
Sedangkan di tempat yang berbeda juga saat ini. Tepatnya di sebuah rumah mewah yang tak kalah mewahnya dari kediaman Anton dan juga Cinta. Sepasang suami istri sedang duduk santai di kursi taman belakang rumahnya. Sembari menikmati secangkir teh hangat dan juga sembari melihat sang buah hati sedang aktif aktifnya untuk mengetahui banyak hal.
"Sepertinya sean sudah bisa punya adik tuh". Niko mulai menyinggung perihal anak kembali dengan istrinya.
Hari ini Niko sengaja memutuskan kerja dari rumah. Karena kebetulan istrinya juga sedang tidak ada jadwal dinas. Jadi, mereka berinisiatif untuk menghabiskan waktunya dirumah. Karena minggu minggu sebelum nya keduanya tampak sibuk dengan urusan perkerjaan.
Hingga mereka pun hanya bisa meluangkan waktu sedikit bersama sang putra. Beruntung Sean juga tidak banyak ulah. Putranya itu pun betah di tinggal dirumah Oma dan Opanya.
Anehnya Sean juga tidak pernah rewel jika dirumah Opa dan Omanya. Meskipun seharian tidak melihat Mamanya sekali pun. Mommy Cinta memang benar benar bisa di andalkan kalau mengurus anak-anak.
"Bukannya kata abang, tunggu sampai Sean sekolah dulu bang??? ". Icha menatap wajah suaminya yang saat ini duduk di sampingnya dengan kursi yang berbeda.
Sedangkan Sean sedang di jaga oleh pengasuhnya dan asyik memberi makan kelinci di dekat taman. Yang masih bisa dilihat dengan jelas oleh kedua orang tuanya.
" Mungkin kata kata itu akan aku ralat lagi sekarang". Niko menjawab dengan sudut bibir terangkat membentuk senyum.
"Bagaimana apa kau setuju sayang??? ". Tanya Niko menatap wajah cantik nan manis istrinya.
" Apa aku bisa menolak jika abang sudah bilang begitu?? ". Icha malah bertanya balik sambil tersenyum.
__ADS_1
Dan ucapan istrinya terang saja membuat Niko langsung tersenyum lebar. Icha memang tidak pernah menolak apapun yang menurut suaminya baik untuk mereka. Apalagi perihal anak, karena Icha juga ingin mempunyai anak yang banyak. Tapi ia juga bisa memberi jarak agar kasih sayang mereka tetap bisa tersalurkan dan sama sama adil.
"Ma... " Seru Sean yang saat ini sedang berlari kearah Mamanya dengan membawa seekor kelinci yang ia pegang kedua telinga nya.
"Sean, kasian kelincinya kalau cara pegangnya begitu". Icha bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri sang putra yang malah tertawa saat kelinci yang ia bawa terlihat menggantung di tangan mungilnya.
" No Sean". Pekik Icha ketika putranya malah mengayun ngayunkan kelinci kecil itu dengan gerakan cepat seolah ingin melempar kelinci nya saja. Membuat Icha malah ngeri sendiri melihatnya.
Niko malah terkekeh akan aksi putranya tersebut. Sean memang jarang sekali tersenyum. Apalagi dengan orang yang tidak ia kenal sama sekali. Bahkan pengasuhnya saja juga awalnya sangat sulit menyesuaikan diri dengannya.
Tapi kalau sudah tersenyum dan apalagi tertawa seperti saat ini. Ia akan tertawa tanpa beban, Mungkin ia baru menemukan mainan barunya. Dan anehnya kelinci itu hanya diam tanpa berontak sedikit pun juga.
Tapi Sean malah berlari kearah lain sambil terus membawa kelincinya yang tetap ia ayun ayunkan sesuka hatinya.
" Bang, lihat putra mu itu!". Icha menggeleng kan kepalanya saja akan sikap putranya hari ini.
"Biarkan saja sayang!!. Asal Sean tidak membu...
Belum juga sempat Niko menyelesaikan kata katanya. Pengasuh Sean sudah berteriak saat Sean malah melempar kelinci itu masuk kedalam kolam renang.
__ADS_1
" Apa seperti itu yang harus di biar kan bang??? ". Seru Icha yang langsung berlari kearah kolam renang. Begitu pun juga dengan Niko yang ikut beranjak.
" Yah jatuh". Lirih Sean yang masih sedikit belum jelas bicaranya.
"Bukan jatuh tapi Sean yang jatuhin". Icha menatap tajam putranya yang malah hanya nyengir kuda tanpa dosa akan ulahnya.
" Mandi yar belsih ". Seru Sean lagi membuat Icha hanya bisa menepuk jidadnya saja.
Niko pun menyuruh tukang kebun untuk mendaratkan kelinci yang di lempar oleh putranya. Sedangakan Sean malah sudah duduk di kursi yang ada di pinggiran kolam renang dengan santainya.
" Boy... Tidak boleh lagi seperti itu ya!. No. Kau bisa membunuhnya. Kasian kan masih kecil". Ucap Niko menasehati sang putra.
"Bau pa". Jawab Sean sambil menutup hidungnya.
Niko terkekeh sambil mengusuk kepala putranya pelan. " Kalau mau di mandiin kan bisa minta tolong mang asep boy. Dimandiin baik baik". Ucap Niko pelan sambil tersenyum.
"Apa sekarang Sean paham apa yang papa bilang??? ". Sean pun langsung menganggukkan kepalanya tanda paham.
" Good boy".
__ADS_1
TBC