
Setelah keheranan dan bertanya-tanya kenapa dengan Akram, kini terjawab sudah ternyata itu adalah bagian dari rencana yang dia katakan.
'Ini saatnya,' ucap Revalina dalam hati.
"Sssshhh," desis Revalina sambil memeras gaunnya.
"Pak Rival," panggil Revalina sambil menggoyang-goyangkan lengan baju Dosen muda itu.
Seketika Rival menoleh menghentikan perbincangan dengan tamu undangan. "Iya, kenapa?"
"Aku mau ke toilet dulu nggak papa kan?" tanya Revalina balik.
"Mau aku antar?" Rival menawarkan diri sambil melirik gaun yang dikenakan Revalina.
Kedua mata tak terkontrol, tiba-tiba melotot tanpa rem sedikit pun rasanya ingin beriak saat itu namun sekejap ia tersadarkan dengan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya.
"Hemhem, nggak aku bisa sendiri," jawab Revalina dengan senyum formalitas.
Setelah berpamitan dengan suami, Revalina bergegas keluar dari gedung dengan menenteng kedua sisi gaun itu. Lagi-lagi ia direpotkan dengan gaun yang ia kenakan belum lagi harus mengejar Dalsa.
Tiba di lorong kamar yang booking satu lantai penuh oleh keluarga, sepersekian detik Revalina melihat ujung gaun Dalsa baru saja masuk ke dalam kamar. Tepat seperti perkiraannya Dalsa akan kembali ke kamar.
Dengan cepat ia menggerakkan tungkai nya sembari memikirkan strategi yang aman untuk dilakukan sekarang.
'Aku harus meletakkan kamera itu tepat di celah yang nggak mungkin diketahui Dalsa,' gumam Revalina dalam hati.
"Banyak sekali nodanya, nggak mungkin aku tetap pakai gaun ini. Ini semua gara-gara si Akram sialan," gerutu Dalsa kesal sembari membersihkan gaunnya dengan tisu.
Dengan pintu kamar yang terbuka lebar, Revalina berisi di tengah sembari memandangi Dalsa yang tak sadar akan kehadirannya.
"Assalamualaikum, Dalsa," salam Revalina dengan nada lirih, santun.
Dalsa pun langsung mengangkat kepalanya dengan ekspresi terkejut ia terlihat berusaha menutupi kekesalan nya dengan senyuman yang perlahan terukir di bibirnya.
"Waalaikumsalam," jawab Dalsa.
__ADS_1
"Kenapa gaunmu?" tanya Revalina mulai basa-basi, sementara di balik lipatan gaunnya ia telah menggenggam kamera kecil berbentuk pena.
Dalsa kembali menunduk memandangi titik bagian gaunnya yang kotor, lalu kembali menatap Revalina.
"Ini kotor kena tumpahan es kul-kul nya si Akram," jawab Dalsa dengan nada kesal.
Ketika Dalsa berbicara, Revalina memanfaatkan waktu untuk mencari spot paling aman untuk meletakkan kameranya yang kini sudah aktif merekam.
"Ya Tuhan. Atas nama Akram aku minta maaf ya, itu orang memang ceroboh bisa-bisanya menumpahkan es kul-kul ke gaunmu," ucap Revalina dengan wajah sendu, berusaha menunjukkan rasa bersalahnya.
"Andai dia bukan teman baikmu pasti sudah aku usir dari tadi," gerutu Dalsa kembali berusaha membersihkan gaunnya.
Posisi Dalsa sekarang sangat pas untuk Revalina meletakkan kameranya, tak ingin melewatkan kesempatan dengan cepat ia mengangkat kakinya satu langkah maju menutupi meja yang ada di sisi kanan pintu dengan posisi membelakangi meja satu tangannya coba menyelipkan dengan cepat ke sela-sela antara dua vas bunga berbentuk kotak yang saling berhimpit.
'Ah syukurlah muat,' ucap Revalina dalam hati lega merasakan kamera pen nya sangat pas masuk ke dalam celah dua vas bunga itu, juga tidak menonjol sehingga tak akan memicu penasaran Dalsa.
"Kenapa Reva?" tanya Dalsa sengit.
Tiba-tiba Dalsa sudah mendongakkan kepalanya kembali, melihat Revalina yang terdiam sambil memegang bagian belakang.
Lantas ia pun segera mengembalikan posisi tangannya agar tak membuat Dalsa merasa curiga.
"Ah tapi aku sudah panggil perias tadi supaya ke kamarku, amanlah biar dia yang bantu lepaskan," sambung Revalina sebelum percakapannya dengan Dalsa semakin garing karna kesunyian yang tiba-tiba.
"Terus ini gaun mu gimana, aku panggilkan perias juga ya. Sepetinya dia bawa gaun lain," ucap Revalina.
"Enggak perlu, aku langsung ganti baju biasa saja. Kamu tidak perlu ikut campur," sahut Dalsa dengan wajah datarnya.
"Enggak-enggak, kamu harus pakai gaun. Aku panggilkan ya," bantah Revalina, ia pun bergegas pergi kembali menenteng dua sisi gaunnya.
"Assalamualaikum," ucap Revalina di ujung pintu.
"Waalaikumsalam," sahut Dalsa ketus beberapa detik setelah Revalina benar-benar keluar dari kamarnya.
Beberapa langkah menjauh dari kamar Dalsa, Revalina merasa hatinya begitu lega setelah merasakan degup jantung yang luar biasa menggetarkan jiwa di satu moment ia harus berakting seperti tak ada apa-apa.
__ADS_1
Setelah aksinya menyelipkan kamera pena di kamarnya membuat kebenaran semakin jelas, terlebih bukti yang ingin ia genggam sebagai senjata.
Malam itu tentu saja Revalina tak benar-benar kembali ke kamarnya, setelah dari kamar Dalsa ia pun kembali ke panggung singgasananya menemani Rival menyambut sisa-sisa tamu yang baru datang sementara kedua belah pihak dari keluarga sudah mulai turun menyambut para tamu yang hadir.
"Sudah aman?" tanya Rival berbisik lirih di hadapan Revalina.
"Aman," jawab Revalina sembari menyalami tamu.
Dari ratusan tamu yang hadir hanya satu orang yang Revalina cari saat ini yaitu Akram, ia coba mempertajam penglihatannya menyorot satu persatu tamu yang duduk di meja bundar dan juga tamu-tamu yang masih bergerombol dengan para tamu yang lain.
Tak di sangka Akram tak berada di kedua point tersebut, ia justru tengah berbincang dengan seorang anak perempuan berusia 7 tahunan, dia berjongkok menatap mata bocah tersebut dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
'Akram, kenapa dia. Masa anak kecil itu bisa buat menangis seorang Akram,' ucap Revalina bertanya-tanya dalam hati.
Berulang kali Revalina coba mencari celah untuk memberi kode, Akram justru tidak nyambung bahkan sering mengabaikan kontak mata di antara mereka.
'Sumpah, dia menyebalkan sekali. Aku cuma mau kasih tahu kalau semua sudah aman malah dia nggak paham eh sekarang malah buang muka, kurang ajar memang,' gerutu Revalina dalam hati.
Sampai pada akhirnya satu jam kemudian para tamu perlahan meningkatkan acara, gedung itu jadi mulai sepi tinggal beberapa tamu yang kebetulan datang larut malam namun tidak dengan Akram yang masih setia berada di sana sampai acara selesai.
"Kasihan Akram sendirian dari tadi, pasti dia kesepian," sindir Revalina berharap Rival memintanya untuk menghampiri Akram.
Ia ingin sekali berbicara dengannya jika semua sudah aman, juga menanyakan anak siapa tadi yabg sudah membuatnya bersedih dengan maksud meledek.
"Lagian kenapa dia nggak langsung pulang, orang sudah pada pulang dia malah betah di sini," sahut ketus Rival.
"Itu yang namanya sahabat, mau semalam apapun acaranya pasti ditunggu sampai selesai," sahut Revalina dengan bangganya.
"Itu nggak penting, kalau yang namanya sahabat itu harusnya kasih selamat dan doa terbaik buat sahabatnya yang lagi nikah bukannya pasang wajah kusut di kursi belakang," bantah Rival enggan sependapat dengan Revalina.
"Dia tadi itu shock, masih butuh proses buat Nerima kenyataan kalau sahabatnya yang unyu-unyu ini sudah menikah," jelas Revalina secara asal tanpa ada kebenaran yang pasti dari yang bersangkutan.
"Terserah lah, aku mau temani dia. Kasihan sendirian," ucap Revalina tak sabar lagi menunggu angan-angannya terkabul.
Bersambung
__ADS_1