Posesif Husband

Posesif Husband
Buah kesabaran


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sekarang semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga, Disana juga Anton yang saat ini ingin bicara pada Niko dan menantunya. Jadi, setelah makan malam selesai mereka di ajak duduk di ruang keluarga oleh Anton dan Cinta. Tak ketinggalan juga disana ada si kembar, Nikki dan juga Shasa.


"Niko, besok Daddy dan Mommy akan terbang ke Korea. Daddy ada kerjaan disana bersama Grandpa. Jadi urusan perusahaan disini Daddy minta kamu yang menghendle semuanya".Ucap Anton yang mulai membuka suara.


" Apa uncle Lana akan ikut bersama Daddy juga??? ".Niko bertanya sambil menatap wajah Anton Daddy nya.


" Hm, tentu saja bang, Apa jadinya Daddy tanpa Uncle Lani. Bukankah mereka berdua selalu nempel seperti perangko".Kali ini malah Mommy Cinta yang menjawab sambil terkekeh.


"Mommy... Uncle Lana bukan Lani".Protes Nikki cepat. Tidak terima jika calon mertuanya di ganti nama oleh Mommy nya.


" Ah, sama saja bang".Jawab Cinta santai. Membuat Nikki menepuk jidad nya.


Shasa langsung terkekeh "Ciye... ciyee... Yang ngebela calon mertuanya".Ledek Shasa sambil terus tertawa terbahak bahak.


" Shasa... "Anton langsung menatap putri bungsunya. Membuat Shasa langsung bungkam dan menutup mulutnya rapat rapat. Ia sudah tidak bisa berkutik jika di tatap seperti itu oleh Daddy nya.


Nikki tersenyum mengejek pada saudara kembarnya itu. Hingga Shasa mengepal kan tinju nya ke arah Nikki. Tentu saja Icha hanya bisa menggeleng kan kepala melihat tingkah adik iparnya itu. Sedangkan Niko masih tenang dengan wajah datar nya tanpa ekspresi.

__ADS_1


Setelah suasana kembali tenang. Anton kembali berbicara pada Niko di depan istri, menantu dan kedua anak kembar nya.


🌿🌿🌿🌿🌿


"Apa kamu tidak mau ikut bersama Mommy dan Daddy juga sayang??. Hitung hitung kamu liburan juga disana.Sekalian ketemu Grandma dan Grandpa, Karena mereka belum ketemu kamu setelah kita menikah".Niko berucap sambil duduk di sofa kamarnya. Karena saat ini Icha dan Niko sudah berada di dalam kamar mereka.


" Kuliah belum libur lagi bang. Dan sekarang juga lagi sibuk sibuknya praktek. Lagian aku mana bisa pergi sendiri tanpa suamiku ini".Jawab Icha sambil tersenyum. Icha pun ikut duduk di samping suaminya.


Niko menoleh kesamping tempat duduknya dimana ada Icha istrinya. "Apa kau mau kita rencakan liburan berdua sayang? . Sekalian untuk honeymoon".Goda Niko sambil menaikan alisnya.


" Hem... Tergantung sih. Bagaimana menurutmu sayang?. Perlu apa tidak?. Karena aku tidak akan pernah memakasamu sayang".Niko terus mengembangkan senyuman manisnya. Yang sangat jarang dilihat oleh orang di luar sana.


Dan Icha adalah salah satu wanita yang beruntung bisa melihat senyum manis suaminya dari jarak yang sangat dekat seperti ini. Bahkan hembusan nafas beraroma mint, menyeruak masuk ke indera penciuman Icha.


Kalau boleh jujur Icha saat ini ingin sekali mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Tapi sayangnya nyali Icha tidak sekuat itu. Ia masih saja malu malu. Meskipun sudah tidur satu ranjang dengan Niko selama satu bulan lebih.


Wanita mana yang bisa menolak pesona seoarang Niko. Apalagi setiap hari di suguhkan oleh badan kekar Niko yang kerap kali tidak memakai baju. Dengan tubuh setengah telanjang. Belum lagi kebiasa Niko yang tidur tidak pernah memakai baju. Hanya celana pendek saja yang membalut area bawahnya.

__ADS_1


Tiba tiba Icha memeluk tubuh Niko. Dan menyenderkan kepala nya pada dada bidang suaminya itu. Membuat Niko sedikit terkejut. Tapi, pria itu akhirnya mengulum senyumnya sendiri akan sikap istrinya.


"Aku sudah siap bang".Lirih Icha pelan.


Niko sempat terkejut dan bingung akan penuturan istrinya. Tapi Icha langsung mendongakkan kepalanya menatap dalam bola mata indah Niko. Senyum Icha mengembang ketika bersih tatap dengan suaminya seperti itu.


" Abang boleh ambil hak abang, kapan pun abang mau!!!. Aku sudah siap untuk itu bang".Ucap Icha dengan sangat yakin.


Tentu saja Niko langsung terkejut saat istrinya bilang sudah siap untuk memberikan hak itu padanya. Senyum Niko terbit dengan tanpa di buat buat.


"Apa kamu sudah yakin sayang??? ".Tanyanya menyakinkan. Anggukan kepala Icha membuat Niko sangat senang sekali.


Hati Niko jauh lebih menghangat, senyumnya mengembang sempurna. Bagaimana tidak bagi seorang pria normal pada umumnya. Pasti sangat berat menahan gairahnya. Apalagi setiap malam tidur di ranjang yang sama dengan lawan jenisnya.


Tapi Niko juga patut di acungi jempol. Karena sangat jarang sekali pria mampu bertahan dalam waktu yang lama. Dan tidak memaksakan kehendaknya demi hasratnya sendiri. Karena Niko mempunyai pikiran positif. Ia sabar menunggu waktu yang tepat dimana sang istri sendiri yang menyerahkan nya.


Dan inilah jawaban yang selama ini Niko tunggu. Pada akhirnya berbuah manis karena ia sabar dan tetap menunggu.

__ADS_1


__ADS_2