
Hidup didunia ini memang tidak ada yang kekal abadi. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Suka duka kebahagiaan dan kesedihan kerap kali terjadi pada setiap insan yang masih bernyawa. Bahkan masalah hidup juga sering silih berganti datang dengan tanpa diminta. Karena hidup ini semuanya adalah ujian. Jika di uji dengan kesedihan bersabarlah, jika di uji dengan kebagian maka bersyukurlah. Jangan sampai jadi manusia yang lalai akan sebuah nikmat yang Tuhan ataupun Allah berikan. Sesungguhnya pada akhirnya kita hanya menumpang singgah saja di dunia ini.
Ikhlas itu memang sulit karena hati benar benar harus ridha akan kehendaknya. Tapi ketahuilah jika kita benar benar ridha serta memantapkan hati dan pikiran untuk merelakan. Maka akan selalu ada saja kebahagiaan yang lain menantimu di depan sana.
Tetap optimistis apapun masalah yang kita hadapi saat ini. Karena begitulah proses kehidupan. Tidak ada yang kekal tidak ada yang bisa menghindari maut. Setiap hambanya pasti akan berpulang jika sudah waktunya tiba. Dan dengan jalan takdir yang telah ditentukan.
Icha mulai mengerjapkan matanya ketika lirih lirih ia mendengar suara gaduh di luar kamarnya. Lalu Icha menyibak selimut nya dan turun dari ranjangnya.Ia berniat keluar kamar untuk melihat kegaduhan itu.
Namun saat Icha akan membuka pintu kamarnya. Niko lebih dulu mendorong pintu kamar itu. "Sayang, kau sudah bangun??? ".Entah untuk yang keberapa kalinya Niko melontarkan kata sayang pada Icha. Tapi ketika kata itu di lontarkan selalu saja membuat hati Icha nyaman akan panggilan baru Niko untuknya.
" Bang, kenapa di luar berisik sekali???.Bahkan tadi aku mendengar suara mobil polisi juga. Ada apa bang??? ".Tanya Icha penasaran dan ingin tetap keluar kamar.
" Oh, itu cuma ingin meminta keterangan saja sayang. Dan sekarang mereka sudah pergi kok".Niko tersenyum pada Icha yang kini sudah dah ia nikahi.
"Tapi bang tadi aku...
__ADS_1
" Jangan terlalu banyak pikiran dulu sayang!!!. Kamu harus cukup istirahat karena besok pagi kita akan kembali ke Jakarta!!! ".Potong Niko cepat sebelum istrinya bertanya lebih banyak tentang sedikit kegaduhan di depan rumah nya tadi.
Dan tanpa banyak protes Icha pun menurut. Karena memang saat ini tubuhnya begitu lemah. Apalagi tenaga nya ia kerahkan untuk menangis sejak semalam. Ia juga sudah beberapa kali pingsan. Icha juga tidak protes kalau ia akan ikut dibawa ke Jakarta kembali besok pagi. Sebab, Icha sadar jika sekarang ia adalah seorang istri. Dan meskipun ia tetap tinggal di Malang, ia sudah tidak punya siapa siapa lagi, Paman dan Bibinya juga tidak begitu akrab dengannya.
Lagipula Icha tidak mau merepotkan keluarga dari Ayah maupun Bunda nya. Icha lebih memilih untuk tinggal bersama Niko yang memang jauh lebih berhak dibandingkan Paman ataupun bibi nya. Belum lagi memang sudah kodratnya seorang istri untuk ikut suaminya.
Niko menarik nafasnya lega karena Icha mau menurut begitu saja. Karena Niko juga tidak mau jika Icha sampai tahu dulu tentang apa yang barusan terjadi di luar sana. Sedangkan Icha baru saja berduka cita atas meninggalnya Ayah dan juga Bunda nya. Niko takut Icha akan semakin syok ketika tahu siapa dalang yang menyebabkan kedua orang tuanya kecelakaan dan meninggal dunia.
🌿🌿🌿🌿🌿
" Semua ini mama lakukan untuk papa juga. Buka untuk mama sendiri ".Jawab Bu Nila dengan entengnya.
Paman Icha hanya menggeleng kan kepala nya lemah. Ia tidak tahu lagi harus bilang apa. Karena istrinya selalu saja bisa berdalih. Paman Icha juga tidak perduli lagi dengan kedudukannya saat ini. Karena cepat atau lambat pasti berita tentang istrinya akan tersebar ke publik.
Sebagai seorang anggota dewan Paman Icha merasa sangat malu, dan juga merasa gagal menjadi suami yang baik. Andai saja dulu ia mau mendengarkan nasihat orang tuanya dan juga nasehat Ayahnya Icha. Mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Tapi sekarang sudah terlanjur terjadi. Mau bagaimana lagi.
__ADS_1
"Sekarang, mending papa panggil pengacara kita!!!. Dan suruh dia urus semuanya agar mama bisa keluar dari sini!!! ".Ucap Bu Nila dengan santainya.
Pria paruh baya itu mendongak menatap wajah istrinya yang tidak ada sedikitpun rasa penyesalan. Membuat Paman Icha yakin akan keputusan yang telah ia ambil.
" Maafkan papa ma".Lirih Paman Icha pelan sambil beranjak pergi.
"Pa... Apa maksud papa??? ".Teriak Bu Nila
" Mama harus bertangungjawab agar mama bisa sadar dan merenungi semua perbuatan mama. Karena mama sudah membunuh mas Nata dan juga Mbak Widia ma".Seru Paman Icha sambil menyeka air matanya.
"Pa, semua ini demi keluarga kita. Lagian mama tidak pernah menyuruh preman itu untuk membunuh mas Nata dan mbah Widia. Dasar saja para preman itu yang bodoh".Teriak Bu Nila masih saja berdalih.
"Mama tahu sekarang Icha jadi yatim piatu karena ulah mama. Sadar ma sadar ma!!!. Papa tidak pernah menyuruh mama melakukan kebodohan ini, tidak!".Sentak Paman Icha geram.
" Jalani saja hukuman mama. Dan maaf papa tidsk bisa bantu mama!!! ".
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Paman Icha pun langsung pergi begitu saja. Tanpa ingin menggubris semua upatan dan juga teriakan istrinya. Sudah cukup ia dibuat malu dan sudah cukup ia mengikuti kegilaan istrinya itu.