
Saat ini Revalina tak peduli dengan apa yang Yakub, Sarah dan terutama Rival pikirkan tentangnya. Ia sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya pada Dalsa.
"Silahkan kalau Bapak bilang saya tega, apalah itu tapi perlu saya tekankan bahwa tidak ada damai dan hukum harus tetap berlanjut," ujar Revalina dengan lantang.
"Apa saya bilang, percuma ada kesini seratus kali pun jawaban kita semua sama. Jadi Bapak lebih baik kasih wejangan buat Dalsa supaya berubah itu anak jadi anak baik karena saya yang bicara dengannya nggak pernah mempan," sahut Yakub sembari terus menatap Probo.
Probo menggeleng dengan wajah kusut tak seperti tadi ketika Yakub mengamuk dia justru bisa tersenyum-senyum.
"Pantas Bu Candini minggat dari rumah ini, ternyata nggak ada satu pun yang buat dia nyaman. Nggak anak nggak menantu sama saja sama-sama gila," ucap Probo dengan nada kesal.
"Gila keadilan Pak," tegas Rival menatap Probo dengan wajah datar.
"Coba kalau Dalsa sejak awal mau merendahkan hatinya untuk meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan nggak buat ulah seperti kemarin dengan menunjuk sana sini. Pasti saya akan bela dia," ujar Rival.
Probo tersentak terkejut dengan ucapan Rival, laki-laki buncit dengan emas menggantung sana-sini ditubuhnya itu terlihat menahan amarah hingga tubuhnya bergetar.
"Kejadian kemarin kau bilang itu ulah Dalsa, nggak salah kamu bilang begitu?" tanya Probo mulai meradang.
Melhat situasi saat ini Revalina jadi bingung dengan Probo yang mudah terpancing amarah padahal lawyer selain bertugas membela kliennya dia juga bertugas untuk jadi penengah, akan tetapi Porno tak mencerminkan hal itu.
'Nggak orangnya nggak lawyernya sama-sama suka marah-marah,' gerutu Revalina dalam hati.
"Hey, bangunlah anak muda. Apa yang disampaikan Dalsa kemarin itu benar adanya jangan karena kau dibutakan oleh cinta mau matipun rela," ucap Probo pada Rival.
Tak langsung menjawab Rival justru cengengesan sesaat setelah Probo berucap, sontak membuat seluruh pasang mata tertuju padanya.
"Hihihi, lucu sekali kalimat anda," kikih Rival sembari mengusap wajahnya.
Beberapa kali usapan akhirnya Rival mampu mengontrol tawanya, dia pun kembali duduk tegap dengan wajah yang kembali tegang pula.
"Bipolar orang ini," gumam Probo lirih.
"Harusnya yang bangun itu Bapak, Bapak nggak tahu apa permasalahannya main ngucap saja. Asal Bapak tahu dibalik kejadian itu Akram yang punya kendali jadi jangan salahkan Istri saya," jelas Rival dengan kening mengerut tajam.
"Tapi istri anda terlibat, kalau bukan karena istri anda tidak akan terjadi pemukulan secara brutal di gedung tua itu," sahut Probo sembari menunjuk wajah Revalina.
Seketika hati Revalina terasa bergetar, tudingan Probo membuatnya teringat kembali akan peristiwa mengerikan itu. Tak terasa air mata kini mengalir deras sampai tak kuasa ia menghentikan tangisannya.
"Jangan tunjuk-tunjuk istri saya," geram Rival menunjuk balik Probo.
Tak lama Probo langsung menurunkan tangannya diiringi dengan senyum sadis, saat itu juga Rival langsung mendekap Revalina.
"Tenang ya, tenang ya," bisik Rival secara berulang-ulang.
"Saya rasa sudah cukup pertemuan kita pagi ini, jawaban kita tetap sama jadi saya harap Bapak tidak datang lagi kesini," ujar Yakub.
"Baik kalau begitu saya permisi, semoga kalian mau berubah pikiran. Satu pesan saya yang akan saya ulangi sampai seribu kali sampai kalian paham, pilih dan bela orang sedarah mu ketimbang orang lain karena orang yang sedarah denganmu akan setia di sampingmu dalam keadaan apapun ketimbang orang lain yang pasti berkhianat," pamit Probo berujung memberikan pesan.
Probo pun langsung beranjak pergi, namun sayangnya kepergian Probo menyisakan sesak di hati Revalina. Tak bisa dipungkiri perasaannya begitu terluka tatkala dirinya mukanya ditunjuk dengan diiringi kalimat yang begitu menyakitkan.
Setelah Probo pergi, semuanya mendekati Revalina memberi kekuatan padanya dan pesan untuk tak lagi mendengarkan apapun yang dikatakan orang tentang masalah itu.
__ADS_1
Dalam hati ia sangat bersyukur mendapatkan suami dan Kakak ipar seperti mereka, begitu baik dan tak pernah menyalahkan keputusannya hingga detik ini.
*********
POV Akram.
Di dalam kapal, setelah memarkirkan mobil, ia langsung naik ke atas, bersembunyi di kamar yang sudah ia pesan sebelumnya.
Perjalananan ke negeri tetangga dengan menggunakan transportasi laut sangat memakan waktu, membuatnya ketar-ketir karena saat ini wajahnya sudah beredar di sosial media bahkan dalam pemberitaan telah menyebutkan bahwa dirinya kabur melalui transportasi laut menuju ke luar negri.
Dalam kesendiriannya di kamar yang tak terlalu besar ini, ia mulai mencari cara untuk bisa selamat dari jerat hukum.
"Sialan Dalsa, janjinya dulu nggak akan bawa-bawa aku kenapa sekarang dia bilang kalau aku terlibat memang nenek sihir itu nggak bisa di percaya," gerutu Akram kesal.
"Sekarang aku harus cari cara buat bisa keluar dari kapal ini dengan selamat, aku harus buang identitasku," ujar Akram.
Awal mula ia coba untuk melepas sim card, lalu segera menutupi wajahnya dengan masker dan kupluk jaket hitamnya.
Tak lama ia pun bergegas keluar dari kamarnya, menuju ke pinggir kapal dengan langkah penuh pertimbangan. Tak disangka malam itu masih banyak orang yang berada di sana entah sekedar foto-foto atau menikmati angin malam di atas laut.
'Menyebalkan, kenapa orang-orang pada di sini sih bukannya pada di kamar,' gerutu Akram dalam hati sembari memandangi seluruh penumpang lain yang ada di sana.
Di pinggir kapal Akram masih mencoba membaca situasi sebelum melancarkan aksinya, ia benar-benar ingin membuang seluruh indentitas yang ada di dompetnya.
"Hey, sendirian saja?" tanya seorang wanita muda cantik, bertubuh kurus menghampiri Akram.
'Kambing,' umpat Akram dalam hati.
Kali ini ia benar-benar merasakan seperti tengah menimpa kesialan yang bertubi-tubi. Tak ingin dicurigai ia pun mulai melirik wanita itu sembari mengerutkan kedua matanya sebagai tanda bahwa ia tengah tersenyum di balik masker hitam yang ia kenakan.
"Iya," jawab Akram.
"Kalau kamu sama siapa?" tanya Akram balik.
"Aku juga sendirian dan nggak ada teman di sini. Tapi sudah sering sih begini cuma baru kali ini saja ke luar negri naik kapal ternyata seru juga," jawab wanita itu panjang lebar.
Akram hanya mengangguk-angguk berharap perbincangan mereka segera usai.
"Oh iya, aku belum berkenalan dengan mu. Perkenalan nama aku Fia," ucap Dia sembari menyodorkan tangannya.
Tanpa pikir panjang Akram pun langsung menjabat tangan gadis polos ini.
"Akram," sahut Akram.
"Senang berkenalan denganmu," ucap Fia sambil tersenyum lebar.
Beberapa jam berlalu akhirnya semua pergi dari pinggir kapal, masuk ke dalam termasuk Fia. Tak ingin membuang kesempatan dengan cepat Akram membuang semua identitasnya ke laut.
"Semoga semua masalah ikut tenggelam bersama semua identitasku," ucap doa Akram lirih sembari memandangi barang yang dibuangnya tak lagi nampak pada kedua matanya.
"Apa yang kamu buang tadi?" tanya Fia tiba-tiba kembali dari arah belakang.
__ADS_1
Sontak Akram berjingkat mendapati seseorang ada di belakangnya yang tak lain tak bukan adalah gadis yang baru saja berkenalan dengannya.
Menatap Fia, Akram mulai menelan salivanya merasa kini hidupnya sudah ada di ujung jurang.
'Sial, kenapa wanita ini kembali kesini katanya mau istirahat,' gerutu Akram dalam hati.
Perlahan Fia mendekat, melirik ke arah air laut tepat titik dimana Akram membuang semua identitasnya.
"Apa yang kamu buang Akram?" tanya Fia kembali mengulang pertanyaannya.
"Ya, tadi kamu lihat apa?" tanya balik Akram sedikit gugup.
Fia menggeleng dengan wajah kebingungan "aku nggak lihat kamu buang apa ke laut makanya aku tanya."
Seketika Akram langsung menghembuskan nafas leganya, lega karena ternyata Fia tak melihat apa yang tengah dibuangnya.
"Oh, aku kira kau tahu. Jadi tadi itu aku buang bungkus coklat," jawab Akram berusaha memanipulasi dengan gaya santainya.
Sesat setelah Akram menjawab pertanyaan Fia, dia justru melongo dengan kedua mata terbelalak menatap Akram.
"Akram kamu sudah gila ya, di sini itu nggak boleh buang sampah ke laut. Kan sudah disediakan tempat sampah tuh," ucap Fia mengamuk sembari menunjuk tempat sampah yang hanya berkisar lima meter dari Akram.
Lagi-lagi karena tak ingin membuat Fia curiga, Akram berusaha memutar otaknya dengan cepat agar bisa menyahut ucapnya.
"Ya Tuhan, maaf-maaf aku nggak tahu kalau ada tempat sampah di situ. Ah tahu begitu aku buang saja di situ sudah dari tadi cari tempat sampah aku pikir memang nggak ada makanya aku buang saja ke laut," sahut Akram panjang lebar membela diri.
"Untung nggak ada petugas, kalau ada pasti kamu kena tegur," ucap Fia dengan nada kesal.
"Iya maaf aku nggak tahu," sahut Akram.
Di depan Fia, ia terus berusaha menjadi orang yang baik lagi-lagi tujuannya agar tak dicurigai. Padahal rasanya tangan ingin membungkam mulut Fia dengan sekuat tenaga, telinganya sudah merasa panas sejak tadi mendengar ocehannya.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, ia coba untuk membaca situasi yang ada di sana. Dipandanginya dari seluruh sudut pelabuhan tengah dijaga ketat, agaknya hal ini sebagai upaya penangkapan dirinya.
"Kalau aku nekat keluar bawa mobil sendiri sama saja aku menyerahkan diri, mau identitas dibuang juga bakal susah menembus keluar," gumam Akram.
"Akram, jangan bengong," tegur Fia melintas di hadapkan Akram.
Melihat Fia, ia jadi punya ide untuk bisa keluar dari sini dengan selamat.
"Fia," panggil Akram berlari ke arah Fia yang mulai menuju ke lantai bawah kapal.
Seketika Fia langsung menghentikan langkah kakinya dan meletakan koper sembari mengistirahatkan tangannya.
"Iya ada apa?" tanya Fia dengan tatapan polos.
Ketika akan berucap tiba-tiba Akram takut dengan reaksi teman barunya setelah ini, tak bisa dielakkan bahwa sejak semalam ia terus ketakutan memikirkan statusnya yang kini sebagai buronan.
"Boleh aku numpang keluar dari pelabuhan ini sama kamu?" tanya Akram sembari menaikkan sebelah alisnya.
Tak disangka Dia terdiam tak kunjung menjawab pertanyaan Akram, saat itu juga Akram serasa seperti sudah berada di ambang kematian. Melihat tatapan tak biasa yang ditunjukkan, Dia sebagai respon pertamanya, ia jadi ragu akan mendapatkan tumpangan.
__ADS_1
Bersambung