
"Al, Mas Cazim biar tinggal di sini dulu. Dia butuh perawatan medis. Tolong lakukan sesuatu untuknya!" pinta Chesy.
Alando balik badan, kini menghadap Chesy. "Ya, aku akan panggil dokter untuknya."
"Tapi aku nggak bisa di sini terus. Aku harus pulang. Aku takut ketahuan abi malam- malam begini keluar."
"Ya. Kembalilah ke rumah. Oh ya, soal yang tadi itu aku minta maaf. Aku tidak sengaja memergoki."
"Ya sudah, semuanya sudah terjadi." Chesy tidak mau memperpanjang masalah yang sebenarnya tidak perlu diperpanjang. "Aku tadi berkali- kali memanggilmu, tapi kamu nggak dengar. Memangnya kamu lagi apa?"
"Aku.. aku sama sekali tidak mendengar apa pun. Aku tidur."
"Lain kali jangan terlalu ngebo kalau tidur, takutnya rumah kebakaran dan kamu bisa mati saat nggak mendengar apa pun." Chesy melangkah pergi. "Aku titip Mas Cazim," serunya sambil menutup pintu.
***
__ADS_1
"Loh, Cazim kemana?" tanya Yunus yang tidak melihat Cazim di kamar Chesy. Hanya ada Chesy seorang di kamar itu. Sedang memasang kerudung.
"Mas Cazim udah pergi," jawab Chesy santai, bersikap seolah tidak terjadi apa- apa.
"Pergi kemana? Bukannya dia sedang sakit?"
"Panasnya udah turun dan dia katanya ada urusan."
"Oh, jadi dia sudah sehat?"
Chesy menghabiskan roti di atas motor, sesaat ianterdiam membeku mengingat kejadian saat Cazim memeluknya di atas motor. Pria itu mendekapnya sangat erat karena tak mau jatuh. Kepala nyender di caruk leher Chesy. Kemudian kejadian ketika Cazim memegang dadanya saat dipapah menuju kamar, lalu saat Cazim memeluknya di kamar dalam keadaan setengah tak sadar. Semua itu menari- nari di kepala Chesy. Tanpa sadar ia tersenyum. Momen itu ternyata meninggalkan kesan unik dalam benak Chesy.
"Non Chesy, belum mau berangkat? Senyum- senyum sendiri begitu?"
Komentar si tukang kebun membuat Chesy terkejut dan langsung menepuk pipinya sendiri. Apa iya dia senyum- senyum sendiri? Dilihatnya wajah cantik yang emmantul di spion. Eh, iya rupanya ia senyum senyum aneh begitu. Bahkan kini malah jadi merah merona karena malu pada diri sendiri.
__ADS_1
Segera Chesy mengubah ekspresi wajahnya.
Plis, jangan ke Ge Er an.
Chesy kemudian menjalankan motor. Dan ia harus konsentrasi penuh saat mengendarai motor begini, jangan sampai malah kejungkang di jalan bersama dengan motornya itu gara- gara isi pikirannya nge blank.
Chesy tidak langsung menuju ke sekolah, melainkan ke rumah kontrakan Cazim. Ia ingin menjenguk suaminya, memastikan kondisi pria itu. Ia melangkah masuk ke kamar sesaat setelah melewati ruangan depan. Ia melihat kondisi Cazim yang ternyata tidak baik- baik saja. Berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya, lengkap. Ada infus, selang oksigen yang bertengger di bawah hidungnya, monitor, dan banyak lagi lainnya.
Alando menunggu di sana.
Chesy meraih tangan Cazim, tangan itu dingin sekali. Dia genggam tangan itu sambil menatap wajah Cazim, wajah yang setiap malam menemaninya saat tidur.
"Al, Ac jangan terlalu dingin, Mas Cazim kedinginan," kata Chesy.
Alando pun menuruti permintaan Chesy. Ia memencet remot ac supaya temperaturnya tidak begitu dingin.
__ADS_1
Bersambung