Mencintai Sang Mafia

Mencintai Sang Mafia
Pantang Menyerah S2


__ADS_3

"Bagaimana, Revalina? Apakah kamu setuju?" tanya Yakub. "Yaaa... Tidak mesti harus dijawab sekarang. Ini butuh proses. Kalau memang kalian berjodoh, insyaa Allah perkembangan bisnis juga akan pesat. Kan dua perusahaan bisa disatukan. Ini niat dan rencana yang baik."


Tunggu dulu, Revalina tidak bisa menjawab secepat ini, ia sadar sudah menjadi penyebab hilangnya senyum uminya selama ini atas kehilangan Rajani, yang seharusnya dirinyalah yang mati. Dan tadi ia melihat senyuman Chesy begitu lebar ditujukan kepada Yakub dan Sarah. Apakah ini artinya letak kebahagiaan Chesy ada pada mereka? Ah, tapi ini urusan jodoh. Revalina tidak harus mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan Chesy kan? Sebab ia yakin Chesy masih bisa mendapatkan kebahagiaan lain selain dari keluarga Yakub. 


"Rival, bagaimana denganmu? Kamu setuju nggak kalau menjalani pendekatan dengan Revalina? Revalina ini berasal dari keluarga terhormat, dari keturunan baik- baik dan tumbuh di keluarga yang taat agama. Ini yang paling penting," ucap Yakub.


"Jika menurut Mas baik, pandanganku juga akan mengatakan baik," jawab Rival.


Hah? Ini maksudnya Rival setuju gitu? Ada angin apa pria itu bisa berkata demikian? Aneh bin ajaib. Bukankah seharusnya Rival menolak karena menganggap Revalina adalah gadis yang buruk mengingat prestasi terakhir Revalina di kampus adalah bikin ulah dengan Dalsa, adiknya Rival.


"Wah, ini ada angin bagus kelihatannya. Nih, Rival menyalakan lampu hijau untuk Revalina. Tinggal menunggu Revalina nya aja," ungkap Sarah senang.


"Tunggu, sebelumnya Revalina minta maaf. Tapi Revalina ini kan punya kakak, jadi biarkan kakak yang duluan mikirin soal jodoh." Revalina berusaha menolak dengan sopan.


"Maksudnya Rafa?" tanya Chesy.


Revalina mengangguk.


"Oh, kalau Rafa ini kan laki- laki, perjalanan untuk urusan ke situ masih panjang," sahut Rafa cepat, seakan membuka peluang lebar untuk memberikan dukungan kepada Rival dan Revalina.

__ADS_1


"Tapi kan Revalina masih kuliah, ini terlalu dini. Biarkan Revalina lulus kuliah dulu baru membicarakan ini." Lagi- lagi Revalina mencari alasan. Mana mungkin ia mau dijodohkan dengan pria semacam Rival, dingin dan menyebalkan seperti kulkas berjalan.


"Sebentar lagi kuliahmu kan akan selesai," sahut Chesy. 


"Umi, tapi Revalina nggak tertarik dengan Pak Rival," jelas Revalina yang keceplosan. Ia kehabisan akal untuk menolak, kahirnya malah kalimat itu yang keluar. Ia sebenarnya juga tidak bermaksud meluncurkan kata- kata sedrama itu. Tapi apalah daya, sudah terlanjur. 


Rival tampak biasa saja, tetap tenang. Tapi siapa sangka batinnya sedang bergejolak. Tangannya mengepal. Siapa yang tidak malu dan haraga dirinya serasa dijatuhkan saat ditolak begini? 


Dasar gadis sombong!


"Mm... Ya sudah. Nggak masalah. Ini bisa kita bicarakan lain kali. Lagi pula, Revalina dan Rival kan juga belum seberapa mengenal satu sama lain. Jodoh nggak bisa dipaksakan," terang Sarah dengan senyum kaku. Sebenarnya ia juga merasa malu atas penolakan ini. Awalnya ia mengira bahwa Revalina akan langsung tertarik pada Rival mengingat sosok Rival adalah sosok yang sangat mempesona, tampan dan tanpa cacat. Keuangan pun baik. Tapi ternyata malah begini. 


"Baiklah, kami permisi pulang dulu. Ini juga sudah malam." Yakub pamit diri.


Rival melengos pergi tanpa menatap Revalina sedikit pun.


Sepeninggalan mereka, Revalina langsung angkat bicara saat menatap ekspresi kecewa di wajah uminya.


"Umi, maaf ya, Revalina nggak bermaksud bikin hubungan Umi dan sahabat umi jadi renggang, Revalina hanya ingin menentukan pilihan hidup sendiri. Ini kan menyangkut masa depan, dan yang menjalani itu adalah Revalina."

__ADS_1


"Ya. Tidak masalah. Hidupmu adalah hidupmu. Kamu yang jalani. Tapi asal kamu tahu, orang tua bertanggung jawab dalam hal membesarkan dan mendidik anak- anaknya, lalu mencarikan jodoh yang baik untuk anak- anaknya. Setelah itu lepaslah tanggung jawab orang tua," sahut Chesy datar, kemudian melangkah pergi bersama dengan paras datarnya. Jelas dia memendam kecewa. 


"Sabar ya!" Rafa mengusap singkat pucuk kerudung Revalina. "Tapi ngomong- ngomong Pak Rival itu manis juga kok."


Tatapan Revalina langsung tajam, membuat Rafa bergegas pergi sambil mengulum senyum.


Di sisi lain, Rival melepas dasinya dengan sekali tarikan kasar ketika sudah sampai rumah, ia langsung masuk kamar dan langsung membuang dasi tersebut ke sembarang arah. 


"Sialan gadis konyol itu! Bisa- bisanya dia menolakku. Memangnya dia siapa? Sombong sekali. Dia bahkan tidak lebih baik dari pemulung." Rival geleng- geleng kepala. Tak menyangka dia akan dipatahkan seperti ini. Namun hal ini justru membuatnya merasa tertantang dan penasaran pada sosok Revalina. Sudut bibirnya tertarik sedikit.


"Rival, kamu tidak apa- apa kan?" Yakub memasuki kamar, menghampiri Rival, adiknya yang kini telah tumbuh sebagai pria gagah dan menawan. "Penolakan Revalina tadi bukan apa- apa. Dia masih terlalu labil. Jangan dimasukkan ke hati."


Rival menoleh. "No problem. Aku paham itu." Dia memperlihatkan ekspresi tenang dan seolah tidak terjadi apa- apa. Jika bukan karena demi memperlancar bisnis kakaknya yang sudah memiliki jasa besar untuknya, ia tentu tidak akan sudi merendahkan dirinya dengan meminta Revalina menjadi jodohnya seperti tadi. Memalukan!


"Aku yakin kau pemuda yang handal dan hebat. Kau bisa diandalkan. Kau mampu melakukan apa pun! Termasuk dalam urusan wanita," ucap Yakub.


"Mas, aku percaya bisa membawa Revalina ke rumah ini sebagai calon istri. Dia itu mahasiswa di kampus tempatku mengajar, ini mudah."


"Waow, hebat kamu! Ini baru namanya Rival. Tidak pantang menyerah. Aku tunggu kedatangan gadis itu ke rumah ini." Yakub menepuk pundak Rival bangga, kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2