Posesif Husband

Posesif Husband
Ada Yang Tegak Tapi Bukan Keadilan


__ADS_3

Benar saja tepat pukul setengah tiga sore, Niko pun sudah sampai dirumah. Ia juga membawa semua pesanan istrinya. Icha yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan suaminya. Saat ini pun langsung menyambut suaminya dengan senyum manis dibibirnya.


"Assalamu'alaikum".Ucap Niko saat sudah ada di hadapan istrinya yang kini langsung menyambut tangannya. Mencium punggung tangan nya dengan takzim.


" Waalaikumsalam ".Jawab Icha berbinar. Auranya langsung beda ketika menyambut kedatangan suaminyasuaminya pulang.


" Lama ya nungguin nya?. Tadi soalnya sempat terjebak macet dijalan. Maaf ya sayang!!! ".Niko mengusap pucuk kepala sang istri pelan.


" Gak papa bang, maaf merepotkan abang".Lirih Icha sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan pria yang sudah sah menjadi suaminya dan telah menanamkan benihnya dirahim nya itu.


"Tidak sama sekali sayang. Abang malah senang. Karena apa yang kamu inginkan itu adalah keinginan anak kita juga. Jadi sebagai seorang calon Papa, abang akan berusaha untuk menurutinya".Jawab Niko sambil mengecup bibir ranum istrinya.


" Terimakasih kasih sayang".Ucap Icha tulus sambil mwnyematkan panggilan Sayang. Yang baru pertama kalinya ia lontarkan untuk suaminya.


Niko pun langsung tersenyum senang dengan panggilan sang istri. Karena selama ini Icha selalu memanggilnya abang. Dan baru kali ini ia memanggil dengan kata Sayang.


"Ayo masuk!!!. Pasti istri dan anakku ini sudah sangat lapar".Serunya seraya menggandeng tangan istrinya masuk kedalam rumah. Sedangkan semua bungkusan yang ia beli tadi sudah di ambil alih oleh pelayan.


Dengan telaten Niko menyiapkan sendiri bakmi pesanan sang istri. Memindahkan nya kedalam piring. Lalu menyodorkan nya pada istrinya.


Icha pun nampak lahap memakan semua makanan yang tadi ia inginkan. Meskipun perutnya berasa mual. Tapi Icha tidak mau mengeluarkan nya begitu saja. Ia tahu Niko pasti sangat penuh perjuangan untuk membeli makanan yang ia inginkan itu. Apalagi Icha tahu bakmi yang ia pesan adalah sangat terkenal. Dan pasti mengantri untuk mendapatkan satu porsi bakmi itu.

__ADS_1


Belum lagi ia meminta es cendol yang jaraknya berlawanan dengan tempat bakmi yang ada di depan kampusnya itu.


"Kenapa??? Mual lagi? ".Tanya Niko ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang seperti menahan sesuatu.


" Sedikit".Sahut Icha lirih dan kembali melanjutkan makan nya.


"Jangan dipaksa sayang!!!. Minum dulu! ".Niko pun menyodorkan segelas air putih untuk istrinya. Dan membantu Icha meminumnya.


Niko menggeser kursinya agar lebih dekat dengan istrinya. Lalu Niko mengusap perut istrinya yang masih datar itu dengan sangat pelan. Sesekali ia juga mengecupnya.


" Sayang, jangan buat Mama kewalahan ya!. Nanti papa marah loh kalau kamu terlalu aktif di dalam sini".Ucap Niko sambil terus mengusap perut istrinya.


Icha pun hanya terkekeh . Ia tidak menyangka suaminya yang cool dan dingin seperti kutub utara itu, bisa bersikap konyol seperti ini. Tapi anehnya juga, Icha sudah tidak merasakan mualnya lagi. Dan setelah itu ia juga bisa makan dengan tenang.


Shasa pun tak kalah menjengkelkan nya dari calon keponakan nya itu. Karena sejak tadi ia selalu saja membuat Candra mati matian menahan hasratnya.


Sebab Shasa yang belum ia antarkan pulang terus saja membuat ulah. Candra dibuat tidak fokus untuk melanjutkan pekerjaan nya. Karena saat ini ia ada di dalam ruang kerjanya dan Shasa juga terus mengikutinya.


"Duduklah dengan benar!!! ".Ucap Candra tegas dan penuh dengan perintah.


Tapi Shasa seolah tak mendengar apa yang ia ucapkan. Gadis itu masih di posisinya semula. Dengan mengangkat kedua kakinya naik di sandaran sofa. Hingga bentuk kue serabinya bisa Candra lihat dengan jelas.

__ADS_1


" Shasa... ".Candra sedikit menaikkan suaranya. Membuat Shasa menatap jengah pada pria di hadapan nya itu.


Shasa bangun dan langsung berdiri. Tapi hal tak diduga oleh Candra. Shasa malah pindah duduk dengan santainya di pangkuannya. Mengalungkan kedua tangannya pada leher Candra.


Gleg...


Candra langsung menelan salivanya dengan susah. Karena kancing kemeja Shasa sedikit terbuka. Hingga belahan dadanya terlihat menyembul keluar.


Melihat itu Shasa bukannya takut. Ia malah semakin jahil saja. Entah apa yang ada didalam otak gadis remaja itu. Hingga ia berani membuat Candra menjadi tegang tingkat dewa seperti itu.


Shasa mulai menggerakkan pingulnya. Membuat sesuatu dibawah sana semakin terasa , bergerak gerak pelan. Shasa juga mengangkat dagu Candra ketika tatapan Candra tak teralihkan dari belahan dadanya.


"Berhenti lah bergerak atau kau akan menyesal!!! ".Ucap Candra dengan suara seraknya.


" Memang nya kenapa???. Apa kau takut tidak bisa menahannya lagi??? ".Goda Shasa mulai berani menantang.


" Shasa... Hentikan!!! ".Canda memejamkan matanya ketika ia merasakan alat tempurnya sudah berontak dibawah sana. Apalagi Shasa terus saja menggerakkan pinggulnya.


" Ada yang tegak tapi bukan keadilan".Cibir Shasa sambil turun dari pangkuan Candra.


"Sial... " Upat Candra dan ia pun langsung berlari masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam ruang kerjanya. Meninggalkan Shasa yang kini sudah tertawa lepas.

__ADS_1


Candra merutuki idenya untuk membawa gadis binal itu datang ke mensionya. Andai saja ia tidak berpikir panjang. Mungkin saat ini ia sudah menungganginya sejak tadi. Tapi Candra masih bisa berpikir waras, meskipun ia harus bersolo karir di dalam kamar mandi karena ulah gadis itu.


TBC


__ADS_2