
Satu Minggu Kemudian
Waktu terus berjalan, Dan tak terasa setelah kesepakatan malam itu. Dimana sudah di rencana kan sebelum nya. Jika pada hari ini seluruh keluarga Niko akan terbang ke Malang. Karena sore nanti mereka telah membuat janji untuk datang ke rumah kedua orang tua Icha. Dengan maksud untuk melamar dan menentukan hari pertunangan Niko dan Icha.
Meskipun awalnya kedua orang tua Icha sempat terkejut karena tiba tiba saja putri semata wayangnya. Mengatakan untuk bertunangan. Padahal selama ini mereka tahu jika Icha tidak menjalin asmara dengan pria manapun.
Icha sudah pulang dua hari yang lalu ke Malang. Karena ia harus membantu Bu Widia untuk mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan keluarga besar Niko, Calon tunangan nya.
Keluarga Icha adalah keluarga sederhana. Ayahnya pak Nata adalah anggota bintara biasa. Sedangkan Bunda nya adalah seorang guru SMP disalah satu sekolah swasta yang ada di daerahnya.
Disana Icha hanya tinggal bersama kedua orang tuanya saja. Sedangkan Kakek dan Neneknya juga sudah meninggalkan beberapa tahun yang lalu. Itu pun ketika Icha masih kecil. Jadi bisa di bilang Icha belum begitu mengingat Kakek dan Neneknya.
__ADS_1
Bu Widia juga seorang anak tunggal, dia tidak memiliki saudara hanya ada keluarga jauh dari Almarhuma ibunya saja yang tinggal tidak jauh dari rumahnya di Malang. Sedangkan Pak Nata memiliki saudara tiri yang juga tinggal di Malang tapi berbeda kampung dengannya.
"Icha... Udah kuliah jauh jauh di Bandung. Kuliah belum selesai kok ya sekarang malah mau tunangan. Apa ya nggak sekalian aja gak usah kuliah cha!!!. Daripada udah buang buang uang banyak tapi tetap Nikah muda".Ucap Bibi Icha saudara dari Ayahnya.
" Ya mau gimana lagi Nila. Orang jodohnya udah datang. Lagian mereka kan masih tunangan, Icha juga masih bisa melanjutkan kuliahnya sampai selesai dulu. Orang udah Nikah aja masih bisa kuliah kok".Jawab Bu Widia sambil tersenyum.
"Memang nya calon nya Icha kerja apa???. Orang katanya masih kuliah juga kan?. Kalau udah nikah itu kebutuhan malah makin banyak mbak. Memangnya cukup buat biaya hidup dan biaya kuliah suami istri?. Apalagi tinggal di Jakarta, tahu sendiri kan gimana?? ".Bibi Icha masih saja terlihat merendahkan keuangan keluarga Icha. Dan menyepelekan calon tunangan Icha yang belum ia ketahui keadaan keluarga mereka yang sesungguhnya itu seperti apa.
Karena bicara dengan Bu Nila sama saja bicara dengan orang gila. Tidak akan pernah ada ujungnya. Dan tidak mau mengalah. Bu Nila memang sama dengan suaminya. Sama sama sombong dan angkuh. Karena kedudukannya di daerah itu lebih menonjol dibandingkan dengan Ayahnya Icha.
Suami Bu Nila pak Sastro adalah seorang anggota dewan. Jadi mereka sangat berpengaruh. Berbeda dengan Ayahnya Icha yang hanya seorang anggota polisi berpangkat rendah.
__ADS_1
"Calon dokter kok malah milih nikah muda. " Sinis Bu Nila. "Jangan aja nanti pas udah dinikahi malah garap ladang jadi buruh tandur lagi".Serunya lagi sambil terus saja merendahkan.
" Buruh tandur juga masih butuh tenaga bi, Dan kenapa harus malu itu kan pekerjaan halal, rezekinya juga halal ".Sahut Icha yang baru saja masuk kedapur karena di suruh Ayahnya untuk membuat kopi.
Saat ini di rumah sederhana milik Pak Nata dan Ibu Widia. Sedang ramai membantu mereka untuk membuat cemilan dan memasak makanan khas Malang , Untuk menyambut kedatangan calon besan mereka dari Jakarta.
" Kamu itu ya cha memang beda sama Gina. Kalau Gina mana mau asal pilih suami. Setidaknya ya seorang dokter atau pengusaha gitu. Kan kalian udah kuliah di kota besar masa iya mau kembali lagi ke kampung halaman. Apalagi malah rela jadi petani".Cecoros Bu Nila.
"Rezeki sudah ada yang ngatur bi. Gak harus mandang orang berpangkat dan bermartabat ataupun kedudukan tinggi untuk menjadikan meraka suami. Yang penting itu bertanggung jawab, paham agama, sayang keluarga dan saling mencintai. Karena rezeki bisa dicari bi".Icha akhirnya angkat bicara yang membuat Bu Widia tersenyum. Sedangkan bibi nya Bu Nila hanya melengos saja karena beliau tidak setuju akan ucapan Icha.
Dimana mana yang namanya orang sombong itu. Akan sulit menerima saran dan Nasihat. Karena yang ada dalam otak keras kepalanya mereka hanya mereka sendiri yang benar dan tidak terkalahkan.
__ADS_1
Susah memang bicara dengan orang yang sudah ada penyakit hati kronis. Maunya selalu di sanjung dan di puji. Tapi bicaranya tidak bisa dijaga, lisan dan katanya selalu menyakiti orang lain.