
"Alhamdulillah..." Suara Yunus lirih sekali. Lebih seperti bisikan yang terdengar berat.
Dokter pun keluar setelah memeriksa Yunus menggunakan stetoskop.
"Kamu yang kuat ya, beb. Jangan nangis, soalnya kalau nangis mukamu jelek banget. Aku support kamu." Sarah memeluk Chesy, mencium pipi kiri dan kanan sahabatnya itu.
Dasar Sarah, masih sempat membuli Chesy di saat begini. Kalau saja dalam keadaan normal, Chesy pasti sudah menggetok kepala Sarah pakai sendal. Beruntung Chesy dalam keadaan sedih, jadi jidat Sarah aman dari benda- benda amukan Chesy.
"Ya sudah, aku pulang. Aku akan kabari ayah dan ibu kalau kamu sudah menikah sama ustad Cazim. Jagain abi, ya. Ingat, kamu harus kuat."
Chesy mengangguk dengan wajah sembabnya.
Sarah berlalu pergi.
Semua orang sudah meninggalkan ruangan itu, hanya tinggal Chesy dan Cazim saja yang menunggu Yunus.
Chesy menggenggam tangan Yunus, menyingkirkan tubuh Cazim yang berdiri lebih dekat dengan Yunus hingga tubuh pria itu tergusur.
"Abi harus sembuh ya!" Chesy berbisik.
Yunus yang saat itu masih dalam keadaan lemah dengan berbagai macam peralatan medis di tubuh, menjawab dengan mengedipkan mata. Setelah itu ia kembali memejamkan mata.
"Aku mau beli makan, kau mau makan apa?" tanya Cazim.
"Beli aja untukmu sendiri. Aku nggak mau makan," ketus Chesy.
"Sejak pagi kau belum makan."
"Pertanyaan apa itu? Mau sok perhatian? Nggak lucu." bisik Chesy merendahkan suaranya supaya tidak terdengar oleh Yunus.
"Kalau kau pingsan kelaparan, aku juga yang repot."
__ADS_1
"Hei, siapa suruh kamu mesti repot? Nggak perlulah kamu merasa repot kalau aku kenapa- napa. Yang minta kamu nolongin aku juga siapa?"
"Aku mau beli lontong pecal. Kalau kau mau, aku mau sekalian belikan untukmu." Cazim seakan tidak peduli dengan makian Chesy.
"Aku nggak mau!" sengit Chesy.
Cazim pun melangkah pergi.
Chesy merasa lega sepeninggalan Cazim, ia merdeka dan terbebas dari belenggu. Kemarahannya pada Cazim benar- benar memuncak. Lelaki yang dia anggap penipu itu telah mencelakai ayahnya dan kini malah berstatus sebagai suaminya. Ini benar- benar buruk sekali bagi hidupnya. Jika tidak ingat bunuh diri itu dosa, dia seharusnya sudah melakukannya sejak diminta untuk menikah dengan Cazim, lelaki tidak beradab yang sangat dia benci.
Kenapa nasibnya apes begini, sampai harus berjodoh dengan lelaki itu?
Cazim melangkah masuk membawa sebungkus makanan. Ia lalu duduk bersila di lantai, meletakkan makanan di hadapannya. ia membuka bungkusan makanan.
Aromanya langsung menyengat di seputar ruangan itu. Lontong pecal. Cazim mengaduk- aduk lontong itu beberapa menit.
Chesy melirik ke arah pecal gara- gara aromanya yang menggoda. Ia menelan.
Perut Chesy keroncongan. sangat lapar. Lelaki itu benar- benar membeli satu bungkus saja. apa salahnya dia membeli dua bungkus dan memaksa Chesy memakan bungkus lainnya. kalau sudah dibeli kan pasti dimakan juga.
"Mau?" tanya Cazim sambil mengangkat sumpit yang menjepit lontong.
Chesy memalingkan wajah. Menunjukkan betapa ia tidak sudi menyantap makanan itu.
"Mumpung belum aku sentuh, nanti kalau sudah aku kunyah, aku tidak akan mungkin menawarkannya padamu," imbuh Cazim. "Mau atau tidak?"
Duh, pasti enak sekali itu makanannya. Tapi Chesy gengsi kalau harus menerima tawaran Cazim. dia tidak sudi. Lagi lagi Chesy memalingkan wajah.
Melihat hal itu, Cazim pun langsung menyantap makanannya.
"Lebih baik beli makan di tempatnya dan makan di sana. Jangan bikin kamar ini tercemar," ketus Chesy.
__ADS_1
"Kupikir kau mau makan, jadi kubawa ke sini." Cazim melahap habis makanan itu. "Aku tadi di sana sudah makan."
"Memangnya kamu beli makan dimana bisa sampai dua porsi begitu?"
"Di lantai bawah, ada warung makan sebelah kiri, keluar sedikit dari rumah sakit," jawab Cazim sambil membuang kotak bekas makanan ke tong sampah.
Chesy melengos keluar, melewati Cazim.
"Mau kemana?" tanya Cazim.
"Buang air."
"Kamar kecil kan ada di kamar." Cazim menyusul ke luar, berdiri di dekat pintu mengawasi Chesy yang berjalan di koridor.
"Bukan urusanmu." Chesy melanjutkan langkah.
Duh, semoga saja lontong pecalnya belum habis. Chesy lapar dan ingin makanan itu. Ia berlari menuju lift dan mengikuti arahan Cazim untuk mencari warung makan yang disebutkan pria itu.
Nah, akhirnya Chesy menemukan warung itu setelah sampai di lantai bawah. Tepatnya ia mesti keluar dari gedung rumah sakit dan berjalan keluar beberapa meter hingga sampai di warung makan.
"Mbak, lontong pecal satu. Minumnya teh hangat." Chesy memesan pada pelayan sambil melirik menu yang tertulis di dinding. Ada lontong pecal dengan harga yang lumayan.
Chesy duduk di kursi. Hanya dalam hitungan detik, pesanan disuguhkan ke meja.
Chesy langsung menyantapnya dengan lahap.
"Ya ampun, enak banget." Chesy menggumam.
"Enak memang!"
Chesy menoleh ke samping saat mendengar sahutan itu. Cazim?
__ADS_1
Bersambung