
"Huh".Icha menghembuskan nafasnya kasar setelah ia menutup telpon nya. Lalu ia duduk di halte tepat di depan kampusnya.
Ia merutuki kata kata nya tadi yang hampir saja ketahuan jika ia akan membahas masalah hubungan suami istri pada suaminya itu.
Tapi Icha juga sudah membulat kan tekad dan juga memantapkan hatinya. Jika ia sudah siap lahir dan batin. Ketika Niko meminta hak nya nanti padanya. Karena Icha sudah merasa bersalah pada suaminya sendiri. Ia sudah terlalu lama berlarut larut dalam kesedihan nya sendiri juga. Tanpa memperdulikan kewajiban nya sebagai seorang istri. Yang wajib melayani suaminya. Dan juga memberikan hak itu pada Niko.
Sekarang Icha sudah benar benar yakin. Dan tidak akan pernah menolak suaminya. Ia sudah siap memberikan apa yang sudah menjadi hak Niko. Meskipun Icha tidak berani untuk mengucapkan nya lebih dulu. Tapi Icha yakin suaminya pasti akan lebih mengerti.
Hampir lima menit lamanya Icha duduk di halte kampus. Dan beruntung Halte itu tidak sepi, banyak mahasiswa yang lainnya juga sedang menunggu bis kota. Ada juga yang menunggu jemputan ataupun taksi online nya.
Mobil mewah Niko dari arah berlawanan sudah nampak jelas di mata Icha. Dan beberapa detik sudah berhenti tepat di depan Icha yang sedang duduk di Halte itu.
Beberapa mahasiswa yang masih ada disana pun nampak terkejut melihat mobil mewah pengeluaran terbaru itu berhenti di hadapan mereka. Lagi lagi Icha menarik nafasnya kasar. Karena Niko sudah berhasil membuat semua orang menatap kearahnya.
Dengan sedikit ragu Icha pun mulai beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan mengitari mobil Niko. Semua mata mahasiswa nampak membulat sempurna ketika melihat Icha yang masuk kedalam mobil tersebut.
Dan benar saja sampai mobil Niko hilang dari pandangan mereka. Semua orang yang masih ada di disana terus membicarakan Icha. Masih untung Icha beda jurusan dan beda kelas dengan mereka. Tapi kebanyakan orang disana tadi adalah para seniornya di kampus.
__ADS_1
"Pasti mereka sekarang sedang ngomongin Icha bang".Lirih Icha pelan.
" Siapa??? ".
" Itu para kating tadi. Secara kan mereka lihat sendiri Icha masuk kedalam mobil abang".
Icha nampak menatap wajah tampan suaminya yang selalu saja membuat jantungnya terus berdebar tak karuan. Tapi sangat sayang untuk berpaling kearah lain.
"Biarkan saja!!!. Kamu kan masuk kedalam mobil suami kamu sendiri. Kenapa harus di pusingkan omongan orang orang??? ".Jawab Niko dengan selalu memasang wajah datarnya.
" Mau langsung pulang atau mau jalan jalan dulu??? ".Niko kembali membuka obrolan setelah beberapa saat Icha terdiam.
" Memangnya abang gak kembali ke kantor lagi??? ".
Icha menatap kembali wajah tampan suaminya. Yang saat ini masih fokus dengan setir mobilnya. Bahkan walaupun penampilan Niko sedikit tidak rapi lagi seperti tadi pagi. Tapi wajah tampannya itu sangat menutupi kekurangan nya.
Tangan Icha terulur untuk merapikan kembali dasi suaminya. Sedangkan Niko melirik sekilas dengan senyum di bibir nya.
__ADS_1
" Tadi aku sudah izin sama Daddy untuk langsung pulang lebih dulu".Ucap Niko menjelaskan. "Apa kamu mau jalan jalan sebentar sayang??? ".Sambungnya dengan bertanya.
Sekarang Icha pun sudah mengambil sisir yang ada di dalam tasnya. Sisir kecil yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Lalu mulai membantu menyisir dan merapikan kembali tatanan rambut Niko.
" Kita ke Mall aja ya bang!!!. Soalnya sekalian ada yang mau Icha beli buat kado ultah temen Icha di kampus".Jawab Icha sambil tersenyum.
"Hm... "
Meskipun Niko menjawab dengan hanya deheman nya saja. Tapi Icha tahu jika suaminya itu setuju akan usulnya. Icha kembali duduk dengan membenarkan posisinya kembali. Tangan nya terulur untuk menyentuh punggung tangan suaminya yang memang tangan kiri Niko. Ia letakkan pada pahanya. Dengan satu tangan yang masih sibuk pada setir mobilnya.
Niko melirik sekilas apa yang di lakukan oleh istrinya. Tapi. sedetik kemudian Niko malah menarik sudut bibir nya kembali. Karena Icha menggenggam tangannya erat. Pria itu membiarkan saja apa yang dilakukan istrinya. Karena ia juga merasa senang jika Icha mulai bisa menerima kenyataan. Dan sudah mulai bisa tersenyum kembali. Mungkin Icha juga sadar jika ia harus tetap melanjutkan hidupnya kembali.
"Aku janji tidak akan pernah mengecewakan kamu sayang. Aku juga janji untuk tetap mencintaimu sekarang, kini dan nanti. Tak akan pernah aku biarkan satu orang pun menyakiti mu". Batin Niko dalam hati.
Niko akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat istrinya bahagia. Dan melupakan kejadian menyedihkan dalam hidupnya. Bukan untuk membuang kenangan masa lalu Icha dengan kedua orang tuanya. Tapi untuk mengobati rasa perih dan tersiksa setelah kehilangan separuh hidupnya.
TBC
__ADS_1