Posesif Husband

Posesif Husband
Tempat Eksekusi


__ADS_3

Di sebuah ruangan gelap sedikit berair, membuat ruangan itu terasa lembab. Belum lagi bau amis dan anyir menyeruak masuk ke indera penciuman. Langkah kaki seorang pria berjalan tegap mulai menuruni anak tangga. Karena ruangan itu berada di dalam tanah.


"Selamat datang tuan".Sapa seorang pria berbadan kekar dengan setelan jas berwarna hitam. Menyambut kedatangan bos besarnya.


Sang asisten pun nampak mengiringi langkah bosnya. Memasuki sebuah ruangan khusus yang menjadi tempat penyiksaan. Tepatnya untuk membuat para musuhnya sadar akan semua perbuatan mereka.


Tempat itu juga menjadi ladang pembunuhan sadis yang selalu mereka kerjakan. Jika mereka berhasil melumpuhkan sanderanya. Tak hanya itu saja, mereka juga mengambil semua organ tubuh yang bisa mereka jadikan uang secara ilegal.


Bahkan tak hanya itu saja, gembong mucikari terbesar yang mendalanginya adalah bos mereka. Jadi, tidak heran jika kekayaan bos nya cepat meluas dan juga mampu menjadi pengusaha sukses hanya dalam satu tahun berdiri.


"Dimana ****** itu??? ".Tanya Pria tampan dengan tatapan dingin nya.


" Sudah berada di ruangan khusus tuan ".Jawab Seorang pria bertubuh kekar itu.


" Bagaimana rasanya??? ".Tanya asisten Tomy dengan nada meledeknya.

__ADS_1


" Sudah bukan perawan lagi tuan".Sahut pria kekar itu sambil tersenyum mencibir.


Membuat bosnya menggelengkan kepalanya saja. Karena ia sudah sangat tahu bagaimana kondisi sandera nya saat ini. Jika anak buahnya saja sudah bilang seperti itu. Dapat di pastikan jika sandera nya saat ini pasti sudah terkulai lemas.


Setelah mendengarkan semua laporan dari anak buah nya. Yang memang ditugaskan khusus untuk tetap stay di markasnya. Pria bertubuh maskulin dengan wajah tampan itu. Mulai memasuki ruangan yang nampak remang remang.


Di sudut ruangan ia dapat melihat seorang wanita yang kini sudah nampak berantakan. Dengan tubuh yang hampir telanjang. Karena semua pakaian nya sudah tak berbentuk sempurna lagi.


Pria tersenyum sinis seraya terus melangkah mendekati wanita yang kini nampak miris. Kedua tangan yang terikat pada sisi balok yang di gantung. Sedangkan kedua kakinya pun nampak di rantai. Sungguh pemandangan yang membuat iba. Tapi tidak berlaku untuk pria dihadapan wanita itu sekarang.


" Bunuh saja aku, brengsek! ".Pekik wanita itu dengan sisa sisa tenaganya yang ada.


Bahkan untuk berdiri saja ia hanya bergantung pada ikatan tangan dan kakinya. Tapi pria itu tetap tersenyum dengan senyum mengejek nya. Pria itu juga mulai mengambil tongkat baseball yang ada di samping meja kosong di dalam ruangan itu.


" Hahahaa... Kau pikir aku akan membunuhmu dengan semudah itu. Hm?".Tatapan tajamnya mampu membuat siapapun langsung menciut.

__ADS_1


Begitu juga dengan wanita yang sudah nampak miris itu. Ia sudah pasrah dengan apa yang ia alami saat ini. Tapi ia juga tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah ia lakukan sebelum nya.


"****** seperti mu, memang layak untuk bertemu malaikat maut. Tapi.... " Pria sengaja menjeda bicaranya lalu ia mengarahkan tongkat baseball itu pada pangkal paha si wanita yang terikat itu.


Wanita itu nampak menggeleng kan kepalanya. Ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Karena semua tenaganya sudah terkuras habis saat ia telah di gilir oleh para anggota si pria itu.


Asisten Tomy yang sudah bisa menebak, hal apa yang akan dilakukan oleh bos nya itu. Hanya bisa menelan salivanya dengan susah. Meskipun ia sudah sangat sering melihat bosnya menyiksa secara sadis. Bahkan ia juga bisa melakukan hal yang sama. Tapi jika urusan menyiksa perempuan dengan cara yang dilakukan oleh bosnya. Mungkin Ia akan menyerah. Karena bos nya itu selalu tidak berprikemanusiaan sedikit pun.


"Aaahhhh.... " Pekik wanita itu serak bahkan suaranya kini sudah tak terdengar lagi.


Bener apa yang telah diduga sang asisten. Bosnya itu memasukkan ujung tongkat baseball nya kedalam goa yang sudah banyak dibobol oleh anak buahnya tadi.


"Bagaiamana?. Lebih enak bukan?".Suara tawa pria itu terdengar sangat puas ketika melihat wanita itu sengsara.


" Hen... ti.. kan... ".Lirih wanita itu terbata bata bahkan ia sudah tidak mampu lagi untuk menangis. Karena percuma juga air matanya tumpah. Sekalipun ia mengeluarkan air mata darahnya. Pria yang ada dihadapannya saat ini tidak akan pernah iba.

__ADS_1


__ADS_2