
Alis Dalsa terangkat dan bertanya, "Jadi ini perempuan yang katanya bakalan jadi istrinya Mas Rival?"
Nada suara dan tatapan muak Dalsa sudah menjadi bukti bahwa Dalsa sedang menunjukkan sikap tak suka.
"Iya, ini Revalina, calon istrinya Rival," jelas Sarah. "Revalina ini satu kampus juga sama kamu kan?"
"Ini nggak benar. Perempuan ini nggak pantes jadi istrinya Mas Rival. Dia hanya akan menjadi sumber masalah. Najis!" Dalsa menghambur pergi bersama dengan kemarahannya.
"Dalsa!" seru Rival dengan keras, namun tak dihiraukan oleh Dalsa.
"Chesy, maaf. Dalsa memang agak nakal. Jangan dimasukkan ke hati. Dia nggak bermaksud begitu." Sarah bingung harus berkata apa untuk menenangkan situasi.
Chesy menoleh kepada Revalina. Di sini, Revalina lah yang menjadi korban.
Wajah Revalina tampak berubah.
"Revalina, jangan dimasukkan ke hati ya perkataan Dalsa tadi. Nanti tante akan bicara sama Dalsa baik- baik. Dia pasti akan memahami kok," ucap Sarah.
"Aku dan Dalsa itu memiliki usia yang sama, tante. Kedewasaan kami mungkin berbeda, tapi usia sama. Setidaknya Dalsa sudah paham dengan apa yang dia sampaikan barusan, dia sudah besar," ucap Revalina. "Aku kecewa dengan sikapnya, seandainya ini mau diteruskan, aku minta supaya dia bisa menerimaku, juga minta maaf padaku. Tapi kalau enggak, aku nggak mau malah terjadi perang melulu antara aku dan dia setiap saat karena aku akan menjadi bagian keluarga ini." Ini saatnya Revalina mengambil kesempatan untuk menaklukkan Dalsa. Dalsa harus mendapatkan perlakuan yang setimpal atas perilakunya itu.
"Aku pastikan dia akan meminta maaf padamu," sahut Rival cepat.
"Kamu yakin? Bukankah Dalsa itu keras kepala? Dia selalu mau menang sendiri dan nggak mau dianggap kecil sama siapa pun."
"Aku bisa atasi. Jangan ragukan perkataanku," sahut Rival. "Duduklah!" Rival menarik lengan Revalina hingga gadis itu kembali duduk setelah tadi sempat berdiri karena tersulut emosi.
"Aku nggak mood makan. Selera makanku hilang. Aku pergi aja." Revalina bangkit, namun kembali terduduk saat Rival menarik kuat lengannya.
Sialan nih cowok. Bokongku sakit gara- gara terhempas keras ke kursi. Revalina kesal bukan main.
"Orang tuamu akan makan di sini, juga orang tuaku. Setidaknya hargai mereka. Ikutlah makan bersama," pinta Rival dengan nada bicara yang tak berubah, selalu dingin.
Dalam hati Revalina membenarkan perkataan Rival. Ia pun memulai makan setelah Yakub mengajak supaya makan malam dimulai.
Revalina hanya mengambil sosis dan kentang goreng. Ia tidak berminat makan. Beberapa potong sosis dan kentang goreng saja sudah cukup untuk mengganjal perut.
“Oh ya, ngomong- ngomong, Revalina dan Rival kan sudah sama- sama setuju nih untuk menyatu dalam ikatan pernikahan, kira-kira kapan mereka bisa menikah?” ucap Sarah.
__ADS_1
“Uhuk!” Revalina tersedak.
Sebuah gelas langsung terangkat dan disoodorkan ke hadapannya. Rafa tersenyum menyodorkan gelas itu.
“Makasih, Rafa!” Revalina meneguk air mineral.
“Soal pernikahan, menunggu Revalina lulus kuliah dulu,” jawab Chesy.
“Alangkah lebih bagus kalau setelah lulus langsung menikah. Niat bagus itu lebih baik dipercepat. Ada tiga hal yang semestinya dipercepat menuju kebaikan, yaitu membayar hutang, menikah dan menguburkan jenazah. Nah, salah satunya adalah pernikahan,” sahut Yakub.
“Nggak masalah. Soalnya kan kelulusan Revalina juga tinggal menunggu bulan saja,” balas Chesy.
“Jadi, sudah mulai dari sekarang kita membahas rencana besar pernikahan mereka. Kita persiapkan semuanya dengan matang rencana baik ini,” sahut Sarah.
Ya ampun, Revalina tidak menyangka jika rencananya mendekati Rival untuk dapat menguak kasus Rajani malah menjerumuskannya ke dalam ikatan sejauh ini. Lalu bagaimana jika ia benar- benar menikah dengan pria kulkas itu?
Oh, tidak masalah. Revalina sudah menobatkan dirinya untuk Rajani. Kalau pun ia harus menghabiskan sisa umurnya untuk kasus ini, tidak masalah baginya. Rajani adalah segalanya. Saat dengan jelas matanya menyaksikan pemerk*saan itu, hatinya tercabik dan ia hanya ingin menuntaskan semua pelaku dengan caranya sendiri.
“Baiklah. Aku setuju untuk melakukan persiapan sejak sekarang. Hitungan bulan itu hanya sebentar,” ucap Chesy.
“Aku serahkan semuanya kepada Mas Yakub dan Kak Sarah. Aku percaya,” jawab Rival kedengaran bijaksana sekali.
“Revalina, kamu bagaiman?” tanya Yakub.
“Mmm…. Umi pasti lebih tahu yang terbaik. Revalina ngikut aja,” jawab Revalina.
“Fix, berarti ini kalian berdua pun sudah setuju atas rencana besar ini.” Yakub mengangguk mantap.
Revalina meneguk minum lagi. Ia melirik Rival yang duduk di sisinya. Wajah dengan alis hitam dengan paduan hidung mancung dan bulu halus di sekitar rahang menambah kesan tampan di wajah itu, sayangnya Revalina sama sekali tidak tertarik. Hatinya sudah ditutup oleh kebencian yang tiada tara.
Inilah lelaki terakhir yang akan mendapat hukuman keras darinya. Revalina mencengkeram garpu di tangan dengan kuat sembari emnatap wajah Rival dari arah samping.
Huh! Batinnya benar- benar ingin marah saat menatap pria itu.
“Revalina duluan ya, Umi. Udah selesai makan nih.” Revalina menganggukkan kepala kepada Sarah dan Yakub sebagai bentuk penyampaiannya untuk pamitan.
“Kamu mau kemana? Pulang?” tanya Chesy.
__ADS_1
“Enggak, Umi. Mau duduk di depan aja. Cari angin.” Revalina bangkit.
“Oh. Ya sudah.”
Revalina pun berlalu. Tentu saja ia cepat menyudahi makan karena hanya menyantap sosis dan kentang goreng saja. selebihnya ia tidak tertarik.
Kini Revalina duduk di kursi taman depan rumah. Ia merasa lebih nyaman duduk di sana. Ditemani semilir angin sambil menikmati keasrian lingkungan sekitar. Pikirannya sedang berputar- putar. Memikirkan bagaimana caranya ia bisa membuat Rival mengakui atau minimal ia mendengar sendiri dengan telinganya saat Rival mengatakan bahwa ada orang lain yang terlibat dalam kasus pemerk*saan Rajani selain mereka berempat, misalnya Dalsa. Kuat kemungkinan Dalsa terlibat.
Para pelaku tidak boleh lolos. Harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
Brak!
“Hah?” Revalina terkejut mendengar suara sentakan keras benda yang diletakkan ke meja depannya. Ia menatap Rival yang kini sudah duduk di sisinya. Pria itu tampak sangat santai sekali meski melihat Revalina dalam posisi kaget maksimal.
Botol minuman baru saja diletakkan ke meja oleh pria tampan itu. ada juga piring kecil berisi dua buah apel lengkap dengan pisaunya.
Rival membetulkan posisi kerah kemejanya supaya bisa tetap di posisi rapi. “Minum!” tunjukkan ke botol yang baru saja ditaruh ke meja.
“Maaf, nggak haus, Pak.”
“Jangan panggil Pak kalau di luar kampus. Panggilan itu hanya berlaku di kampus,” titah Rival mendominasi.
“Jadi, kalau nggak panggil bapak, lalu saya panggil apa?”
“Mas Rival.”
Seketika mata Revalina membelalak. Tak sudi memanggil sebutan Mas pada Rival. Panggilan itu terlalu istimewa, hanya pantas untuk kaum lelaki sejati, bukan pecundang yang tega menyakiti fisik wanita. sedangkan panggilan ‘pak’ sudah umum untuk dosen sepertinya. Itu pun terlanjur dan terpaksa memanggilnya.
“Saya nggak mau. Lidah saya keseleo kalau manggil Mas,” celetuk Revalina datar.
“Kamu tahu kalau aku ini calon suamimu kan?”
“Memang itu yang sedang dibahas sejak tadi. Bapak nggak perlu meminta saya mengubah panggilan, itu akan sulit,” jawab Revalina datar.
“Keras kepala!” geram Rival.
Bersambung
__ADS_1