
Keesokan harinya Revalina harus berangkat pagi-pagi untuk mengikuti mata kuliah Rival, ia melenggang cepat menuju gedung fakultas mengontang-anting tote bag.
Dari kejauhan nampak beberapa mahasiswa hampir seluruhnya memandang ke arah Revalina, namun ia tak merasa ada yang aneh dengan dirinya selain kalung berlian yang melingkar di lehernya.
"Ada apa dengan mereka?" ucap Revalina lirih.
Namun salah seorang wanita berbisik lirih dengan teman di sebelahnya, wajah sinis dan lirikan mautnya berhasil mengecoh perhatian Revalina.
"Sebenarnya mereka ini kenapa sih," Revalina bertanya-tanya.
"Oh, jadi ini calon istrinya Pak Rival. Aku tidak menyangka seorang mahasiswa di kampus ini bisa punya hubungan dengan Dosen, tapi apa jadinya jika Dekan tahu hal ini, pasti akan repot urusannya," sindir salah seorang melirik sinis Revalina. Lebih tepatnya iri karena Revalina dikabarkan berhasil meruntuhkan hati sang dosen.
Seketika langkah Revalina terhenti tak jauh dari serombongan orang yang tengah berbincang tentangnya itu, kedua kaki mendadak kaku serta netra hampir lepas terbelalak sangking terkejutnya dengan ucapan wanita julid itu.
"Siap-siap saja kena DO," bisik gadis julid dari telinga sisi kiri Revalina.
Revalina tersentak, kedua netranya makin terbelalak mendengar kalimat itu terucap tepat di telinganya.
Hei, rupanya kabar hubungan antar mahasiswi dan dosen menjadi bumerang bagi Revalina.
Perlahan gadis julid melenggang pergi sambil mengibaskan rambut panjangnya, dia nampak menunjukkan kemenangan bahagia atas berita ini.
Sementara Revalina kini masih sibuk menata degup jantung, makin lama ia makin sadar jika jam mata kuliah pagi ini sudah di mulai. Dengan cepat ia pun berlari menuju lift untuk menuju ke lantai 5.
Setibanya di kelas lagi-lagi puluhan pasang mata kembali menyorotnya tanpa ampun.
Perlahan Revalina mengganti arah pandang ke arah Rival di depan yang sudah lebih dulu berada di kelas, terlihat pria itu sedikit kebingungan sampai-sampai tak kunjung memulai mata kuliah pagi ini. Dia justru masih beradu tatap dengan beberapa mahasiswa lain.
Tahu apa yang terjadi saat ini, Revalina berusaha mengalihkan pandangan matanya dari sorot-sorot mata menyebalkan itu, ia bersikap acuh pada semua teman satu kelas.
"Kenapa tak duduk di depan saja Revalina, kan bisa dekat sama Pak Rival," goda salah seorang diiringi senyum sinisnya.
__ADS_1
Sontak darah seperti mendidih hampir tak mampu menahan luapan amarah yang sekuat tegana ia tahan, makin kesal lagi ketika melihat wajah kebingungan Rival.
"Kamu, kalau mau bergurau keluar dari kelas saya," perintah Rival pada mahasiswi yang mengejek Revalina, tegas.
Bibir gadis itu langsung terkunci, namun tidak dengan lirikan mautnya. Disusul heningnya kelas, agaknya gertakan Rival cukup manjur untuk membuat semua orang terdiam.
Tak lama kelas pun di mulai, Revalina menjalani beberapa jam dalam mata kuliah kali ini dengan perasaan bingung. Segala hal ia pikirkan dalam satu waktu hingga rasanya ingin pecah saat itu juga. Siapa yang bikin heboh kampus atas kabar hubungannya dengan Rival?
Beberapa jam berlalu akhirnya kelas telah selesai, Revalina pun bergegas pergi meninggalkan kelas. Tentu ia enggan untuk sekedar berbincang dengan Rival saat ini, yang ada justru makin memperkeruh suasana.
Di bawah pohon beringin yang rindang nan sejuk, tepatnya di taman kampus Revalina bersembunyi di sana. Memandangi gugurnya daun satu persatu dari tangkai-tangkai pohon, seolah tengah memandangi suasana aneh inj.
"Hey, ternyata kau di sini. Aku cari-cari kesana kemari." Akram tiba-tiba menyelinap duduk di samping Revalina.
"Kenapa mencari ku?" tanya Revalina ketus, enggan memandang wajah Akram.
Akram terdiam sejenak. Dari ekor mata Revalina melihat temannya yang satu ini tengah kebingungan menatap dirinya.
"Biasanya juga begini, kau aneh," jawab Akram memicing lalu perlahan mengalihkan pandangan.
"Menusukmu, kau ini sedang berbicara apa?" tanya Akram makin kebingungan.
"Huhh," Revalina menghela nafas berat, perlahan menata hati untuk sekedar melirik Akram.
Sementara itu Akram masih dirundung kebingungan dengan kalimat ambigu Revalina.
"Aku sudah tahu, pasti kamu yang sebar berita ke semua anak kampus kalau aku ini calon istrinya Pak Rival," tuduh Revalina berujung adu pandang sengit antara ia dengan Akram.
Lagi-lagi Akram memasang wajah kebingungan, membuat Revalina semakin kesal. Kini kedua tangannya reflek mengenggam seaolah telah bersiap menghantam wajah Akram.
"Sumpah aku tidak cerita ke siapapun, kau pikir aku sudah gila cerita seperti itu ke orang lain," jelas Akram sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya.
__ADS_1
"Halah, kalau bukan kau siapa lagi," bantah Revalina memutar bola matanya.
"Rev, asal kamu tahu ya. Aku bukan teman penghianat. Aku bahkan ikut andil membantu mu mengusut tuntas siapa pelaku kejahatan yang menimpa kembaranmu itu," jelas Akram dengan nada bicara lembut.
Revalina terdiam sejenak memikirkan kalimat Akram, tak lama ia pun menyadari adanya pengorbanan besar di sini yang di berikan Akram. Namun di sisi lain Akram juga tahu hubungannya dengan Rival.
"Sekarang dengan entengnya kamu menuduhku melakukan hal seremeh itu," sambung Akram.
"Bagaimanapun aku tidak menuduh sementara yang tahu tentang hal ini cuma kamu, dan satu-satunya orang yang tidak suka sama Pak Rival ya cuma kamu," ucap Revalina masih terbelenggu dalam kecurigaannya.
"Ya Tuhan. Revalina, aku memang tidak suka sama dia apalagi sama hubungan kalian tapi untuk urusan seperti ini sumpah aku tidak mungkin cerita ke orang, lagi pula kita sedang ada misi," jelas Akram.
Setelah dipikir-pikir penjelasan Akram ada benarnya, selain dia berkontribusi dalam misi pencarian pelaku secara logika dia pun tak mungkin melakukan hal itu.
"Jadi siapa yang menyebarkan berita ini?" Revalina kembali bertanya-tanya.
Tiba-tiba Akram merubah posisi duduknya, melipat satu kaki lalu menghadap ke arah Revalina sementara satu kali lain menapak paving.
"Revalina, jangan fokus sama berita yang sudah tersebar. Tapi fokus buat mengakhiri hubunganmu itu dan kembali pada misi kita," ucap Akram dengan nada serius.
Revalina terkejut memundurkan pandangannya dengan tiba-tiba.
"Nggak salah kamu minta aku untuk mengakhiri hubungan, dengan jalan ini, aku bisa lebih leluasa cari bukti kalau dia dan adiknya adalah pelakunya bukan?" tanya Revalina mendelik kebingungan.
"Awalnya begitu, tapi kalau kebablasan seperti ini sampai kau lupa daratan lebih baik akhiri saja hubungan itu. Aku sudah yakin seyakin-yakinnya kalau dia memang pelakunya," jawab Akram masih dengan nada bicaranya yang meninggi.
Kepala Revalina menggeleng cepat, enggan menyetujui permintaan Akram yang begitu berat ia lakukan. Jalan yang dilalui terlanjur jauh, rasanya tak mungkin untuk memutuskan berhenti di tengah jalan.
"Jangan langsung memutuskan, ini perkara berat dan aku minta untuk jangan fokus sama satu orang karena bisa saja orang lain juga mendalangi kasus ini. Kita tidak tahu," saran Revalina.
Akram menggeleng, tatapannya menusuk.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita celakai Pak Rival?"
Bersambung..