Posesif Husband

Posesif Husband
Penutup Dandanan


__ADS_3

"Tapi siapa yang menyiapkan semua ini bang?. Bahkan semuanya bukanlah barang barang biasa. Pasti harganya lumayan menguras isi dompet".Ucap Icha merasa tidak enak hati. Apalagi ini baru hari pertamanya tinggal dirumah Niko.


Icha tidak mau jika ia di anggap sebagai lintah. Dan di sangka memanfaatkan keadaan serta kesempatan. Untuk mengeruk pelan pelan harta kekayaan calon suaminya dan kedua calon mertuanya itu.


" Ini semua dari Mommy. Jadi jika kau menolaknya maka kau secara tidak langsung membuat Mommy sedih".Jawab Niko santai. Sambil melangkah menuju sofa yang ada di dalam ruangan walk in closet kamar Icha.


Niko mulai mendaratkan bokongnya dengan duduk santai disana. Membuat Icha ikut menatap kearahnya duduk.


"Tapi bang, aku tidak mau di bilang tidak tahu diri nantinya. Aku juga merasa tidak enak hati dengan Mommy. Semua barang barang ini terlalu mahal dan mewah. Pasti Mommy menghabiskan banyak uang hanya untuk barang barang ini".


Icha masih saja tak habis pikir. Dan juga merasa semakin canggung. Menurut Icha Mommy Cinta sudah sangat baik saja ia sudah sangat bersyukur sekali. Dan barang barang yang ada di ruangan ini juga banginya sangat berlebihan.


"Kau terima saja Cha!. Dan jangan pikirkan masalah uangnya. Lagian Mommy tidak akan jatuh miskin hanya karena membelikan mu barang barang itu".Niko berucap sambil memainkan alisnya turun naik.


" Dimana Mommy?. Aku ingin bicara dengan Mommy".Seru Icha sambil ingin melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.


"Mommy lagi istirahat dikamarnya dan ada Daddy juga yang nemenin Mommy. Jangan dulu ganggu Mommy!. Daripada kamu yang malu sendiri nantinya".Niko kembali berbicara dengan nada santainya.


Tapi sangat terdengar serius oleh Icha. Dengan menarik nafasnya kasar. Icha pun kembali masuk kedalam ruangan itu. Lalu memilih menyusun barang barang nya yang ia bawa dari Malang.


Niko pun hanya menjadi penonton saat icha lebih fokus pada kegiatan nya itu. Tanpa berniat ingin membantu tunangan nya.

__ADS_1


"Ada hubungan apa sebelum nya kamu dengan Agus??? ".Tanya Niko tiba tiba.


Tentu saja Icha langsung menghentikan kegiatan nya. Dan menautkan keningnya bingung akan pertanyaan Niko barusan. " Maksdunya??? ".Tanya Icha bingung.


" Dia menyukaimu bukan??? ".Seru Niko tanpa basa basi lagi.


" Huh... "Teedengar Icha menghembuskan nafasnya kasar. " Setiap orang berhak mencintai siapapun. Tapi aku tidak mencintainya bang".Jawab Icha jujur sambil kembali melakukan kegiatannya.


Niko sedikit menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum. "Kenapa?. Bukankah dia juga tak kalah menariknya ".Goda Niko yang ingin tahu apa jawaban Icha.


" Menarik dimata orang lain belum tentu menarik di mata kita. Lagian Cinta itu tidak bisa di paksakan. Ia tumbuh dengan sendirinya, dan bersemi tanpa diminta".


Entah sadar atau tidak Icha malah menjawab dengan santainya. Seolah seolah tanpa beban sedikit pun.


Icha menghentikan gerakan tangannya. Lalu ia menoleh kearah Niko. " Tentu saja. Kalau tidak aku tidak akan sampai disini".Jawabnya ketus.


"Boleh aku tahu siapa pria beruntung itu??? ".Niko seolah sengaja memancing emosi dan kekesalan Icha. Bahkan Niko bertanya sambil menahan senyumnya.


" Sekarang dia sedang duduk di sofa sambil bertopang tangan tanpa berniat membantu tunangan nya menyusun barang barangnya ".Jawab Icha menyindir.


Membuat Niko langsung tersenyum lebar dan menggeleng kan kepala nya saja. Tapi jujur saat ini hati Niko sangat senang bahkan bahagia. Sebab, Ia juga tahu tentang perasaan Icha terhadap nya.

__ADS_1


Memang jujur itu indah, meski kadang kadang kejujuran itu menyakitkan. Tapi ketahuilah jika kita biasa menanamkan kejujuran sekecil apapun. Maka hati kita akan terasa tenang. Tidak ada kata was was yang selalu membayangi diri dan pikiran.


Namun tak banyak juga orang berpikiran jika dengan jujur maka akan mengakibatkan sebagian orang malah membenci. Makanya adakalanya manusia itu lebih memilih berbohong demi menjaga perasaan orang lain.


Tanpa mereka pikirkan efek dari kebohongan kebohongan kecil nya kelak. Yang bisa saja menjadi boomerang ataupun bisa pula menjadi sebuah penyesalan baginya.


Niko bangkit dari tempat nya duduk dan kini mulai membantu Icha memasukan bajunya kedalam lemari. Membuat Icha mencelos.


"Kenapa gak daritadi Bang?. Udah mau selesai juga kok".Ketusnya tanpa menoleh kearah Niko.


" Bang Niko iiihh... "Pekik Icha malu saat ia melihat Niko malah memegang barang dalam nya yang berbentuk G-string tipis.


Icha langsung merampas benda itu dari tangan Niko. Bahkan kini wajah Icha nampak merah menahan malunya. Tetapi Niko hanya memasang wajah datarnya saja nyaris tanpa ekspresi.


"Udah sana!!. Mending bang Niko tunggu di luar saja!!. Icha mau beres beres dulu".Usir Icha sambil mendorong pelan bahu Niko.


" Tadi katanya mau dibantuin".


"Tidak... Tidak usah. Icha bisa sendiri".Icha masih saja terlihat gugup dan bahkan wajahnya masih terlihat merah karena menahan malu. Saat ingat benda penutup dandanan nya di pegang dan di jembreng jembreng oleh Niko dengan santainya.


Dengan menggeleng kan kepala nya Niko pun keluar dari ruangan itu. "Cha.. Nanti kalau kita sudah menikah, beli yang kayak gitu lebih banyak lagi!!! ".Ucap Niko sebelum ia menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


Icha hanya melotot tak percaya akan ucapan fulgar Niko barusan. Sedangkan Niko hanya terkekeh geli saja sambil keluar dari kamar Icha.


TBC


__ADS_2