Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Tinju Dari Cazim


__ADS_3

“Sudahlah.  Lupakan!  Aku tidak peduli lagi.  Kalaupun aku ditangkap, biarkan saja.  Aku siap dengan semua konsekuensinya.”  Cazim tampak tenang.  Dia sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup.  Maka ancaman penjara tidaklah menakutkan baginya.


“Aku sangat bersalah padamu.  Aku sudah membuatmu terancam.”  Senja menangis, menghambur memeluk Cazim.


“Tidak perlu begini.  Semuanya sudah terjadi.”


“Tapi aku sedih sekali.”


“Aku yang seharusnya sedih.”


Tangis Senja seketika lenyap.  Gadis itu tersenyum saat menyadari sedang memeluk tubuh gagah Cazim.


“Biarkan untuk beberapa menit begini ya!” pinta Senja.


“Aku kesemutan.  Lepaskan!”  Cazim mendorong badan Senja.


“Kenapa?  Takut karena bukan mahram?  Plis deh, kamu mengetahui banyak pendidikan agama dari ayahmu, tapi selama ini tidak kamu praktikkan.  Jadi jangan belagu deh.”


“Itu hakku.  Kapan aku dapat hidayah, itulah aku akan berubah!”  Cazim menarik hape dari kantong celana ketika benda itu bergetar.  Ia membelalak dengan wajah sangar ketika melihat pesan masuk.


Tak lain pesan dari sadapan.  Ia sengaja menyadap pesan di hp milik Chesy, entah apa tujuannya.  Dia hanya ingin tahu apa yang menjadi keseruan istrinya, namun ia malah menemukan fakta baru.


‘Terima kasih sudah memberi waktu untuk aku bertamu ke rumahmu siang tadi.  Kue kik yang kukirim itu di makan ya!  Itu khusus untukmu dan keluargamu.’

__ADS_1


‘Soal tadi, aku minta maaf.  Jangan dimasukkan ke hati.  Semoga masalahmu dan Cazim cepat selesai.’  


‘Aku berharap kamu menemukan lelaki sejati yang baik, yang mencintaimu dengan tulus.  Bila memang harus dilepaskan, maka lepaskanlah.  Seumur hidup itu lama sekali.  Bertahan hanya untuk menderita juga tidak baik.  Hanya kamu yang tahu kebaikan untuk dirimu sendiri.’


Demikian pesan sadapan yang masuk ke hape nya.  Entah pesan dari siapa, sebab Cazim tidak melihat identitas si pengirim.  


“Brengs*k!” maki Cazim kemudian ia menunggangi motor.


Brum bruuum…. Ia menyetir motor dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Senja yang berteriak- teriak memanggil- manggil namanya.


“Cazim!  Cazim!  Aku jangan ditinggal.  Aku mau ikut kamu!  Caziiim!”


Cazim sambil memasang earphone tanpa kabel di telinga.  “Al, cari tahu siapa yang datang ke rumahnya Chesy siang tadi.  Laki-laki.  Dia mengirimkan kick untuk Chesy.  Cepat!  Jangan pakai lama.”


Cazim menarik gas motor dnegan kecepatan tinggi.  Meliuk sana sini melewati kendaraan lain.  Wuuush…  


Tak lama kemudian Alando menelepon.


“Jangan menelepon jika tidak mendapat kabar!” tegas Cazim.


“Yang datang ke rumah Chesy membawa kue tadi siang adalah Yakub, aku mendapat informasi dari Darel, tukang kebun itu.”


“Hm.”

__ADS_1


Kendaraan berbelok.  Cazim menuju ke rumah Yakub.  Tidak sulit bagi Cazim menemukan alamat rumah seseorang. Dia sudah tahu dimana tempat tinggal Rival, bocah paling nakal di sekolah.  Sebab selama ini Cazim- lah yang menjadi guru ngajinya Rival.  Dia tahu alamat anak- anak yang mengaji bersamanya melalui data yang ada di buku catatan Yunus.


Tangan Cazim menarik kerah kemeja yang dikenakan Yakub.  Menggeretnya ke dinding hingga punggung pria itu menghentak dinding.


“Kau rupanya mencoba untuk mendekati istriku.  Meskipun dia berniat untuk menggugat aku, bukan berarti kau bisa mengambil kesempatan itu.  Sampai detik ini, dia masih istriku.  Paham?”  Suara Cazim rendah, namun geram.


Yakub membeku di tempat.  Dia terkejut dan sepersekian detik terlihat bingung.  Namun kini ia sudah bisa menyadari apa yang telah terjadi.  Pertanyaan besar di kepalanya saat ini adalah kenapa Cazim terlihat jauh berbeda?  Dia sangat menakutkan di saat sedang marah begini.


“Kau Cazim kan?” Yakub yang terbiasa melihat Cazim selalu sopan, ramah dan penuh senyum itu, bingung melihat Cazim jadi sebrutal ini.


“Kau tidak sedang sakit.  Kau tahu siapa aku, jadi jangan menanyakan itu.  inilah Cazim. Dan kau harus tahu bagaimana aku akan meretakkan tulag lelaki yang mengusik kehormatan istriku dengan menggodanya!” Cazim berucap tegas.


Yakub menelan.  Dia membuang napas gusar.  Menatap Cazim teduh dan berkata, “Tenanglah dulu!   Kau jangan berprasangka buruk padaku.  Kenapa kau bisa menuduhku?”


“Aku tidak bodoh.  Selagi Chesy menjadi istriku.  Kau dilarang mendekatinya.”  Ia megangkat kepalan tinjunya dan mengayunkannya menuju ke wajah Yakub.


“Hei heiii…  Jangan jangan!”  Yakub berteriak sambil mengangkat kedua tangannya bersiap menangkis.


Cazim menurunkan kepalan tangannya.  Ia tersenyum simpul dan berkata, “Jangan main- main denganku!  Akibatnya akan buruk.  Kau bisa mengincar wanita lain, jangan Chesy!”  Cazim kemudian melangkah menuruni teras.  Kembali menaiki motornya dan berlalu pergi.


Yakub melepas napas lega.  Hampir saja jantungnya copot.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2