Posesif Husband

Posesif Husband
Interaksi Papa Dan Anak


__ADS_3

Kediaman Niko...


Icha yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di teras belakang rumah nya. Sembari melihat Sean yang sedang bermain di temani babysitter nya. Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Niko pun sedang berada di dalam ruangan kerjanya. Setelah sarapan pria itu memutuskan masuk kedalam ruangan kerjanya. Katanya ada pekerjaan yang harus ia selesai kan.


Icha terus menatap sang putra yang semakin hari semakin terlihat saja perkembangan nya. Bahkan senyum Icha tak pernah pudar saat ia melihat sang buah hati begitu sangat aktif.


" Sean... No!!! ". Teriak Icha saat putranya mulai kembali mengangkat tubuh kelinci dan ia otang atingkan dengan bebasnya di udara.


Sean pun langsung menurut. Ia kembali menurunkan anak kelinci itu dan membiarkan hewan imut itu berlari dan masuk kebawah taman bunga yang ada di hadapan Sean.


Sebuah tangan tiba tiba merangkul bahu Icha. Namun, Icha sama sekali tidak terkejut lagi. Karena ia tahu itu bau tubuh siapa. Dan benar saja Niko telah melingkarkan kedua tanganya di bahu sang istri. Seraya mendaratkan kecupan kecupan singkat di pucuk kepala dan juga pipi istrinya.


"Kamu masih belum makan apapun sayang??? ". Tanya Niko karena tadi Icha menolak untuk sarapan sebab, perutnya terasa begitu mual.

__ADS_1


" Aku sudah makan buah bang. Dan ini juga belum habis". Icha memperlihatkan piring buah yang ada di pangkuan nya.


Kini Niko memilih berjongkok dan mulai mengusap perut istrinya yang masih datar itu. " Anak papa sayang. Jangan buat Mama kerepotan ya!!. Kasian mama kalau harus begini terus tiap hari". Niko pun mendaratkan kecupan di perut sang istri.


"Apa masih mual sayang??? ".


" Sudah jauh labih baik bang. Dan ini kondisi normal sayang". Icha yang notabene nya adalah seorang ahli medis juga lebih paham. Bagaimana kondisi ibu hamil pada trimester pertama ini.


Namun, kehamilan kedua Icha kali ini. Ia sedikit kewalahan. Karena hampir setiap hari Icha tidak bisa makan nasi. Karena baru mencium aroma nya saja. Perut Icha serasa di aduk aduk ingin muntah. Padahal itu adalah makanan pokok.


Bawaan baby menang beda beda. Dan seperti yang di alami Icha saat ini. Karena dulu saat hamil Sean ia juga tidak serepot sekarang.


"Ingin makan sesuatu??. Biar abang belikan". Niko memberikan tawaran pada istrinya. Namun, Icha hanya menggeleng kan kepalanya. Sebab, ia juga tidak menginginkan makanan apapun saat ini.

__ADS_1


Bisa masuk buah segar saja Icha sudah sangat bersyukur. Karena ia juga tidak bisa makan sembarangan. Jika ujung ujungnya masih harus di muntahkan juga.


" Ma, haus". Seru Sean yang kini sudah berlari menghampiri kedua orang tuanya.


" Tolong Pa ambilin botol minum Sean itu!!! ". Tutur Icha yang menunjuk botol minum yang ada di pojokan kursi sedikit jauh darinya.


Niko pun mulai bangkit dan mengambilkan botol minum untuk putranya." Anak Papa kok udah asem gini sih??". Ledek Niko karena putranya sudah bau keringat. Padahal ia sudah mandi sejak pagi tadi.


"Habis main Pa". Jawab Sean setelah ia menghabiskan setengah botol air mineralnya.


Icha hanya tersenyum melihat interaksi suami dan putranya. Ia membayangkan jika nanti anak keduanya sudah lahir. Pasti keadaan rumah jadi semakin ramai saja. Meskipun Sean sudah terlihat sifat aslinya. Yang tidak jauh beda dengan sang suami dan juga Opa nya.


Namun, Icha sebagai seorang ibu dapat memahami itu. Karena meskipun cenderung datar dan kaku. Sean masih bisa dijadikan teman ngobrol saat ia jenuh. Sebab, Selama hamil ini Icha tidak di perkenankan untuk bekerja terlalu di porsir oleh suaminya. Bahkan jadwal prakteknya saja sudah di kurangi.

__ADS_1


Sesekali ia juga menerima pasien dirumah nya. Karena kadang Niko jadi lebih posesif dari sebelumnya nya. Apalagi Icha juga sangat susah menerima asupan makanan. Icha juga harus menunda study nya. Karena tak mau ambil resiko akan kehamilannya.


TBC


__ADS_2