
POV Revalina.
"Reva, sarapan dulu Nak sudah jam berapa ini kau belum sarapan juga," bujuk Chesy sembari menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Revalina.
"Emm," gumam Revalina menolak suapan Chesy.
"Umi sudah bawa ke teras, katanya mau ke teras sudah di bawa ke teras malah nggak mau makan sama sekali," gerutu Chesy sedikit kesal.
"Ayo makan Nak, sedikit saja," bujuk Chesy kembali.
Revalina tetap menolak suapan tersebut, meski perutnya sudah terasa sangat sakit namun ia sangat malas makan sekarang ini.
Tak lama terlihat mobil berhenti di halaman rumah, dari fisik mobilnya sendiri Revalina merasa tak asing meski banyak merk mobil tersebut di jalan tapi yang satu ini berbeda.
"Sarah, ambil kursi rodanya," ucap Yakub sesaat setelah keluar dari mobil.
Tak disangka mobil itu adalah milik Yakub, Revalina terkejut sekaligus bahagia melihat Rival menjemputnya pulang.
"Mas Rival," ucap Revalina dengan mata berbinar-binar.
Terlihat kini Yakub dan Sarah mulai mendorong kursi roda Rival membawanya mendekat ke arah Revalina.
Sontak Revalina yang semula terduduk lemas kini langsung beranjak menyambut kedatangan Rival dan kedua Kakak iparnya.
"Assalamualaikum," ucap salam Rival, Yakub dan Sarah secara serentak.
"Waalaikumsalam," jawab salam Revalina dan Chesy.
"Mohon maaf Tante, kita pagi-pagi udah datang kesini karena ada yang mau dibicarakan," ujar Yakub dengan tutur sopan.
"Silahkan masuk," ucap Chesy langsung mempersilahkan semuanya masuk ke dalam rumah.
Semuanya mulai masuk ke dalam rumah tak terkecuali Revalina pun ikut masuk.
Di setiap langkah kakinya masuk ke dalam rumah, mata Revalina tak lepas memandangi Rival yang kini mulai bisa tersenyum di tengah badai masalah yang ada.
'Aku ingin terus bersamamu Mas Rival, aku bahagia, aku bangga kamu mu jemput aku,' ucap Revalina dalam hati sembari terus memandangi punggung Rival.
Chesy membawa mereka ke ruang tamu, saat itu juga Revalina tak jadi menyebut bahwa Umi nya ini adalah orang yang legowo tapi melihat sikapnya yang diam-diam begitu menyebalkan, kini Revalina jadi berpikir bahwa Chesy seperti tak lagi menganggap Rival, Yakub dan Sarah bagian keluarga.
"Umi, Rafa mau ke rumah Pak Joseph sebentar," ucap pamit Rafa dari arah belakang menuju ke depan.
Setibanya di ruang tamu seketika langkah kaki Rafa terhenti ketika melihat Rival dan Kakaknya datang.
"Nggak jadi Umi," ucap Rafa lirih.
Pagi itu akhirnya mereka berbincang, kedua belah pihak masih begitu kaku apalagi Rafa sangat amat kaku.
"Kedatangan kami kesini mau jemput Revalina, kami berharap Revalina diizinkan kembali sama kita," ujar Yakub sebagai wali Rival mengutarakan niat mereka bertiga datang ke rumah Chesy.
"Bagaimana Rafa?" tanya Chesy pada putra sulungnya.
Rafa langsung menggelengkan kedua kepalanya seketika membuat harapan Revalina kembali patah, ia tahu Kakaknya yang satu ini begitu protective terhadap dirinya namun sikapnya yang over pada dirinya membuat Revalina kesal.
"Aku nggak akan kasih izin Reva balik ke rumah kalian," jawab Rafa dengan tegas.
"Aku mohon Kak, aku janji kejadian semalam tak akan terulang lagi," ucap Rival memohon-mohon pada Rafa.
Dengan kekakuan dan kebekuan hatinya Rafa kembali menggelengkan kepalanya, benar-benar tak mengizinkan Revalina kembali pada mereka.
Revalina yang menyaksikan hal ini berusaha untuk tidak membenci Rafa, ia pun juga berusaha untuk mengerti posisi Rafa saat ini tak mudah menjadi seorang kepala rumah tangga di rumah ini.
"Saya harap kalian mau mengerti Rafa, mungkin dia masih shock dengan apa yang sudah dilihatnya kemarin," ucap Chesy pada semua sembari tersenyum tipis.
"Saya juga harap kalian juga mengerti bahwa Reva masih sakit jadi nggak bisa di bawa kemana-mana dulu apalagi melakukan pemindahan," sambung Chesy beralih menatap putri bungsunya sendiri.
__ADS_1
"Mi, aku itu nggak kenapa-kenapa Mi aku bisa ikut pulang Mas Rival," rengek Revalina mulai mengeluarkan suaranya.
"Nggak bisa Reva!" seru Rafa dengan tegas.
Pagi itu hawa kembali tersadar begitu panas, semua seperti jadi seorang pendebat handal yang masing-masing punya kelebihan tersendiri.
Berbeda dengan Chesy dan Sarah memposisikan diri mereka sebagai pendingin yang berusaha mendinginkan hawa panas ini.
"Kak, aku ini suami Reva aku lebih berhak atas Reva dia berkewajiban nurut dengan suami," ujar Rival mulai menunjukkan taringnya dengan kembali membahas antara berhak dan tidak berhak.
"Hey," bentak Rafa sembari menunjuk muka Rival dengan jari telunjuknya.
"Aku lebih punya hak atas Reva, dia adik kandung ku yang aku besarkan dengan sudah payah aku ini Ayah kedua baginya, jasa ku lebih dari segala-galanya ketimbang kamu," sahut Rafa murka dengan ucapan Rival.
"Tak ada dalilnya di agama seorang wanita yang sudah bersuami mendengarkan perintah Kakaknya atau bahkan orang tuanya sekalipun," ujar Rival dengan lantang.
Revalina yang melihat Rival menyuarakan perjuangannya untuk bisa kembali hidup bersama Revalina membuat air matanya tak dapat lagi tertahan.
'Terimakasih Mas, sudah mau berjuang,' ucap Revalina dalam hati.
"Terserah apa katamu, sudah lelah berdebat dengan mu yang jelas Revalina tetap di sini," sahut Rafa dengan tegas.
Perdebatan ini sungguh tak ada ujungnya, hingga siang hari tiba kedua belah pihak masih memegang teguh pendapat masing-masing sehingga tak kunjung mendapat titik temu.
"Lebih baik kalian menjauh beberapa waktu dulu sampai semuanya jadi lebih kondusif, menjauhlah dulu sambil memperhatikan diri," saran Chesy pada anak menantunya ini.
Dengan cepat Revalina menggelengkan kepalanya ia tak setuju dengan saran yang diberikan Chesy pada dirinya dan Rival.
"Aku nggak mau Mi, aku maunya sama Mas Rival terus," rengek Revalina menatap Chesy memohon-mohon padanya.
Tak seperti Rafa yang sangat kaku, tak goyah sedikitpun untuk menurunkan egonya. Chesy justru masih memikirkan perasaan Revalina, terlihat jelas dari sikap dan genangan air matanya ketika Revalina berucap.
Setelah melalui proses panjang, akhirnya mereka menemukan titik tengah yang langsung di sepakati oleh kedua belah pihak yaitu Revalina dan Rival tinggal di rumah Chesy, sekaligus Yakub dan Sarah jika mau.
Siang itu juga Rival tak kembali ke rumah justru Yakub dan Sarah yang pulang.
Di ruang tamu Rafa dan Chesy meninggalkan Revalina dan Rival berdua, seakan seperti tengah memberi keduanya waktu untuk berbincang berdua.
"Reva," panggil Rival tersenyum lebar ke arah Revalina.
Tak banyak bicara Revalina langsung memeluk erat tubuh Rival, tak disangka kebahagiannya sekarang ini berujung tangis haru yang tak dapat ia kontrol sebelumnya.
Usapan lembut Rival yang mendarat di punggung dan pinggangnya kini perlahan mampu memenangkan jiwanya.
"Terimakasih Mas, terimakasih," ucap Revalina sambil terus terisak-isak.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Rival kebingungan.
Perlahan keduanya kompak melepas pelukan, kini saling beradu pandang dengan satu sama lain saling menggenggam kedua tangan.
"Terimakasih sudah mau berjuang, terimakasih sudah mau sabar dan terimakasih atas jiwa besar mu," ujar Revalina sembari tersenyum ke arahnya.
"Terimakasih juga sudah kasih kesempatan, terimakasih sudah sabar dan terimakasih sudah menyayangi Mama seperti Mamamu sendiri," sahut Rival menirukan ucapan Revalina dengan isi yang berbeda.
Hari itu mereka melepas rindu dengan terus berbincang di sana sampai tak terasa kini perut Revalina kembali sakit namun kali ini terasa sangat amat sakit.
"Awhh," rintih Revalina kesakitan, tangan kanannya terus meremas perut sembari kedua matanya memicing.
"Kenapa Reva, mana yang sakit?" tanya Rival mendadak panik melihat sang istri merintih kesakitan.
"Perut ku sakit sekali Mas," rintih Revalina.
Tak banyak berpikir Rival langsung memanggil Chesy dsm Rafa, saat juga keduanya berlari menghampiri Revalina.
"Kenapa Reva?" tanya Chesy panik setengah mati.
__ADS_1
"Sakit perut ku Mi," jawab Revalina lirih.
Semua mengerubungi Revalina, semua panik melihatnya seperti ini.
"Mi, lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja," saran Rafa tanpa ulur panjang.
"Sepertinya nggak perlu, adikmu ini pasti asam lambungnya lagi kambuh," sahut Chesy sembari terus menatap Revalina.
"Dia nggak mau sarapan dari tadi, Begini nih hasilnya kalau nggak mau nurut sama orang Tua," gerutu Chesy dengan nada kesal.
Perlahan Chesy mulai beranjak, memberi ruang pada Rafa untuk mendekati Revalina.
"Tolong angkat Reva ke kamar biar dia lebih enakan sambil Umi kasih obat buat dia," perintah Chesy pada putra sulungnya.
"Baik Mi," sahut Rafa.
Menuruti perintah Chesy, perlahan Rafa mulai menggendong tubuh Revalina. Saat itu Revalina tak bisa apa-apa selain terus merintih sembari menahan tangisannya.
"Tahan Reva, tahan," ucap Rafa sembari terus menggerakkan tungkainya.
Saat menggendong tubuhnya tak henti-hentinya Rafa melirik ke arahnya, seperti tengah memastikan bahwa dirinya tak kenapa-kenapa meski pada akhirnya yang dilihat tetap Revalina merintih kesakitan.
"Hati-hati Rafa," tegur Chesy sesaat setelah Rafa bergegas Masuk ke dalam kamar Revalina.
Perlahan Rafa mulai meletakkan tubuh Revalina ke ranjang, tak lama Chesy terlihat berlari masuk ke dalam kamarnya sembari membawa segelas air dan obat asam lambung.
"Reva makan ya, Umi ambilkan," bujuk Chesy untuk yang kesekian kalinya.
Tak ada sahutan dari Revalina, ia masih merasakan sisa-sisa rasa sakit di perutnya.
Mata Chesy melirik Rafa yang ada di samping ranjang putri kesayangannya.
"Biar Rival yang suapi," ucap Chesy sembari tersenyum tipis menatap Revalina.
Saat itu juga Chesy langsung mengambilkan makanan minuman baru untuk Revalina, sementara itu Rafa masih Stafa di dalam ruang kamar.
"Sudah tahu punya sakit asam lambung kau masih ceroboh aja, lain kali itu kalau jamnya sudah jam makan ya langsung makan nggak usah bilang, dietz nggak nafsu makan lah," gerutu Rafa dengan nada kesal.
Meski nada bicaranya begitu kasar, akan tetapi Revalina paham dengan kecemasan Rafa di balik ucapannya tadi.
Tak terasa bibirnya mulai tersenyum-senyum dengan sendirinya.
Tak lama Chesy datang dengan membawa satu nampan berisi makanan dan minuman baru.
"Rival, tolong suapi bayi gede ini ya," ucap Chesy pada Rival dengan santai.
"Siap Mi," sahut Rival mengangguk sopan.
Setelah memberi pesan pada Rival kini akhirnya Chesy menarik keluar Rafa lalu tak lupa mengunci pintu kembali.
Mereka terlihat lucu yang satu menarik keluar dengan penuh antusias sementara yang satunya lagi kebingungan.
"Makan dulu ya," ucap Rival.
Perlahan Revalina mau membuka mulutnya, tiba-tiba perutnya lapar ketika Rival yang hendak menyuapinya.
"Lain kali nggak boleh lagi telat makan ya," tegur Rival namun sembari tersenyum ke arah Revalina.
"Iya," jawab Revalina singkat karena mulutnya saat ini benar-benar telah penuh.
"Masa sehari saja nggak bertemu denganku, kau sudah kena asam lambung," ledek Rival sembari terus menyuapi Revalina.
Sontak kedua mata Revalina membesar tatkala mendengar ledekan berbau kepedean tingkat dewa yang sudah ditunjukkan Rival.
"Enggak aku biasa saja, memang hari ini sudah takdir, nggak ada hubungannya sama itu," jelas Revalina sembari menahan tawanya sekuat tenaga.
__ADS_1
"Ah masa?" tanya Rival mulai menaikkan satu alis tebalnya menatap Revalina sangat lekat.