
Megi membuka pintu rumahnya, tapi suhunya langsung meninggi saat melihat ruang depan rumahnya. Udara dingin tak lagi bisa mendinginkan hatinya.
"Aya ... Apa-apa an ini?" teriak Megi saat melihat kartonnya berserakan di seluruh lantai.
"Kak Irena..." teriak Megi lantang.
Sebuah bantal sofa menghantam wajah cantiknya.
"Aku disini, gak usah teriak." jawab Irena santai di sofa depan tivi.
"Ya ampun kak Irena disitu, tapi biarin Aya ngancurin karton aku." ucap Megi lemas.
"Gak usah sok drama lah, Meg." jawab Irena enteng.
Megi dengan mengerucutkan bibirnya membereskan karton-karton yang diserakan oleh Soraya. Tangannya terhenti saat mengambil karton desain pertama yang ia buat.
Desain kasar untuk lobi hotel pesisir putih dulu, satu tetes air mata menetes di antara karton itu. Disambut oleh tetesan yang lain, Megi menyentuh permukaan karton itu.
Terlintas penggalan kisah masa lalunya, Sean dulu begitu kasar, namun hatinya tetap lembut dan perhatian. Sungguh kenangan ini terasa menyesak didada Megi.
"Megi." panggil Mika yang membuat Megi tersadar dan langsung menghapus bulir air matanya.
"Kamu nangis, Meg?" tanya Mika langsung.
Irena langsung bangkit mendekati Megi, ia memastikan dengan jelas ucapan suaminya.
"Kamu nangis gara-gara Aya ya, Meg? Maaf ya." ucap Irena bersalah.
"Enggak kok kak, aku gak nangis, cuma kelilipan debu waktu beresin ini. Maklum kotor berdebu." jawab Megi sambil membereskan sisa karton yang berserakan di lantai.
Dengan cepat ia merapikannya, sementara Mika dan Irena masih terpaku memandang Megi.
"Aya main sama Tante cantik di kamar, yuk." Megi menggendong Soraya dan berjalan cepat meninggalkan Mika.
"Ada apa sih Mas sebenarnya?" tanya Irena takut.
"Megi pasti ingat Sean. Gak mungkin dia berubah sendu setelah bertengkar sama kamu." jawab Mika sambil menghela nafasnya.
Megi duduk di depan kaca kamarnya, mengamati kalung bintang yang masih menempel di lehernya. Inilah satu-satunya barang yang ia bawa, barang pemberian Sean tanpa harus ia minta.
Megi masih terus memandangi bintang itu, teringat ucapan Sean yang mengatakan ia seperti bintang. Bersinar dengan cahayanya sendiri. Kini ia telah kehilangan sinarnya, cahayanya redup selam bertahun tahun.
"Megi." Suara ketukan pintu dari balik kamarnya.
Megi dengan cepat menghapus airmatanya dan menurunkan ranselnya. Meletakan ranselnya diatas ranjang.
"Iya kak, masuk aja." jawab Megi
"Lagi apa, dek?" tanya Mika sambil duduk dibibir ranjang.
"Lagi beresin barang buat ke Macau besok."
Mika menarik tangan Megi yang sedang memasukan barangnya ke dalam ransel, seketika Megi memandang wajah Mika yang saat ini duduk di hadapannya.
"Kamu masih mencintai Sean, dek?"
__ADS_1
"Kenapa bahas ini sih kak? udah berlalu kan?" jawab Megi mengelak.
"Maafin kakak ya dek, andai dulu kakak gak bawa kamu pergi."
"Gak ada kata seandainya kak, semua berjalan sesuai takdir kan."
"Kita pulang yuk. Kita udah lama disini, dek."
"Aku baru juga mulai, kak." jawab Megi dengan menghela nafasnya.
"Apa kamu ingin selamanya tinggal disini?"
Megi berjalan kedepan jendelanya, menyingkap kain gordennya dan duduk diatas bingkai jendelanya.
"Gak tau, kak. Gak bisa di tentuin, aku gak tau kapan ketemu cinta yang baru lagi. Mungkin aja dua atau tiga tahun lagi, mungkin bulan depan, atau mungkin besok." Megi menghela nafasnya dan tersenyum sendu.
"Kita gak tahu kan, apa yang di siapkan takdir kedepannya. Mungkin ada sesuatu yang baru menunggu aku di depan sana." ucap Megi mengalihkan pandangannya ke Mika.
"Gak akan ada cinta yang baru, jika kamu terus memupuk cinta yang lama." jawab Mika lembut.
Megi hanya tersenyum dan tak ingin menjawab. Biarkan saja, sampai kapan takdir mempermainkannya.
Macau.
Megi menyiapkan berkas dan hasil desainnya, berjalan keluar dari hotelnya menuju gedung pertemuan.
Setelah beberapa lama, Megi keluar dengan menghembuskan nafasnya dengan sedikit kabut dari dalam mulutnya.
Matanya memandang langit gelap Macau, Megi mengadahkan tangannya, merasakan rintikan air hujan yang turun dari langit Macau siang ini.
Persentase keduanya pun kalah, Megi sadar ia masih terlalu baru di dunia desain, saingan ia bukan dari perusahaan kecil. Ya mau tak mau, Megi pulang dengan tangan hampa kali ini.
Mencari cafe untuk menghangatkan suhu badannya yang mulai mendingin. Saat ini musim sedang tak begitu baik, udaranya lebih sering dingin. Megi mengeluarkan topi rajut dari saku jaketnya dan memakainya.
Tak lama rintikan kecil air hujan menjadi lebih deras. Megi mempercepat langkahnya mencari tempat untuk berteduh.
Dengan sedikit berlari Megi melewati beberapa gedung, tanpa sengaja, seorang anak leleki menabrak tubuhnya saat melewati persimpangan antara gedung. Tubuh anak lelaki itu terjatuh dan terduduk.
"Duìbùqi." (Maaf) ucap Megi spontan.
Sesaat Megi tersadar dan memukul dahinya. Megi mendekati anak kecil itu.
"Are you okay?" tanya Megi sambil berjongkok.
Anak lelaki itu hanya mengangguk pasrah, wajahnya terlihat ganteng, mungkin bisa jadi jodoh Aya. Pikir Megi mengacau.
"What are you doing, here?" tanya Megi kembali.
Tapi anak lelaki itu hanya menatap wajah Megi dengan ekspresi wajah gemas nya. Megi mengernyitkan dahinya dan meretakan rahangnya, geram sekali melihat anak lelaki kecil yang tampan ini.
"Youre alone?" kembali Megi bertanya.
Tapi anak berusia tiga tahun itu seperti tak mengerti. Megi mulai kebingungan, ini Macau bukan Shanghai, ia tak terlalu paham bahasa kanton. Megi mengernyitkan dahinya dan mengelus pucuk kepala anak lelaki itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Megi.
__ADS_1
Anak lelaki itu menatap Megi dengan mata bulatnya. Wajah yang tampan dan juga kulit yang putih bersih, bibir kecil dengan warna merah muda.
"Ya Tuhan, anak siapa ini? apa aku bawa pulang aja ya?" Megi mencubit pipi anak lelaki itu, gemas.
"Ayo berpikirlah Megi, apa yang harus aku katakan?" Megi memandang anak lelaki itu kembali.
"Kalau dia gak paham bahasa Inggris, apa dia paham bahasa Portugis?" gerutuk Megi sendiri.
"Aku harus tanya apa? seharusnya aku belajar bahasa kanton dan Portugis sebelum ke Macau." Megi mengernyitkan dahinya, ia pusing sendiri menghadapi lelaki kecil di hadapannya.
Melihat Megi yang bingung sendiri, anak kecil itu mulai berani bersuara.
"Tante kenapa?" tanya anak itu celat.
Megi tersenyum simpul, ia menghembuskan nafasnya lega, Megi manarik kepala anak kecil itu dan mencium dahi anak itu.
"Maaf, Tante pikir kamu orang sini."
"Tante cantik, ikut aku pulang ya." anak kecil itu tersenyum dan meraih pipi Megi, tertawa dengan lebar menampilkan jejeran gigi kecilnya.
"Hah?" Megi tersenyum dan menarik badan anak kecil itu untuk lebih mendekat ke ia.
"Hey, disini jangan katakan itu pada orang asing. Kamu bisa terkena sanksi jika sudah dewasa." Megi menarik badan anak lelaki itu, semakin mendekat.
"Kamu ganteng banget sih? kamu anak siapa?" tanya Megi dengan memukul bokong kecil anak lelaki itu, geram sekali.
"Anak Papa." jawab anak kecil itu polos.
"Kamu sendiri disini?" sambung Megi.
"Aku sama Papa, Tante." jawab anak itu polos.
Megi membuang pandangannya ke sekeliling, tak ada siapapun yang bisa ia lihat.
"Mana Papa kamu?" tanya Megi kembali.
Anak kecil itu hanya mengerdikan bahunya dan memandang Megi polos. Membuat Megi ingin menculiknya pulang dan di nikahkan dengan Aya. Pikiran Megi semakin mengacau.
"Kamu aja yang ikut Tante pulang yuk, dirumah Tante ada cewek cantik." rayu Megi lembut.
"Sama Tanta aja, Tante cantik."
"Ah, kamu genit sekali." Megi mengkitik badan kecil anak lelaki itu.
Anak lelaki itu tertawa terbahak, bibir mungilnya mereka lebar. Menampilkan gigi kecilnya yang terawat bersih.
Terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekati mereka berdua. Dengan nafas yang memburu kencang, lelaki itu berlari mendekati anaknya.
"Rezi." ucap seorang sambil berlari mendekati mereka.
Tangan lelaki itu langsung menarik anak kecil itu menjauh dari wanita asing di depannya. Seketika Megi langsung berdiri dan memandang wajah lelaki itu lekat.
Sepersekian detik, mata Megi hanya memandang, bibirnya langsung bungkam. Waktu seakan terhenti di saat bola mataMegi menatap dengan lekat, lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini.
Bahkan rintik hujan yang semakin lebat pun tak lagi Megi rasakan. Seperti tak percaya namun ini nyata, seseorang yang selalu Megi rindui hadir di depan mata.
__ADS_1
"Megi." panggil lelaki itu lirih.
"Kak Sean." ucap Megi kaget.