Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
31


__ADS_3

Neha menolak badan Rezi dengan kuat, Neha menampar pipi Rezi dengan keras.


Bersamaan dengan tetesan air mengalir melintasi pipi Neha.


"Neha, maaf aku ...."


Neha menarik kera baju Rezi dan menyeretnya keluar. Neha melempar ransel Rezi keras kedada Rezi.


Neha membanting pintu rumahnya dengan keras.


"Neha, aku ...." Rezi menggantungkan kalimatnya saat Neha menutup pintunya dengan kuat.


Rezi mengehela nafasnya dengan berat, ia mengacak rambutnya. Mengambil ranselnya yang di lempar oleh Neha.


Rezi membuka ranselnya, melihat laptopnya yang remuk karena terbanting.


Kembali Rezi menghela nafasnya, ia menggaruk kepalanya dan tersenyum kecut.


"Remuk sudah semuanya," ucap Rezi kecut.


Rezi mengambil ranselnya dan memakainya disalah satu bahunya. Ia tak seharusnya hilang kendali seperti ini.


Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan emosinya. Rezi mengusap wajahnya dengan kasar, memandang rumah sederhana Neha yang mungkin tidak bisa ia lihat lagi setelah ini.


Neha membuka pintunya, dengan cepat Rezi membalikan badannya, berjalan mendekati Neha lagi.


Neha melemparkan bukunya ke hadapan Rezi, kembali Neha menutup pintu dengan keras.


"Neha aku hanya ingin minta maaf," ucap Rezi cepat, namun lebih cepat Neha menutup daun pintunya.


Rezi kembali menghela nafasnya dan melihat buku Neha yang jatuh terbalik diatas rumput.


Rezi mengambil buku itu, mata Rezi membulat saat melihat buku itu. Sebuah lukisan wajah Rezi, entah kapan Neha membuat ini, namun sepertinya ini adalah ekspresi Rezi saat ia memberikan payung pada Neha saat itu.


Rezi menangkupkan tangannya didepan wajah dan menggelengkan kepalanya.


"Bodoh, dasar bodoh," maki Rezi kesal.


"Rezi, mati saja kau dalam kebodohanmu!" rutuk Rezi kesal.


Rezi memasukan buku Neha kedalam tasnya, ia memandang kearah rumah Neha sebelum pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Neha menyingkap kain gordennya, melihat Rezi yang mulai pergi dari halaman rumahnya.


Neha membalikan badannya dan menyandarkan kepalanya ditembok. Perlahan Neha duduk dan melipat kedua lututnya, Neha meletakan kepalanya diatas kedua lututnya.


Perlahan satu persatu air mata Neha mengalir, membasahi pipi cubbynya.


'Aku pikir setelah kepergian Ayah, Rezi adalah teman yang akan melindungiku seperti Ayah,' lirih Neha dalam hati.


Namun siapa sangka jika perasaan Rezi terungkap dalam waktu cepat. Bukan tidak ingin menerima perasaan itu, tapi ia lebih sadar, bahwa kisah cinta ini tidak akan pernah berhasil sampai kapanpun.


Neha membenamkan wajahnya diatas dengkulnya. Memecahkan tangisannya yang berusaha ia tahan. Pedih sekali rasanya, saat cinta yang ia rasakan harus terpisah oleh keadaan.


'Maafkan aku, Rezi. Bukan aku ingin menyakitimu. Keadaanku yang seeprti ini, jika kamu bisa menerimanya sekalipun, tapi belum tentu duniamu akan menerimaku. Aku hanyalah untaian kecil dari rantai besar yang kamu miliki. Jika aku mencintaimu, sama saja seperti aku mengajakmu dalam dunia yang akan mengucilkanmu,' lirih Neha dalam hati.


Sesaat pikiran Neha mengawan kemasa-masa silam. Kenangan pahit itu masih tersimpan didalam kenangannya.


Menjalani hidup sebagai seorang tunawicara bukanlah hal yang mudah. Berulang kali Neha harus menghadapi cacian dan juga kucilan orang-orang sekitar.


Harus sekolah pada jejeran anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, padahal ia adalah gadis normal. Semuanya masih normal, hanya ia tidak bisa bicara.


Tetapi sebagian orang memperlakukan Neha seperti gadis bodoh yang tidak mengerti apa-apa. Mereka pikir bahwa Neha adalah gadis cacat mental dan yang bisa ditertawakan.


Neha sudah terbiasa mendengar itu semua, Neha sudah terbiasa diremehkan dannjuga dihina. Namun Rezi, ia belum tentu bisa menerima semua itu. Entah bagaimana Rezi akan melewati harinya, jika ia tetap bertahan pada perasaannya.


'Rezi, seandainya kamu tahu, aku ingin sekali terus bersama denganmu, selain dirimu, semua orang hanya mengacuhkanku. Tapi sadarlah Rezi, terlalu banyak batasan yang terbentang diantara kita, aku terlalu lelah untuk berjuang menghancurkan batasan itu. Bukan karena aku tidak mau, tapi aku tidak mampu. Aku tidak mampu menjadi sempurna, aku tidak mampu menjadi gadis pada umumnya. Sadarlah, aku hanya gadis tanpa suara, yang suatu hari nanti pasti hanya akan membawamu terhina.'


***


Rezi membalik lembaran-lembaran buku Neha, banyak sekali lukisan dan juga ukiran-ukiran tulisan yang sangat indah.


"Neha, jarimu itu adalah suatu anugerah yang sangat indah," ucap Rezi lembut.


Rezi menghela nafasnya, ia masih terus memandangi setiap lukisan di buku Neha. Tangannya terhenti saat melihat tulisan, mungkin ini adalah hal yang ingin disampaikan oleh Neha.


'Senja itu, adalah hari dimana Ayah aku pergi. Hujan sore itu mewakili perasaanku, bahwa dunia ikut berduka bersamaku.


Siapa sangka, sebuah pelindung datang menghampiriku. Aku pikir setelah Ayah, tidak akan ada lagi seseorang yang peduli padaku.


Namun seperti takdir indah, dunia mempertemukan kita. Seakan mengatakan padaku, bahwa didunia ini kita tidak akan pernah sendiri.


Kamu bagaikan asa baru dalam hidupku, karenamu aku percaya, bahwa ketulusan itu masih ada.

__ADS_1


Namun hari ini kamu membuktikannya, Rezi. Semua yang aku lihat tentang dirimu adalah sebuah kesalahan.


Pertemuan kita adalah sebuah penyesalan untukku. Kamu membuktikan bahwa ketulusan itu tidak ada, kamu membuktikan, bahwa semua pandangan aku itu salah.


Aku kecewa terlalu dalam padamu, aku harap setelah hari ini, bahkan harum baumu saja aku tidak ingin menciumnya.'


Rezi menutup buku Neha, seketika nafasnya langsung menyesak dadanya.


Ia terlalu terburu-buru dalam cinta. Ia terlalu tidak sabar dalam menakhlukan hati Neha.


Rezi mengusap wajahnya dengan kasar dan membanting buku Neha diatas kasurnya.


Ia kesal terhadap dirinya sendiri, ia telah membuang sebuah kesempatan hanya karena ia tidak bisa menahan segala rasa itu


Rasa ingin memiliki, rasa takut untuk dibenci dan ditinggali, semua itu membuat Rezi ingin sekali membawa Neha kedalam pelukannya.


Tetapi ia salah, Neha akan lepas jika terlalu didekap. Neha akan pergi jika merasa terlalu sesak. Neha, ia punya ruangnya sendiri yang tidak bisa ditembus.


Tapi Rezi terlalu bodoh untuk menyadari itu. Rezi terlalu tidak sabar untuk menunggu.


Ia menghancurkan segalanya, segalanya yang ia pikir akan mudah. Namun semua hanyalah puingan halus yang tidak berguna.


"Arrrgggg!" Rezi menarik selimutnya dengan kuat, tidak bisa lagi menahan segala kekesalannya ini.


Sean menutup laptopnya saat mendengar teriakan Rezi. Dengan cepat Sean berjalan mendekati kamar Rezi.


Sean mengetuk daun pintu kamar Rezi dan membukanya sedikit. Perlahan Sean datang mendekati Rezi yang sedang terduduk lemas memegangi kepalanya didepan kasur.


Sean menghela nafasanya dan membuka pintu balkon kamar Rezi. Membawa Rezi untuk duduk menenangkan diri di balkon kamar.


Beberapa lama, suasana diantara mereka berdua hanya hening. Sean tak membuka sedikitpun suaranya sebelum Rezi sendiri yang menceritakannya.


Sean menghela nafasnya dan memandang kearah Rezi. Ia tidak tahan lagi jika harus menunggu Rezi bercerita.


"Ada apa Rezi, mau cerita sama Papa?" Tanya Sean lembut.


Rezi hanya terdiam dan menghela nafasnya. Ia belum siap menceritakan apapun sama Sean.


"Jangan takut Rezi, Papa tidak akan memarahimu jika kamu buat masalah," bujuk Sean lembut.


Rezi masih diam, ia sama sekali tidak tahu harus memulai dari mana. Perasaannya sangat kacau saat ini.

__ADS_1


"Nak, jujurlah sedikit, jangan bebani dirimu dengan semua ini. Kamu butuh seseorang buat bersandar, Rezi. sedikit saja, buka dirimu dengan Papa, Nak."


__ADS_2