
"Lu kenapa sih? aneh banget?" Tanya Shenina kesal.
Maksud ia baik untuk mengecek suhu badan Evgen. Tapi tingkah lelaki angkuh ini terlau barbar. Terkadang baik sekali seperti manusia dermawan, terkadang bahkan lebih kejam dari pada raja neraka jahanam.
"Gak ada, gue hanya bosan dan juga lapar," jawab Evgen ketus.
"Hais, dasar Tuan Muda kaya ini, dalam hidupnya hanya memikirkan main dan juga makan."
"Panggil Seta, cepat! gue gak bisa nunggu lebih lama lagi." Evgen langsung berjalan tanpa menunggu Shenina.
Berusaha menenangkan hatinya yang sudah tidak karuan. Seta dan Shenina menyusuli langkah Evgen dengan sedikit berlari. Mencari tempat makan didalam taman hiburan itu.
"Mau makan apa?" Tanya Evgen ketus.
"Terserah,"
"Gue tanya Seta, bukan elu!" Balas Evgen ketus.
"Hem," jawab Shenina malas.
"Terserah kak Evgen saja, aku bingung."
Evgen menghela nafasnya dan berjalan kejejeran kantin makanan. Ia mengalihkan pandangannya pada kantin makanan junk food.
Seorang pelayan muda datang membawakan katalog menu. Matanya terus menatap Evgen dengan binar kagum.
"Pilih saja," ucap Evgen sambil mendorong katalog menunya kedepan Seta.
Seta membuka katalog itu dan membalik-baliknya saja. Ia bingung dengan makanan yang ada didalam katalog menu itu.
"Kak Evgen, aku gak tahu. Kakak pilihkan saja ya."
Evgen menghela nafasnya dan menarik katalog menu itu.
Ia membukanya dan melihat beberapa makanan cepat saji.
"Burger double chesse 3, soda 3, kentang goreng 2. Oh, yang satu beef burger saja." Ucap Evgen cepat.
"Ada lagi?" Tanya gadis muda itu riang.
"Itu saja," jawab Evgen lembut.
"Oh iya, toilet dimana?" Tanya Evgen kembali.
"Disana Kak," tunjuk gadis itu cepat.
Evgen menganggukan kepalanya dan berjalan menuju toilet. Gadis muda itu tersenyum dan menggigit ujung pulpennya, ia begitu takjub melihat ciptaan sempurna seperti Evgen.
"Krystal!" panggil wanita paruh baya dibelakang kasir.
Krystal mengalihkan pandangannya, ia memanyunkan bibirnya saat wanita itu menghancurkan pemandangan indahnya.
Krystal berjalan kedapur dan membereskan beberapa piring makanan kotor. Gara-gara ia hilang kendali saat melihat Evgen, pemilik kantin itu menyuruh ia bekerja di dapur.
Padahal ia masih ingin memandangi Evgen.
Krystal menendang sebuah kaleng kosong dengan kuat.
"Aduh," teriak Evgen saat kaleng soda kosong mengenai wajahnya.
"Ah maaf, Kak."
"Hah elu, waiters gak becus. Gimana kalau gue terluka tadi?" Tanya Evgen ketus.
"Aku siap kok merawat Kakak, eh ... Bukan. Oppa," jawab Krystal mentel.
"Oppa pala lu putih. Gue masih SMA, enak saja di panggil Oppa," jawab Evgen ketus.
Krystal tersenyum dengan lebar dan mengulurkan tangannya.
"Pas kalau begitu, kenalin aku Krystal, Kak." Ucap Krystal manja.
"Mau Krystal, mau kaca, mau beling terserah elu lah. Gue gak punya waktu ngomong sama bocah merah kayak elu," Evgen langsung pergi tanpa memperdulikan uluran tangan Krystal.
__ADS_1
Krystal memanyunkan bibirnya, baru kali ini ia dikacangin oleh seorang pria.
Biasanya, lelaki remaja yang melihat Krystal pasti akan menggodanya. Selain cantik dan juga manis, Krystal adalah putri semata wayang dari pemilik taman hiburan ini.
Karena mendapatkan hukuman, ia harus membantu salah satu pedagang disini.
Walaupun ia masih duduk dibangku SMP, tetapi tinggi badan dan juga bodynya sudah membentuk proporsional seorang gadis.
"Bad boy ya?" Ucap Krystal dengan memegangi pipinya dan memandang Evgen yang berlalu pergi.
"Aku suka," sambung Krystal kembali.
Evgen kembali duduk dimejanya Menatap Seta yang begitu polos memakan dengan lahap. Membuat bibir Evgen kembali tersenyum.
"Setelah ini mau main apa lagi?" Tanya Evgen lembut.
"Kak, boleh gak kalau aku lihat mainan-mainan disana?"
"Boleh," jawab Evgen cepat.
"Asyik ... Kalau begitu ayo kita pergi!"
Evgen hanya mengikuti langkah Seta, menemani Seta untuk memilih beberapa mainan.
Mata Shenina teralih saat melihat bando kucing dan juga kelinci disalah satu penjual.
"Suka ambil saja," jawab Evgen lembut.
Shenina mengambil bando kuping kucing dan memakainya.
"Bagus Kak, kakak jadi sangat imut, ayo foto," ajak Seta yang ikut mengambil bando kucing.
Mereka asyik foto berdua, menampilkan beberapa gaya.
"Kak Evgen, ayo pakai ini dan foto bersama." Ajak Seta.
Evgen hanya menggelengkan kepalanya dan menjauh.
Setelah berkeliling, Seta akhirnya menyerah dan istirahat.
"Enggak, Kakak kan bukan anak kecil lagi," jawab Shenina.
"Kalau Kakak mau main, main saja bareng kak Evgen, aku akan tunggu disini."
"Ayo!" Ajak Evgen lembut.
Shenina menggelengkan kepalanya, tak mau mendengarkan alasan, Evgen menarik tangan Shenina.
Evgen memilih beberapa wahana ekstrem. Mengerjai Shenina yang tidak bisa memainkan permainan yang berputar.
Setelah memainkan beberapa wahana, Shenina memuntahkan isi perutnya karena mual.
Sementara Evgen tertawa terbahak, lucu sekali melihat Shenina yang layu seperti tanaman terpijak ayam.
"Puas lu?" Tanya Shenina geram.
Evgen hanya tertawa, ia tidak sanggup melihat wajah pucat Shenina yang begitu lemas.
Evgen mengeluarkan ponselnya, ia mengarahkan kamera selfie. Saat Shenina melihat kearahnya, Evgen mengambil gambar dengan cepat.
"Evgen sialan elu," ucap Shenina kesal.
"Gak apa, ayo foto, muka elu bagus banget saat lemah begini," ejek Evgen senang.
"Gue mau foto kalau lu pakai ini," Shenina memindahkan bando kuping kucingnya kekepala Evgen.
"Oke siapa takut?"
Evgen mengambil beberapa foto selfie mereka berdua. Tak peduli menjadi perhatian orang lain, mereka malah asyik berdua.
Evgen memasukan kembali ponselnya dan melirik kearah Shenina.
"Lu sudah baikan Shen?" Tanya Evgen lembut.
__ADS_1
"Iya, lumayan."
"Mau minum sesuatu?"
"Enggak, gue mau main lagi," jawab Shenina lembut.
"Lu belum kapok?"
"Belum," jawab Shenina dengan tersenyum lembut.
Melihat raut wajah Shenina, Evgen menjadi sedikit takut. Seperti ada rencana jahat yang sedang ia pikirkan.
"Kenapa perasaan gue gak enak ya?" Ucap Evgen dengan mengelus tengkuk lehernya.
"Ayo ikut gue!" Tarik Shenina langsung
Shenina berlari menarik tangan Evgen memasuki gua hantu. Evgen memberhentikan langkahnya, ia sekuat tenaga menghalangi niat Shenina untuk masuk kesana.
Walaupun hanya seorang wanita mungil, namun tenaga Shenina mampu membawa badan besar Evgen memasuki gerbang neraka.
"Sialan elu, gue gak mau main ini," ucap Evgen tegang.
"Ha ha ha, kenapa? elu takut?" Tanya Shenina sambil melihat kearah Evgen.
"Emang elu gak takut?" Tanya Evgen merinding.
"Hanya setan buatan saja, kenapa harus takut?"
"Bagaimana jika ada setan beneran yang nyasar?" Tanya Evgen mulai takut.
Badannya mulai bergetar, Evgen menggenggam tangan Shenina seerat mungkin.
"Ha ha ha, elu beneran takut? tangan elu gemetaran Evgen," ledek Shenina kembali, melihat kearah wajah Evgen.
Tiba-tiba kepala tengkorak muncul di belakang kepala Evgen. Shenina menjerit dengan lantang dan berlari meninggalkan Evgen.
"Sialan elu, Shen!" Teriak Evgen kuat.
Evgen membalikan badannya, kepala tengkorak itu menganga saat Evgen melihat kearahnya.
"Aaahhhhhh!" Teriak Evgen lantang, sontak Evgen menonjok kepala tengkorak itu sampai hancur.
Evgen berlari mengejar langkah Shenina, karena jalan yang gelap. Beberapa kali kepala Evgen terbentur tiang pembatas.
"Aduh," rintih Evgen saat kepalanya terbentur untuk yang keempat kalinya.
"Evgen elu gak apa-apa?"
Evgen mengepalkan tangannya, ia menarik tubuh Shenina dan menempelkannya didinding. Mengurung Shenina dengan kedua tangannya.
"Lu ngerjain gue ya Shen? inget ya, gue akan balas elu berkali-kali lipat."
"Evgen sorry, kepala elu gak apa-apa?" Tanya Shenina dengan meraih sudut dahi Evgen yang sedikit kotor karena terantuk tadi.
Kembali jantung Evgen berdetak dengan cepat saat tangan halus Shenina menyentuh kulit wajahnya.
Evgen memandang Shenina dengan lekat, didalam gelap ruangan ini, entah kenapa Evgen bisa melihat wajah Shenina lebih jelas dari sebelumnya.
Bulat matanya, mancung hidungnya dan bibirnya yang merah muda. Evgen bisa melihat semuanya dengan jelas.
Perlahan Evgen mendekati wajahnya, melihat wajah Shenina dengan jarak yang lebih dekat.
Hangat nafas Evgen menembus kulit pipi Shenina. Shenina mengambil nafasnya dengan memburu kencang, saat Evgen menatapnya dengan jarak yang sangat dekat.
Karena terbawa oleh perasaan dan suasana, Evgen meraih wajah Shenina dengan tangannya. Perlahan tangan Evgen berpindah kebelakang kepala Shenina.
Menyentuh lembut helaian rambut Shenina. Evgen menarik kepala Shenina, membuat wajah Shenina semakin dekat dengannya.
Saat wajah Shenina semakin dekat dengannya, terasa buruan nafas Shenina yang semakin kencang.
"Aahhhhhhhhh!" Teriak Evgen tepat diwajah Shenina.
Secepat kilat Evgen berlari meninggalkan Shenina yang termenung sendiri.
__ADS_1
Shenina mengalihkan kepalanya, ia kehilangan kesadaran saat melihat pocong berdiri tepat dibelakangnya.