Posesif Husband

Posesif Husband
Papi Mami


__ADS_3

"Daddy dan Mommy menyuruh kita untuk menginap malam ini".Niko berucap sambil meletakkan ponselnya di atas Nakas.


Hari ini Niko memang tidak berangkat ke kantor. Karena Icha tidak mau jauh darinya. Hal itu juga bukan hari ini saja. Hampir setiap hari Icha bersikap begitu. Hormon bumil satu ini juga kadang membuat Niko kelabakan. Icha juga sudah hamil tua, tinggal menunggu harinya saja.


Mereka sedang menantikan kelahiran sang buah hati yang menurut hasil USG berjenis kelamin laki laki. Niko juga sudah membatasi aktivitas istrinya. Beruntung kegiatan kuliah Icha sudah tidak padat lagi. Hanya saja ia seharusnya sedang praktek, tapi itu juga sudah di handle oleh sang suami.


Apa yang tidak bisa di atur kalau suaminya adalah orang yang berkuasa dan memiliki banyak relasi. Bahkan asset kekayaannya juga tidak terhitung lagi. Masih akan sisa banyak sampai tujuh turunan.


"Kenapa dadakan sekali???. Apa ada hal yang penting bang??? ".Icha pun langsung membenarkan posisi nya. Yang tadinya ia berbaring di ranjang kini sudah bersender pada kepala ranjang dengan posisi duduk.


Niko pun ikut duduk di bibir ranjang. Sembari mengusap pucuk kepala sang istri penuh sayang. " Aku tidak tahu pastinya sayang, tapi sepertinya memang ada hal penting".Niko mengecup bibir istrinya sekilas sambil tersenyum.


"Apa kau tidak keberatan untuk menginap kerumah Mommy??? ".Niko bertanya dengan sangat hati hati. Karena akhir akhir ini Icha selalu saja tidak bisa tidur dengan nyaman. Mendengar suara berisik sedikit saja ia sudah tidak bisa tidur lagi.


Sejak dinyatakan hamil , banyak sekali perubahan sikap istrinya itu. Kadang ia menjadi istri yang sangat dingin. Banyak maunya, kadang juga sangat manja dan sangat sensitif.

__ADS_1


Meskipun kehamilan Icha banyak membuatnya kerepotan. Tapi, Niko selalu menikmatinya. Ia bahkan rela membeli ayam betutu yang harus dibeli langsung dari bali. Demi mewujudkan sugesti ngidam nya sang istri. Dan itu Niko lakukan dengan pulang pergi dalam waktu satu hari saja.


Beruntung keluarga nya memiliki jet pribadi sendiri. Jadi, tidak pusing kalau hanya untuk beli ayam betutu di tempat asal nya.


"Kenapa aku harus keberatan sayang. Malah aku senang kita bisa berkumpul bersama dengan keluarga abang. Apalagi disana ada Shasa, pasti suasana akan semakin ramai saja".


Niko sampai mengerutkan keningnya. Akan jawaban istrinya. Perihal nya selama ini mendengar sendok jatuh saja. Ibaratnya Icha akan terganggu. Ini malah sangat berbeda dari biasanya.


" Kamu yakin sayang?. Bisa tidur dengan nyaman nantinya disana??? ".Tanya Niko memastikan istrinya. Anggukan kepala Icha membuat Niko tersenyum.


Niko pun kembali mengecup bibir istrinya. Tapi kali ini bukan hanya sekedar kecupan biasa. Niko melahabnya dengan sangat menuntut. Membuat Icha paham apa yang akan terjadi selanjutnya.


Rutinitas yang selalu mereka lakukan setiap harinya. Mungkin kadang Niko hanya absen ketika melihat kondisi istrinya yang tidak terlalu fit saja. Karena Niko juga sangat memikirkan kondisi janin didalam perut sang istri.


Bagi Niko dengan perut yang membuncit seperti itu. Icha semakin terlihat seksi di matanya. Benar saja sepersekian detik kemudian. Niko dan Icha sudah mulai panas. Mereka pun sudah melepaskan semua kain yang menempel di tubuh nya.

__ADS_1


Suara ******* halus yang kini mulai terdengar memenuhi ruangan kamar luas dan mewah itu. Menandakan keduanya sudah memulai penyatuan nya. Tak bisa di pungkiri lagi jika kini terowongan Casablanca milik Icha sudah penuh tertutup oleh alat tempur Niko.


Menciptakan gairah dan gelayar yang terus menjalar nikmat. Membuat keduanya lupa diri saking menikmati nya kegiatan mereka. Tak ada yang bisa mendeskripsikan dengan kata kata. Bagaimana rasanya ketika ditunggangi sedemikian rupa.


Yang ada hanyalah suara suara erotis yang selalu menyertai sambil terus merasakan letak setiap titik kenikmatan yang terasa begitu nyata. Peluh dan keringat yang keluar dan sesekali menetes menjadi saksi bisu. Bagaimana hebatnya peperangan mereka saat ini.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul Tiga sore. Dimana Niko baru saja menyelesaikan kegiatannya. Icha pun sudah terkapar tak berdaya di atas ranjang. Karena ulah suaminya.


Namun, senyuman manis itu selalu terukir dibibir tipisnya. Membuat Niko selalu ingin untuk melahabnya. Lagi... lagi... dan lagi.


"Mau istirahat sebentar atau mau langsung mandi?. Hm? ".Tanya Niko sembari mengusap wajah mulus istrinya. Setelah ia mendaratkan kecupan singkat di kening dan bibir istrinya.


" Langsung mandi saja bang, nanti kita kesorean lagi kerumah Mommy!! ".Icha pun langsung merentangkan kedua tangannya. Meminta bantuan sang suami untuk membantunya bangkit dari ranjang.


Tapi sebelum membantu Icha bangun. Niko malah menundukkan kepalanya. Untuk mengecup perut buncit istrinya. Bahkan Niko sambil mengusapnya perlahan.

__ADS_1


"Papi tidak sabar lagi menunggu kehadiran kamu sayang. Baik baik ya di rahim Mami!!. Jangan buat Mami kesusahan!. Jika ingin segera lahir jangan dadakan sayang! ".Seloroh Niko sambil terkekeh pelan.


Membuat Icha hanya bisa menggeleng kan kepalanya saja. Niko sudah sering mengucapkan kata konyol seperti itu. Seolah memberi peringatan pada baby nya agar tidak merepotkan istrinya.


__ADS_2