan Sarah kini kembali pada Revalina.
"Re, gini dong, sering-sering mampir ke rumah ini," ucap Sarah.
"Siap Tan," sahut Revalina mengangguk.
"Jangan siap-siap saja, tante senang kamu berkunjung," desak Sarah sambil tersenyum.
Sarah pun melenggang pergi, meninggalkan Revalina dan Rival berdua di ruang tamu.
"Sepi sekali rumah mu, memangnya semua pada kemana?" tanya Revalina masu celingukan kesana kemari.
"Jam segini memang begini situasinya, tapi bentar lagi juga pada balik," jawab Rival dengan santainya.
"Terus tukang pijitnya mana?" tanya Revalina menatatap bingung Rival kembali ke rumah seorang diri.
"Tukang pijitnya lagi nggak ada di rumah tapi katanya sebentar lagi pulang, tunggu saja dia pasti sebentar lagi muncul," jawab Rival dengan santai.
"Batalkan saja, lagi pula kaki ku nggak kram lagi," ucap Revalina sambil melirik kedua kakinya.
Sang Dosen langsung menaikkan atensinya, menatap Revalina dengan terkejut.
"Cepat sekali tiba-tiba bisa sembuh. Tapi nggak bisa dibiarkan kau harus pijat supaya kram itu nggak datang lagi," ucap Rival.
"Tak perlu berlebihan. Batalkan saja, lagi pula aku tak mau lama-lama di sini. Takut Umi marah," sahut Revalina.
"Orang tadi sudah izin sama Umi masih saja takut kena marah, lagi pula yang mengajak mu itu calon suami mu bukan orang lain," gumam Rival dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Netra Revalina langsung berputar, rasanya ingin berkata saat itu namun terbungkam oleh kata hatinya yang memilih menjaga hati sang Dosen.
'Sebutan calon suami masih saja terus diucapkan, rasanya telinga ku mau meledak mendengarnya,' gerutu Revalina dal hati.
"Klekkk," tiba-tiba pintu terbuka, terlihat Dalsa masuk ke dalam rumah tanpa salam.
Tampak Dalsa menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan wajah kusutnya, tangan kiri perlahan merogoh isi dalam Tote bag hitam miliknya.
Dia mengambil ponsel, membuat degup jantung Revalina terpacu kencang.
"Mas," panggil Dalsa pada Rival dengan nada kesal.
"Ada apa?" tanya Rival berbalik kesal.
"Kau ini tahu sopan santun kan, masuk rumah seenak jidat bukannya salam dulu," gerutu Rival pada Dalsa.
"Maksud mu chat aku tadi apa Mas?" tanya Dalsa menatap lemas, tanpa menghiraukan pertanyaan Faruq barusan.
Rival langsung beranjak dari duduknya, ia nampak terkejut dengan pertanyaan Dalsa didukung dengan ekspresi wajahnya yang mengundang kecemasan.
"Chat apa?" tanya balik Rival kebingungan.
"Jangan pura-pura tidak tahu, cepat katakan saja," sahut Dalsa mulai keras.
Tanpa lagi banyak bicara Dalsa menunjukkan isi chat itu di depan mata Rival.
Rasanya jantung seperti tersambar petir di siang bolong, Revalina tak berekspektasi jika Dalsa akan menanyakan langsung bahkan di depan matanya.
Netra sang Dosen memicing keheranan, membaca isi pesan tersebut. Berulang kali membaca dan mengecek pemilik akun itu, namun semua benar bahwa memang akunnya yang menuliskan pesan seperti itu.
Masih tak percaya Rival mulai merogoh ponsel dalam saku celananya, membuka chat nya dengan Dalsa dan betapa terkejutnya ia melihat tidak ada chat dengannya yang ada justru sisa chat kemarin-kemarin.
"Enggak tuh, aku nggak chat kamu," Rival menunjukkan balik layar ponselnya ke wajah Dalsa.
Berbeda dengan ekspresi Rival, Dalsa justru tidak terkejut sama sekali. Wajahnya masih nampak menunjukkan rasa kekesalan yang bercampur lelah, dia Baha'i kehilangan daya.
"Bisa saja kau hapus sebelum aku ke sini," tuduh Dalsa, masih enggan percaya dengan Rival.
Mata Rival terpejam beberapa detik, merasa frustasi menjelaskan yang sebenarnya pada Dalsa.
Sedang Revalina terus memilih bungkam, posisinya terlalu bahaya di sini. Bukam lebih baik.
"Ya Tuhan bagaimana caraku menjelaskan," keluh Rival.
Tiba-tiba Rival mengalihkannya pandangan ke arah Revalina, mulai mendorong dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Bersambung