
Chen membuka pintu kaca toko Ruby dan menutup mata Neha yang sedang memilih beberapa tangakai bunga.
Neha memukul tangan Chen, dengan cepat ia membalikan badan dan memukul kepala Chen dengan vas bunga yang ada ditangannya.
"Aduh," Chen memegang pucuk kepalanya, mengelusnya dengan lembut.
"Neha ini beneran sakit, inikah balasanmu atas bantuanku?" Tanya Chen lembut.
Neha hanya tersenyum dan memukul tangan Chen.
"Kan di pukul lagi," ucap Chen tidak terima.
Neha kembali sibuk pada bunga-bunga itu, ia tidak peduli pada kehadiran Chen disana.
"Rezi, dia menghukum aku dengan cara tidak meloloskan nilai aku," ucap Chen lembut.
Gerakan tangan Neha terhenti saat mendengar nama Rezi. Neha menghela nafasnya dan kembali merangakai bunga didepannya.
"Neha, aku pasti akan membantumu. Tidak peduli bagaimana dia mau menekanku, akan ku bantu kamu sampai akhir," ucap Chen dengan mengepalkan jemari tangannya.
Ia kesal melihat Rezi yang bercanda dengan wanita itu. Selama ini Rezi dikenal sebagai cowok yang tidak peduli pada wanita.
Ia pikir Rezi benar-benar menyukai Neha, namun melihat ekspresi Rezi tadi. Chen semakin yakin, bahwa Rezi hanya mempermainkan Neha.
Neha meletakan vas bunga diatas meja didekat Chen. Neha menusuk kulit pipi Chen dengan ujung batang mawar.
"Aduh," ucap Chen yang kembali sadar.
Neha hanya tersenyum dan kembali sibuk pada kegiatannya. Chen datang mendekati Neha dan meraih kepala Neha.
Menjitak pucuk kepala Neha beberapa kali. Neha melepaskan tawanya dan memukul tangan Chen, kuat.
Walaupun jitakan tangan Chen tidak sakit, namun ia merasa sangat geli. Chen menghela nafasnya dan melingkari bahu Neha.
"Neha, aku berpikir bahwa Rezi itu lelaki yang baik. Aku hanya ingin kamu bahagia, tapi jika kamu ingin menolak, aku juga pasti akan mendukung,"
Neha memukul dahi Chen dengan kuat, Neha membalikan badannya dan menjabak helaian rambut hitam milik Chen.
Bercanda berdua di toko bunga Ruby, beberapa kali Chen berusaha menyentuh pucuk kepala Neha, namun Neha menahannya dan kembali menjambak rambut Chen.
Candaan mereka berdua membuat Rezi memanas disini. Dari seberang jalan, Rezi memperhatikan Neha yang terus tersenyum bahagia saat ia bersama dengan Chen.
Rezi memukul setirnya dan berdecak kesal. Kenapa sakit sekali melihat ulah Neha dan Chen yang seakan tidak pernah peduli dengan yang lainnya.
Rezi menghidupkan mobilnya dan melaju dengan kencang menuju taman. Melampiaskan kekesalannya akan sikap Neha dan Chen yang membuat ia semakin meradang.
Rezi berjalan gontai sambil mengacak rambutnya, ia benar-benar stres dan gila dibuat oleh Neha.
Rezi duduk termenung di kursi taman, menghabiskan waktunya dengan melamun seorang diri.
__ADS_1
***
Shenina memutari taman, mencari keberadaan teman janjinya itu. Namun Evgen belum berada disudut taman manapun.
Saat berkeliling tak sengaja Shenina melihat Rezi sedang duduk termenung.
Shenina menghela nafasnya dan berjalan mendekati Rezi. Duduk dikursi yang sama dengan Rezi.
Sementara Rezi masih tidak menyadari kehadiran orang lain disebelahnya.
Ia masih terus terfokus oleh pikirannya. Bayangan Neha dan Chen masih terus bermain di kelopak matanya.
Rezi berdecak kesal dan mengacak kembali rambutnya. Ia benar-benar kesal. Ia benar-benar sakit hati melihatnya.
Shenina hanya terdiam, melihat Rezi yang seperti ini sama sekali tidak berani menyapa ataupun bersuara.
Setelah beberapa lama, Rezi akhirnya menyerah. Ia meraih ranselnya dan melihat kearah sebelah.
Rezi sedikit terkejut melihat Shenina ada disebelahnya.
"Loh, Shenina. Kamu kok ada disini?" Tanya Rezi terkejut.
"Dari tadi aku disini loh, Mas," ucap Shenina dengan menyeringai pasrah.
"Eh, kok aku gak tahu?"
"Mas lagi melamun sih, makanya gak tahu,"
"Maaf ya," ucap Rezi lembut.
"Kok minta maaf?" Tanya Shenina bingung.
"Iya, soalnya aku gak tahu ada kamu disini,"
"Santai aja lagi, Mas. Kan tempat umum juga,"
Rezi tersenyum dan menyisir rambutnya kebelakang. Ia menatap Shenina dengan lekat.
Shenina salah tingkah, saat Rezi menatapnya seperti ini. Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak saat Rezi menatapnya dengan lekat.
"Mas," panggil Shenina salah tingkah.
"Hem,"
"Mas baik-baik saja?" Tanya Shenina malu.
"Ya," Rezi menghela nafasnya dan menundukan kepalanya.
Mana mungkin ia sedang baik-baik saja. Jelas sekali saat ini ia sedang butuh seseorang untuk bersandar.
__ADS_1
Rezi meletakan kepalanya diatas senderan bangku. Ia kembali menghela nafasnya dengan sedikit berat.
"Mas yakin gak apa-apa?" Tanya Shenina cemas.
Rezi menangkupkan tangannya diatas dahi. Ia bingung harus berucap apa.
"Kalau Mas butuh teman cerita, aku siap kok buat dengar semua masalah Mas, walaupun aku gak bisa kasih saran, tapi mungkin perasaan Mas bisa sedikit lebih tenang."
Rezi melirik kearah Shenina, ia menegakan posisi duduknya dan memandang kearah Shenina.
"Kalau boleh, aku hanya ingin pinjam bahumu." Ucap Rezi lembut.
"Hem maksudnya?" Tanya Shenina bingung.
Rezi tersenyum dan menjatuhkan kepalanya diatas bahu Shenina. Rezi memejamkan matanya dan menghela nafas berat. Ia hanya butuh pundak untuk beristirahat.
Sementara disisi lain jangung Shenina sudah berdetak tak karuan. Bukan hanya terkejut dengan perlakuan Rezi. Tapi Shenina juga senang saat Rezi bersikap manja seperti ini dengannya.
Shenina menghela nafasnya, mengatur pernafasannya dengan baik. Sebelum nafasnya terhenti karena Rezi bersandar kepadanya.
Rezi hanya terdiam, dan memejamkan matanya. Berusaha untuk melepaskan Neha dan beban dari dalam hatinya.
Ia terlalu lelah, ia telah terlalu jauh berjuang. Jika harus berhentipun ia butuh waktu untuk mengakhiri semua ini.
"Shenina," panggil Rezi lembut.
"Iya, Mas," jawab Shenina.
"Kalau aku begini sebentar lagi saja, boleh gak?" Tanya Rezi kembali.
"Tentu saja boleh, Mas. Mas boleh bersandar selama apapun yang Mas mau,"
"Terima kasih, ya. Terima kasih karena sudah tidak bertanya apapun,"
Shenina menganggukan kepalanya dan tersenyum kaku. Jantungnya sudah hampir terlempar keluar karena aroma dari gel rambut Rezi sangat menusuk hidungnya.
Lembut aroma gel rambut Rezi membuat Shenina semakin masuk kedalam pesona hangat Rezi.
Perlahan Shenina menjatuhkan kepalanya diatas kepala Rezi. Ia ikut memejamkan matanya, menikmati debaran jantung yang kian terasa.
Sementara, disisi lain. Evgen mengepalkan tangannya saat melihat pemandangan mesra Shenina dan juga Rezi berdua.
Ia kesal setengah mati saat melihat Shenina bisa begitu lembut dan nyaman saat bersama Rezi, Kakaknya sendiri.
Evgen menggeretakan giginya dan menendang tanaman yang ada didepannya.
Ingin rasanya merusak momen bahagia mereka berdua. Tapi jika mengingat Rezi adalah Kakaknya, membuat Evgen tidak berdaya.
"Aaaargggg!" Teriak Evgen kesal, ia menumbukan tangannya di batang kayu.
__ADS_1
Perlahan cairan darah mengaliri ruas jemari tangannya.
"Kak Rezi, dia wanitaku. Aku tidak akan segan-segan jika harus bersaing dengan Kakak, lihat saja nanti, Shenina akan berada dalam pelukanku, bukan pelukan Kakak!"