Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 120


__ADS_3

Bugh


Sebuah tinjuan kembali mendarat di pipi Sean. Sean meraih kera leher baju Mika dan mencengkramnya dengan kuat. Satu tangannya ingin melayang ke pipi Mika.


Namun Sean menghentikannya sebelum mendarat di tubuh Mika. Membuang badan Mika jatuh ketanah.


"Sial." ucap Sean sambil menyepak badan Mika yang jatuh ketanah.


Seketika tawa mereka berdua pecah, Sean mengulurkan tangannya untuk membantu Mika bangun. Di sambut oleh Mika, mereka berdua terduduk di trotoar bibir jalan.


Pertengkaran seperti ini sering sekali terjadi diantara persahabatan lelaki. Bukan untuk merenggangkan, namun malah semakin menguatkan.


Bukan sekali atau dua kali Mika dan Sean sering beradu argumen dan berkahir pada pukulan. Namun kejadian itu malah membuat hubungan mereka berdua semakin erat selama ini.


Entah kenapa, pertengkaran antara sahabat. Sering kali membuka beban hati satu sama lain.


"Sorry." ucap Mika tulus.


"Sudahlah, kalau bukan kerena elu kakak ipar gue. Gue buat cacat lu seumur hidup." jawab Sean bercanda.


Mika menghela nafasnya dan memandang ke langit hitam. Matanya mengawan jauh ke masa silam.


"Gue tahu Mirza itu adik gue, gue juga tahu dia pernah nyelamati nyawa Megi. Tapi dia juga yang ingin membunuh Megi berkali-kali. Apa seribu kejahatan bisa di balas hanya dengan satu kali saja kebaikan?"


"Bisa." jawab Sean langsung.


Mika tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ini gak semudah yang terlihat, Sean."


"Tapi juga gak seburuk apa yang elu pikirkan." jawab Sean lembut.


"Maksud lu?"


"Gue dan elu tahu betul. Bahwa Mirza, sama sekali bukan lelaki seperti itu, Mirza hanya tersesat ke jalan yang salah, Bro. Sepatutnya, elu dan gue, kita sebagai kakak membawanya kembali ke jalan yang seharusnya."


Mika sejenak terdiam, ia memikirkan apa yang di ucapkan Sean barusan.


"Kita ini yang lebih dewasa, Mika. Kita juga sudah menjadi Ayah. Apa hubungan yang seperti ini yang akan kita perlihatkan ke Rezi, Aya dan Putra? ayolah kawan, ini sudah terlalu lama, Mirza berada di dalam jalannya sendiri."


"Tapi gue gak bisa, Sean. Gue masih sangat sakit, di buat oleh bocah tengil itu."


"Buka sedikit luka lu, Mika. Biarkan luka itu di obati dan di sembuhkan perlahan. Jangan hanya terus di sembunyikan, dia hanya akan membusuk nantinya."


"Lu bisa dengan mudahnya ngomong begitu, Sean. Lu belum pernah ngerasain bagaimana sakitnya di khianati oleh keluarga kandung lu sendiri. Jika elu pernah ngerasain, lu akan tahu gimana pahitnya." ucap Mika kembali keras.


Sesaat Sean terdiam, ia memandang Mika di sampingnya. Berarti selama ini Megi menyimpan semuanya rapat sekali, bahkan Mika saja tak tahu berapa banyak kejadian yang mereka lewati selama ini.


Sean tersenyum pahit dan menghapus buliran darah yang kembali mengalir melintasi sudut dagunya.


Bukan sekali, namun dua kali Sean di khianati oleh saudara kandungannya sendiri, dan juga orang yang pernah ia cintai setulus hati.


Jika rasa itu yang Mika maksud, maka sakit yang Mika rasakan belum sebanding degan luka yang selama ini kian mendalam ia tahan sendiri, diatas kedua kakinya yang semakin lemah untuk berdiri.


"Sudahlah, ayo masuk dan pulang." perintah Sean sendu.


Mika mengalihkan perhatiannya, melihat Sean yang bangkit dan tak mengucapkan apapun untuk membujuk ia.


Wajahnya berubah sangat sendu, mata Sean terfokus oleh jalanan malam. Namun juga terlihat seperti sedang sangat terluka.


"Sean." panggil Mika lembut.


"Hem."

__ADS_1


"Apa pecahan di sudut bibir lu terasa sakit?"


"Lu ngomong apa? bahkan gigitan semutpun lebih sakit dari ini." jawab Sean meledek.


"Lu mau gue tambahin satu pukulan lagi, biar tahu gue ini cukup tangguh untuk menakhlukan elu?" tanya Mika kembali geram.


"Jika lu mau lihat adik kesayangan elu murka, silahkan saja." jawab Sean datar.


"Sialan lu, sekarang elu punya tempat untuk berlindung dari gue ya."


Sean melepaskan senyumnya namun binar matanya masih sangat sendu dan juga menyimpan sesuatu.


Mika tahu, Sean bukan lagi sahabatnya beberpa belas tahun silam. Saat ini, apapun yang mengenai pribadinya, ia menyimpannya lebih rapat dari apapun.


Mika meraih kedua pipi Sean saat turun dari dalam mobilnya, melihat dengan lekat sudut bibir Sean yang pecah. Kalau Megi tahu ini ulah kakaknya, besok pagi akan ada perang besar di rumahnya.


"Echem ..." Irena menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri dengan santai di depan pintu.


"Bagus ya Mas, ini sudah jam berapa dan saat kamu pulang masih pandang-pandangan sama Sean." celoteh Irena garang.


"He he he." Mika menyengir pasrah dan menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.


"Hey Sean, lu pikir kalian berdua ini masih lajang? keluar sampai larut malam begini. Pulang malah asyik pegang-pegangan berdua, sebenarnya kalian ada hubungan apa?"


"Irena, lu berisik banget tahu gak. Gue mau pandangan-pandangan sama Mika, mau cium-ciuman. Apa masalahnya sama lu?"


"Eh ..." Irena berjalan mendekat dan ingin meraih wajah Sean. Namun lebih cepat Mika menahannya.


"Jelas masalah, gue istrinya. Nah elu siapa?" tanya Irena memadam.


"Adik iparnya, sahabat karib dia. dan juga..." Sean merangkul bahu Mika dan memainkan kedua alis matanya.


"Kisah masa lalu dia." sambung Sean meraih sebelah pipi Mika, menatap Mika dengan tersenyum manja.


"Bukannya elu yang mulai duluan, Mika?" Sean mentoel-toel lengan tangan Mika, tersenyum dengan manja.


"Eh ... Jangan sentuh laki gue." Irena memukul tangan Sean dengan kuat.


"Lagian kalian malam-malam pergi berdua kemana? jangan-jangan kalian ini cari hotel berdua ya?" tuduh Irena kembali.


"Ish Dek, mulutmu itu kalau ngomong ya jangan sembarangan kenapa? ini bukan saatnya ngomong yang aneh-aneh. Mas lelah."


Irena memanyunkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya melirik ke salah satu kantungan yang di bawa oleh Sean.


"Itu apaan?" tanya Irena ketus.


"Oh, kentang goreng sama fried chicken buat Aya." Sean menyerahkan kantungan itu ke tangan Irena.


"Eh Tuan muda kaya, lu pikir sewa laki gue semalaman cukup bayarannya dengan kentang gorengĀ  sama ayam goreng yang gak seberapa ini?"


"Mika, dulu waktu lu jumpa dugong ini, ada lu sajeni gak? kebanyakan makan terumbu karang, mulut kok tajem banget."


"Kalian berdua ini bisa diem gak sih? pusing kepala gue dengar kalian berdua." Mika berjalan memasuki rumahnya.


Sementara Irena melototkan matanya garang, dengan mendacakan kedua tangannya di pinggang.


"Bayarannya gak cukup cuma ini, pokoknya semua tagihan acara hari ini, elu yang bayar." ucap Irena garang.


"Eh gak bisa, acara ini lebih banyak elu pengeluarannya, di tambah lu pake jasa mbok Siti, sampek gue kelaperan dan makan junk food. Kalau di total elu yang harus nanggung tagihan."


"Oh no ... No ... No." Irena menggelengkan satu jarinya di hadapan Sean.


"Sudah terlambat, karena tagihannya sudah masuk ke dalam hitungan elu?" jawab Irena santai.

__ADS_1


"Apa?!" teriak Sean lantang. "Berani lu nantangin gue, Irena?" ucap Sean membara.


"Memang lu bisa buat apa sama gue, bweee." Irena menjulurkan lidahnya, mengejek emosi Sean yang membara.


"Gue bisa potong gaji laki elu dan ..."


"Kak." panggil Megi memutuskan pertengkaran dua ipar yang tak pernah akur itu.


Seketika Sean mengalihkan pandangannya kearah Megi yang berdiri di ambang pintu rumah mereka.


"Sudah hampir pagi, belum siap bertengkarnya?" tanya Megi datar.


"He he he." Sean berjalan mendekati Megi, memijak salah satu kaki Irena dengan sengaja.


"Hey Sean, sialan banget elu ya." teriak Irena kesal.


"Kak Irena, gak lelah ya? ini sudah hampir pagi loh." ucap Megi lembut.


"Gue balik." pamit Irena ketus.


"Sayang kok bangun sih?" tanya Sean mendekati Megi di ambang pintu.


"Menurut kakak, aku bisa tidur saat kak Irena terus nelponi aku buat nyariin suaminya yang kakak culik?" tanya Megi datar.


"Benarkah?" Sean menyeringai pasrah.


"Ponsel juga kakak tinggal di rumah, aku jadi gak tahu kakak kemana?"


"Aku sama Mika cuma makan di ujung jalan. Laper yang." jawab Sean pasrah.


"Benarkah?" Megi meraih salah satu pipi Sean dan melihat luka di sudut bibir Sean.


"Ini apa?" tanya Megi kembali.


"Bukan apa-apa." jawab Sean mengalihkan perhatian Megi.


"Kakak bertengkar dengan seseorang?" tanya Megi lembut.


"Tidak Sayang." jawab Sean yang langsung menaiki anak tangga.


Mencoba untuk menghindari interogasi istrinya itu.


"Terus kenapa kakak mencoba menghindari pertanyaan aku?" tanya Megi yang terus mengikuti langkah kaki Sean.


"Aku ingin istirahat saja, Megi." elak Sean kembali.


"Benarkah? haruskah aku tanya sama Kak Mika besok pagi?"


Sean menghentikan langkahnya dan membalikan badannya dengan cepat. Tanpa sadar Megi menabrak dada bidang Sean. Sean menarik pinggang Megi kedalam dekapannya.


"Tak perlu di tanya, hanya perlu menciumnya disini." Sean menetukan satu jarinya di atas bibir.


"Hem, dasar." Megi melepaskan senyumnya dan menarik pipi Sean.


"Megi."


"Hem."


"Peluk aku."


Megi tersenyum dan menjijitkan kakinya, memeluk bahu Sean dengan erat. Entah apa maksud Sean, namun saat ini sepertinya Sean hanya butuh tempat untuk mencari kekuatan.


'Aku tak peduli sekeras apa jalan yang harus aku tempuh untuk mewujudkan keinginanmu, Megi. Tunggulah sedikit lagi, akan aku luluhkan kerasnya hati Mika, untuk kebahagianmu.' lirih Sean dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2