
Sean memandangi wajah Megi yang saat ini duduk diatas pangkuannya. Sudah sepuluh menit, namun matanya masih memandang Megi dengan lekat.
"Apa sih Kak? gitu banget lihatin aku?" tanya Megi sambil menyisir rambutnya ke balik telinga.
"Muka lu awet banget sih? gue udah punya anak, masa lu masih bocah aja?"
Megi tersenyum dan tersipu malu, setelah lima tahun berlalu pun, rasanya masih sangat deg-deg an saat Sean memandangnya begitu dekat.
"Udah deh, Kak. Aku ngantuk, mau tidur." Megi bangkit dari pangkuan Sean dan berjalan menjauh.
Dengan cepat tangan Sean menarik pergelangan tangan Megi.
"Kali ini gue gak akan lepasin elu lagi." ucap Sean menarik Megi kembali kedalam pangkuannya.
Sean membelai rambut Megi dengan lembut, menyisir rambut Megi dengan perlahan.
"Malam ini, gue gak akan nahan diri lagi seperti lima tahun yang lalu, Megi." ucap Sean sambil memainkan kedua alis matanya.
"Malam ini, elu akan jadi milik gue seutuhnya." bisik Sean di telinga Megi.
Dengan sedikit tersipu malu, Megi bangkit dan berjalan ke sisi kasur satu lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Lima tahun lalu ia pernah memaksa Sean untuk melakukannya, namun kenapa kini rasanya ia lebih nerveous dari sebelumnya.
Megi mulai melepaskan satu persatu aksesoris pakaian pengantinya. Ini bukan pernikahan yang pertama, namun jantung Megi tak berhenti berdetak sedari tadi.
"Lu gak minta bantuan gue buat lepasin aksesoris itu lagi, Megi?" tanya Sean menggoda.
"Aku bisa buka sendiri kak." jawab Megi datar.
"Gue bisa kok bantu lu lepasin seluruh aksesoris dan pakaian itu." ucap Sean menggoda.
"Makasih, tapi aku bisa buka sendiri sekarang."
"Atau elu yang berdiri dengan balutan handuk di ambang pintu juga boleh." kembali Sean menggoda.
"Kak." Megi memalingkan wajahnya dan melihat Sean dengan sinis.
"Baiklah, sebaiknya gue mandi aja." jawab Sean santai. "Lu gak mau ikut mandi bareng gue?"
"Apa sih." jawab Megi dengan merona merah.
Dengan santai Sean bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang berkeringat setelah seharian menjalani resepsi pernikahannya dengan Megi.
Walau tak meriah, namun pernikahan kali ini lebih istimewa di bandingkan yang lainnya. Pernikahan ia yang kali ini, memang pernikahan yang sesungguhnya Sean inginkan.
Sean keluar dengan sedikit bersiul, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Bibirnya tersenyum saat melihat punggung badan Megi yang berbalut piama hitam, tidur membelakanginya.
Sean melingkari pinggang Megi dengan tangannya. Perlahan ia menempelkan badannya di punggung badan Megi. Membelai rambut Megi dengan mesra.
"Sayang." bisik Sean di telinga Megi.
"Kak, sssttt." ucap Megi berbisik.
Sean menaiki sebelah alis matanya.
"Jangan berisik, ada Rezi disini." Megi melirik ke sebelahnya.
"Eh ... Sejak kapan dia disini?" tanya Sean sedikit kaget.
"Ssssttt..." Megi kembali meletakan satu jarinya di depan bibir.
"Apa-apaan dia?" tanya Sean sengit.
"Kakak tidur duluan aja, jangan berisik." ucap Megi kembali tidur membelakangi Sean.
"Ck ..." Decak Sean kesal, ia melihat anak lelaki semata wayangnya yang sedang tidur memeluk badan mungil Megi.
"Cih ... Dasar rubah kecil licik, belum apa-apa aja udah mau nguasai."
Dengan cepat tangan Sean menarik pinggang Megi menjauh dari Rezi yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Kak apa-apa an sih?" tanya Megi saat menyadari badannya bergeser ke samping.
"Malam ini lu harusnya sama gue, kenapa peluk-peluk lelaki lain?" tanya Sean kesal.
"Ya ampun kak, Rezi takut tidur sendiri. Dia habis mimpi buruk. Sama anak sendiri juga." Megi kembali menarik selimutnya dan ingin tertidur kembali.
Lebih cepat tangan Sean menghentikan pergerakan Megi.
"Biasa juga dia tidur sendiri. Modus banget." ucap Sean sinis.
"Dia masih kecil, mana tahu modus. Udah ah, aku temeni Rezi tidur dulu ya."
"Eh ... Gak bisa." tahan Sean cepat.
Dengan sigap tangan Sean menarik Megi dan menggendong badan kecil Megi. Berjalan menuju kamar tamu.
"Dia pikir dia siapa? udah cukup hebat buat ngelawan Sean Putra?" ucap Sean angkuh, sambil berjalan menuju kamar tamu.
Sementara Megi hanya tersenyum dan menggeleng pasrah. Melingkari kedua tangannya di bahu Sean.
"Harus banget ya malam ini, Kak? kasihan tahu Rezi di tinggal sendiri." ucap Megi lembut.
"Jadi lu lebih milih malam pengantin sama dia? yaudah balik aja sana." jawab Sean ketus.
"Iya, enggak. Sama Papanya dong, kan Papanya lebih menggoda." Megi mengedipkan sebelah matanya.
"Baiklah, elu yang menggoda, malam ini gak boleh nyerah, oke."
"Ih ... Apaan sih kakak." Megi mencubit dada bidang Sean, kesal dan juga geram.
Salah tingkah, setelah akhirnya terpisah kebersamaan ini kembali terasa indah buat mereka berdua. Walau kini keadaan nya tak lagi sama. Tapi setidaknya semua jauh lebih baik dari sebelumnya.
****
Tok ... Tok ... Tok ...
"Papa ... Papa ..." ketukan memburu dari balik daun pintu memaksa mata Sean dan Megi terbuka.
"Kak, Rezi kenapa?" senggol Megi pada Sean yang masih enggan bangkit dari kasurnya.
"Biar saja, paling juga mainan nya hilang." jawab Sean santai.
"Papa ... Papa ..." teriak lantang suara Rezi memenuhi ruangan.
Dengan membalut badannya dengan selimut, Megi bangkit dari kasurnya.
"Eh, Meg. Mau kemana?" tanya Sean menarik tangan Megi.
"Lihat Rezi lah, kasian kan nangisnya gitu."
"Biar gue aja." ucap Sean lembut.
Dengan sedikit malas, Sean memakai kembali kausnya dan berjalan menuju pintu.
Sementara Megi langsung memasuki kamar mandi. Rezi langsung memeluk betis kaki Sean saat daun pintu terbuka.
"Papa ... Papa ..." teriak Rezi menangis.
"Ada apa Rezi? pagi-pagi juga, siapa yang buat anak Papa nangis?" tanya Sean berjongkok.
"Tante cantik hilang, Pa." jawab Rezi menangis terseduh.
Dengan sedikit tersenyum, Sean meraih pipi mungil putranya.
"Kenapa bisa hilang? kamu taruh dimana Tante cantik?" tanya Sean menggoda.
"Gak tahu, Pa." jawab Rezi masih menangis.
"Jangan nangis, anak lelaki gak boleh nangis. Ayo cari." perintah Sean.
Dengan langkah kecilnya Rezi kembali ke kamar Sean. Tangan mungilnya mencari Megi di bawah selimut, namun yang di cari tak ada.
__ADS_1
Sementara Sean berdiri menumpuhkan sebelah bahunya di depan pintu. Memperhatikan gerakan anak semata wayangnya yang kebingungan mencari Megi. Selain menggoda Megi, sekarang Sean punya mainan baru untuk di godanya.
"Ada?" tanya Sean ketus, di ambang pintu.
Sementara putranya hanya menggeleng dan kembali menangis.
"Papa bilang anak lelaki gak boleh nangis. Ayo cari lagi." perintahnya ketus.
Dengan menghapus air matanya, Rezi membalik-balik bantal dan gulingnya. Mencari Megi sekaan sedang mencari mainannya yang hilang.
"Cari di bawah tempat tidur." perintah Sean.
Di ikuti tingkah polos Rezi yang menunduk, mengintip kolong tempat tidur.
"Gak ada?" tanya Sean kembali.
Rezi hanya menggeleng pasrah, air matanya kembali berderai.
"Lihat di laci." perintah Sean kembali.
Dengan langkah kecilnya, Rezi mengikuti semua perintah nyeleneh sang Papa.
Selesai mandi, Megi keluar dari kamar tamu, melihat Sean yang asyik mengganggu Rezi di ambang pintu. Megi berjalan mendekat.
Melihat Megi datang, dengan cepat Sean memerintah Megi untuk sembunyi di balik punggung badan besarnya.
Menyembunyikan Megi dari pandangan putra semata wayangnya.
"Ada?" tanya Sean ketus.
"Enggak." jawab Rezi menangis.
"Anak laki gak boleh nangis Papa bilang, Rezi. Ayo sini." ucap Sean tegas.
Dengan langkah kecionya Rezi berjalan mendekati Sean, beberapa kali tangan mungilnya menghapus bulir air mata yang jatuh.
"Ba ..." kepala Megi menyembul dari balik badan Sean, saat Rezi berjalan mendekati Papanya.
Bukannya senang, Rezi malah menangis semakin menjadi.
"Loh ... Kok malah nangis sih?" tanya Megi bingung.
"Papa jahat." teriak Rezi merajuk.
"Oh sayang anak Papa." Sean mengangkat tubuh mungil putranya yang terus merajuk dan memukuli badan bidangnya.
"Sayang anak Papa, jangan nangis, anak lelaki gak boleh nangis." ancam Sean kembali.
"Kakak sih, pagi-pagi udah ada aja ide buat godain anak." ucap Megi sambil menggeleng.
"Siapa suruh, pagi-pagi ganggu orang tidur." jawab Sean santai.
"Cup ... Cup. Rezi sayang, kita mandi yuk. Nanti Mama buatin sarapan sayang." Megi mengangkat kedua tangannya, mencoba meraih Rezi dalam gendongan Sean.
"Eh ... Enak aja! mau mandi sama laki-laki lain." jawab Sean menjauhkan Rezi dari Megi.
"Loh memang kenapa? Rezi kan anak aku."
"Anak gue, mandi sama gue. Awas lu ya, berani lihat badan laki-laki lain, lihat aja nanti." ancam Sean sengit, sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Ya Tuhan kak, sama anak kecil juga cemburu? parah."
"Asalkan laki-laki, siapapun itu gue cemburu." dengan keras Sean membanting daun pintu kamar mandi.
Megi sedikit terlompat dan mengelus dadanya saat mendengar suara bantingan daun pintu. Megi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Jadi begini rasanya kalau kak Sean yang jatuh cinta?" ucap Megi lirih.
Megi membalikan badannya, berjalan sedikit melompat menuruni anak tangga.
"Ah ... Senangnya." ucap Megi riang
__ADS_1