
"Duh... Itu keluarga besar calon nya Icha udah datang".Ucap Seorang wanita tetangga Bu Widia.
" Wah, mereka pada bawa mobil mewah lagi Kayaknya calon Icha dari keluarga kaya raya ya??? ".
Banyak kasrak kisruh dari pembicaraan tetangga yang ikut membantu menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan calon besan Pak Nata dan Bu Widia. Tentu saja tetangga itu juga masih sanak keluarganya yang dan tinggal tidak jauh dari rumahnya. Membuat Bu Nila mencelos sambil menyunggingkan senyum sinis nya.
" Halah... Paling paling juga mobil rentalan. Jangan percaya gitu aja Bu Ibu. Zaman sekarang kan banyak sewa dan rental mobil. Sekalian sama sopirnya juga ada".Sahut Bu Nila menyela ucapan para ibu ibu itu.
Para ibu ibu itu hanya diam tak menggubris ucapan Bu Nila. Karena mereka tahu jika Bu Nila itu hanya sirik dan tidak senang melihat orang lain lebih dari nya. Padahal keluarga Icha juga masih keluarganya juga. Walaupun hanya sekedar saudara tiri.
Sedangkan di depan teras kedua orang tua Icha sudah berdiri di depan pintu rumah untuk menyambut kedatangan calon besan mereka. Yang tak lain dan tak bukan adalah komandan nya dulu waktu di Polsek Bogor.
Setelah semuanya saling sapa. Mereka pun akhirnya di persilahkan untuk masuk kedalam rumah. Di dalam sana juga sudah ada pak RT dan Pak RW. Sebagai saksi untuk meriahkan acara lamaran sederhana Icha dan Niko.
"Coba Luna juga ikut, pasti akan lebih seru nih".Lirih Niko yang kini juga ikut duduk ngapar di karpet yang sudah di tata serapi mungkin di ruang tamu sederhana kediaman Pak Nata.
" Kasian".Cibir Shasa meledek abangnya. Membuat Nikki menatap tajam kearah adiknya itu.
__ADS_1
Sedangkan Niko sejak tadi mengedarkan pandang nya. Mencari keberadaan calon tunangan nya itu. Tapi sampai acara sambutan kekuarga tiba pun ia belum melihat Icha.
"Sabar, sayang!!. Sebentar lagi Icha juga keluar".Ucap Cinta sambil terkekeh menggoda putranya.
" Kenapa Bu Cinta??? ".Ibu Widia ikut bertanya karena ia juga duduk di seberang Cinta.
" Biasa Bu Widia, Niko udah gak sabar kayaknya mau melihat calon tunangan nya".Sahut Cinta yang disambut gelak tawa oleh semua orang. Niko hanya datar sambil menggeleng kan kepala akan ucapan Mommy nya yang memang tidak bisa diam itu.
Dan tak lama setelah sambutan para kedua keluarga selesai. Kini tibalah saatnya Icha keluar dari kamarnya. Karena rencana awalnya hari ini cuma acara lamaran biasa untuk menentukan tanggal pertunangan. Tapi karena permintaan Niko dengan Daddy nya. Jika ia akan langsung bertukar cincin hari ini juga dengan Icha. Ya mau tak mau sore itu Niko dan Icha resmi bertunangan.
Meskipun kedua orang tua Icha sempat terkejut. Tapi karena Anton memberi pengertian pada Pak Nata akhirnya. Kedua orang tua Icha setuju, begitu pun dengan Icha.
Membuat Icha dan kedua orang tuanya pun ikut menatap Bu Nila. Tapi, yang di tatap tetap saja meneruskan pertanyaan nya. Seolah tak paham akan kode yang diberikan oleh Bu Widia.
Cinta yang paham akan situasi hanya tersenyum. "Niko ini masih kuliah Bu, sama dengan Icha. Makanya mereka berdua masih tunangan dulu. Tapi Niko juga su...
" Owalah, masih sama sama kuliah toh. Saya pikir udah kerja. Kan biaya pernikahan zaman sekarang itu mahal loh Bu. Kalo belum kerja terus nanti biaya nikahnya darimana dong?? ".
__ADS_1
Cinta menarik nafasnya kasar, ia benar benar geram akan ucapan dan sikap Bu Nila. Tapi sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tidak meledak. Grandpa Niko pun ikutan geram.
" Cucu saya itu bukan pengangguran. Dia adalah calon penerus perusahaan keluarga kami. Yang artinya setelah kuliahnya selesai nanti Niko akan mengangtikan saya sebagai pemimpin perusahaan ".Sahut Grandpa Hendra tegas.
" Daddy... "Cinta menggeleng kan kepala nya saat sadar jika Daddy nya sudah mulai tersulut emosi akan sikap Bu Nila.
" Memang nya Bapak punya perusahaan apa??? ".Bu Nila malah kembali bertanya. Membuat Hendra kembali naik darah. Tapi Yuna langsung menyentuh punggung tangan suaminya. Meredakan emosi suaminya yang mulai tak terkontrol. Mungkin karena faktor usianya.
Sedangkan Anton hanya menatap dalam diam dan santai. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi orang orang seperti Bu Nila dan suaminya itu. Karena dari segi bicara nya saja Anton sudah bisa melihat para penjilat dan juga tukang cari muka yang terkesan sombong seperti mereka. Hanya membuang tenaga saja jika ikut meradang menghadapi mereka itu.
"Setidaknya usaha keluarga saya bukan ngasilin uang dari hasil korupsi ataupun mengambil hak rakyat".Sahut Niko dengan nada datar dan dinginnya.
Raut wajah Paman dan Bibi Icha langsung merah padam. Karena mendengar sendirian Niko. Tapi kedua orang tua Niko nampak mengulum senyumnya. Begitupun dengan asisten Lana dan juga Grandpa nya.
"Bang, siapa nya Mbak Icha sih Ibu ondel ondel ini??? ".Tanya Shasa berbisik pada Nikki.
" Mungkin badut yang mbak Icha sewa untuk meramaikan acara pertunangan bang Niko sha".Jawab Nikki sekenanya. Membuat sikembar itu langsung terkekeh bersama dan langsung menjadi pusat perhatian semua orang.
__ADS_1
"Maaf".Ucap Keduanya saat sadar mereka di tatap oleh orang banyak.